dunia lain untuk bicara

14 November 2018

Ada Mendung di Langit Jakarta


Jakarta hari ini mendung. Seperti wajah banyak orang di jalanan, yang masing-masing bepergian dengan membawa beban. Paling sederhana, beban yang mereka hadapi adalah jalanan itu sendiri.

Bolehlah kaulirik kiri kanan jalanan. Ada berapa wajah yang menunjukkan gurat cerah di tengah cuaca dan langit yang juga mirip orang gundah. Jangankan wajah mereka di sekeliling, wajahmu sendiri pun mungkin tidak terlalu cerah.

Begitulah Jakarta sehari-hari. Jangankan kita yang terbilang rakyat jelata, mereka di balai kota pun bisa dibilang lebih sering meniru mendung daripada meniru-niru matahari yang berwajah cerah.

Siapa yang benar-benar bahagia? Mungkin hanya anak-anak yang memungut bahagia di gang-gang kecil dengan bola seadanya. Mereka tendang sesukanya. Dari bola yang apa adanya pun mereka masih bisa tertawa.

Mungkin hanya di gang-gang kecil itulah kebahagiaan sebenarnya berada. Sedangkan tawa-tawa di tempat lain lebih banyak berisikan tawa dibuat-buat saja.

Terkadang di balik tawa-tawa orang dewasa, tawa kita, ada banyak hal tersembunyi; pisau yang bisa menikam kapan saja, atau kelicikan yang bisa menghancurkan siapa saja.

Kita yang semakin dewasa ini terkadang semakin mengada-ada saja. Semakin sulit untuk tampil apa adanya. Ketika berhadapan dengan siapa saja, yang berkelebat di benak hanya strategi, taktik, atau bahkan intrik, agar bagaimana tak pernah kalah dalam hal apa saja, meskipun kita salah.

Tak masalah jika salah, terpenting tidak kalah. Itulah yang mengisi kepala-kepala yang membuat wajah-wajah semakin sulit memberikan senyum merekah.

Kebenaran kian diyakini takkan bisa menjamin kemenangan. Maka itu kemenangan dikedepankan, tak masalah apakah sebuah cara itu benar atau salah.

Setidaknya itulah kecenderungan banyak orang di banyak kota besar. Ya, kota besar, di mana pikiran semakin mengecil, dan ketulusan pun turut kian mengecil. Lalu, mungkin hilang.*** (Foto: x.detik.com)

Posting Komentar
Adbox