dunia lain untuk bicara

04 Juli 2018

Kala Piala Dunia Geser ke Simprug

Di Rusia memang masih riuh dengan Piala Dunia 2018. Ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut memang mampu membetot perhatian dari seluruh dunia. Tak heran jika perang pun bisa berhenti setiap kali pesta sepak bola berlangsung. Yang tidak berhenti adalah kemauan kuat untuk ikut bermain, menjajal si kulit bundar, dan mengolah bola di lapangan.

Saya sendiri juga begitu. Meskipun perut mulai meniru bentuk bola (baca: bundar menggemaskan), namun tak mengurangi keinginan untuk dapat menjajal sepak bola lagi, meski olahraga ini terbilang hanya saya jajal sekali dalam satu abad.

Meskipun pernah berprofesi sebagai jurnalis olahraga, namun secara praktiknya hanya rajin saya jalani ketika masih remaja saja. Semakin menua, justru semakin asal-asalan, di saat semestinya semakin serius berolahraga—biar tidak terserang masalah kolesterol dan berbagai macam penyakit.

Syukurlah di tengah seabrek kegiatan, seorang teman di Allianz Indonesia, Rosallyn Tanoyo, mengundang untuk dapat mengikuti sederet kegiatan diadakan perusahaan asuransi tempat bekerja. Ya, mereka kembali mengadakan Allianz Junior Football Camp (AJFC), yang merupakan kegiatan tahunan untuk mengapresiasi talenta sepak bola Tanah Air dari usia dini.

Anak-anak dan remaja yang terlibat dalam kegiatan tersebut mendapatkan kesempatan besar agar talenta mereka miliki dapat terwadahi dengan kompetisi yang bisa dikatakan kelas internasional. Bagaimana tidak, anak-anak yang terpilih dapat menjajal seleksi lagi di tingkat Asia dan mengakhiri di Allianz Arena, Muenchen, Jerman. Menggiurkan, ya?

Ya, saya sendiri juga sempat berkhayal, kenapa acara sebagus ini tidak masif sejak saya masih kanak-kanak, agar semakin termotivasi untuk juga menekuni olahraga dan ... siapa tahu jadi bintang dunia.
Okelah, saya tentu saja tak perlu berlarut-larut dengan melamunkan masa kecil. Toh, masih ada kegembiraan membuncah, karena masih bisa melihat anak-anak sekarang mendapatkan kesempatan tersebut. Setidaknya, mereka juga pantas diharapkan untuk kelak menjadi bintang-bintang di dunia sepak bola.

Peter van Zyl, Presiden Direktur Allianz Utama Indonesia, pun mengungkapkan keyakinan serupa, saat ia berbicara di acara jumpa pers yang diadakan di Bellezza Suite, Permata Hijau, Jakarta, Minggu (1/7/2018). “Sepak bola ini bisa mewakili banyak hal. Dari sisi membuka peluang, maka dari olahraga ini banyak peluang bisa didapatkan oleh anak-anak,” katanya. “Saya sudah melihat bagaimana kegembiraan didapatkan anak-anak dari olahraga ini, selain juga mereka belajar bekerja sama dari olahraga ini.”

Van Zyl sempat bercerita bagaimana ia melihat kegandrungan anak-anak di berbagai belahan dunia. Di matanya, semua anak memiliki peluang yang sama. Namun perhatian dari berbagai pihak, entah orang tua sampai dengan perusahaan yang punya kepedulian atas masa depan anak-anak, menjadi hal penting.

“Itu juga menggugah kami mengadakan AJFC 2018 ini, karena berharap dari sini dapat menjembatani bakat anak-anak, atau membantu mereka menggali bakatnya. Siapa tahu, kelak sepak bola Indonesia pun akan semakin membaik,” kata pria asal Afrika Selatan tersebut.
Pelatih asal Brasil yang telah malang melintang di dunia sepak bola Tanah Air, Jackson Ferreira Tiago, pun turut tampil di acara tersebut. Ia berbagi banyak hal seputar sudut pandang dan pesan-pesan yang memotivasi.

“Tetap ada harapan terlepas bagaimanapun kondisi sepak bola di suatu negara,” kata Jackson, dalam talkshow yang juga dipandu jurnalis olahraga kawakan, Weshley Hutagalung. “Di antara hal penting dari sepak bola adalah pelatih, dan ini terbilang sangat penting. Kenapa? Ketika seorang pelatih sudah memiliki kapasitas dan kapabilitas memadai, maka dari tangannya bisa diharapkan lahirnya bakat-bakat istimewa, selain juga tim-tim yang kompetitif.”

Di sisi lain, Jackson juga mengingatkan agar siapa saja yang ingin sukses dalam sepak bola tak boleh melupakan soal disiplin. “Sebab faktor disiplin menjadi hal paling utama,” kata pelatih yang juga gemar menunjukkan kedisiplinannya dalam berolahraga dan mengunggah di media sosial seperti Instagram.

Kilas AJFC
AJFC adalah ajang yang telah digulirkan sejak tahun 2012, dan menargetkan peserta dengan rentang usia 14 tahun sampai dengan 16 tahun. “Dari tahun ke tahun kami melihat bahwa peminatnya pun semakin meningkat,” kata Karin Zulkarnaen, Head of Market Management PT Allianz Indonesia.
Setidaknya kini telah tercatat 15.356 remaja telah mengikuti program yang diadakan Allianz Indonesia ini, hanya dalam rentang waktu enam tahun. Rata-rata, setiap tahunnya AJFC menerima hingga 2.559 peserta dari berbagai daerah.

Tahun ini, para calon peserta telah menjalani audisi sejak 8 Mei sampai 9 Juni lalu. Proses pendaftaran pun terbilang mudah karena mereka hanya eprlu mengisi formulir dan mengirimkannya secara online. Dari para peserta itu, pihak panitia akan kembali memilahnya dan menerima yang dinilai memenuhi kriteria.

Calon peserta yang lolos mengikuti tes yang diadakan di dua tempat, yakni Medan dan Jakarta. Dari 2.336 yang mendaftar tahun ini, terpilih 405 remaja, yang kemudian menjalani pelatihan khusus untuk memperkuat fisik selain juga melatih kemampuan dasar sepak bola di kota-kota ditunjuk.
Dari 405 remaja itulah dipilih siapa saja yang dinilai meyakinkan untuk lolos ke Asia Camp yang diadakan di Bangkok, Thailand, dari tanggal 16 sampai dengan 19 Juli 2018. Setelahnya barulah dipilih lagi untuk diberangkatkan ke Munich Camp, di Muenchen, Jerman, sepanjang tanggal 27 sampai 31 Agustus 2018.


Lalu ...

Lalu apa hubungan dengan perut saya yang mulai meniru bentuk bola? Ya, saya pun sempat menjajal laga dengan tim Selebritis FC yang berisikan Darius Sinathrya, Judika, sampai dengan legenda sepak bola Nasional, Rocky Putiray.

Sementara saya yang menonjol dengan bentuk perut dibandingkan skill sepak bola ini, berisikan teman-teman blogger nasional seperti Satto Raji, Pilo Poly, Harris Maulana, Bukti, dan beberapa pemain muda jebolan AJFC. Ditambah lagi dukungan beberapa blogger perempuan seperti Yayat, Shita Rahutomo, Riap Windhu, sampai dengan Rahab Ganendra, dan Sigit Budi, yang turut menyemangati dari pinggir lapangan.

Hasilnya, mudah ditebak, tim Blogger FC yang memilih saya sebagai kapten terkena efek bermain sepak bola dengan perut mulai dipenuhi lemak: terpukul 4-1 oleh tim lawan. Tidak apa-apalah, setidaknya masih bisa menunjukkan, dengan nomor punggung 10 yang diberikan kepada saya, masih bisalah saya tampil dan bermain selama 10 menit. Duh, kapten!


Posting Komentar
Adbox