dunia lain untuk bicara

23 Mei 2018

Jangan-jangan Kita Lebih Gila


Dari kecil saya sering bertemu orang-orang yang terlihat rajin membawa nama Tuhan, tetapi dalam hal kelakuan kok lebih mirip setan. Sialnya lagi, sampai dewasa, berkeluarga, dan punya anak pun, orang-orang seperti ini makin tersebar di mana-mana.

Orang-orang begitu saat ini mencuri perhatian dan bahkan mampu memikat banyak orang. Belum lagi berbagai media tak berhenti membicarakan mereka, mengangkat mereka, sampai menjadikan mereka sebagai orang terkenal. Tak kalah sial, orang-orang begini lantas menjadi panutan.

Jutaan orang tertipu. Jutaan orang terkibuli.

Lah, ngapain repot-repot mikirin yang lain tertipu. Toh asal diri sendiri saja tidak tertipu, bukannya sudah cukup? Repot amat!

Ya, memilih ketus begitu rasanya memang lebih aman. Aman dari hujatan, aman dari penghinaan, dan aman dari permusuhan.

Tunggu dulu. Jika Anda meyakini bahwa hidup yang berharga itu ketika seseorang ingin agar orang lain pun bisa mendapatkan hal berharga, maka sepertinya Anda akan mengurungkan sikap ketus.

Ini soal pilihan hidup. Ini tentang bagaimana menghargai hidup. Saya penganut paham bahwa hidup itu berharga ketika seseorang bisa mengabdikan dirinya agar orang-orang pun mendapatkan hal berharga.

Sekadar menerjemahkan hal berharga hanya sekadar uang atau harta, maka pemulung pun, terlepas jumlahnya tetap saja mereka memiliki harta. Pemulung bahkan bisa lebih mulia, karena dalam keterbatasan mereka, terkadang mereka masih mau berbagi hal-hal berharga dengan sekitarnya.

Kita saja yang terkadang terlalu pongah. Merasa cendekia, merasa cerdas, merasa banyak tahu tentang banyak hal, tapi semakin egois saja.

Egoisme seperti itu lantas membuat kita menjadi penakut. Takut bicara, takut berbuat, takut menghabiskan waktu untuk bisa memikirkan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Sialnya, di pihak lain, yang lebih banyak berpikir bagaimana menghancurkan, bagaimana bisa menebarkan kebencian, bagaimana bisa memantik api kemarahan, malah terlihat lebih berani dan makin menguatkan diri.

Di media sosial saja, orang-orang yang rajin memaki dan menghasut bisa terlihat lebih berani dan tidak mengenal henti menebarkan hasutan dan makian. Api kemarahan merembet ke mana-mana. Sekali lagi, sial, mereka bahkan menganggap itu sebagai sikap yang suci, karena meyakini yang dilakukan semata-mata demi Tuhan.

Entah Tuhan seperti apa disembah yang memiliki kegandrungan sepicik itu.Entah.

Mereka rajin menyebut Tuhan Mahasuci, dan merasa diri mereka paling suci, tapi apa yang gandrung mereka perlihatkan nyaris tak terlihat jejak-jejak kesucian. Bahkan sekadar pikiran saja, acap sarat kebencian dan kedengkian, tapi bisa-bisanya mengklaim sebagai pembela Yang Mahasuci.

Gila. Menentang mereka akan dicap sebagai orang gila, karena kita memilih tak ingin ikut gila seperti mereka.

Entah karena itu, sebagian lainnya yang mengetahui adanya orang gila yang gemar mencap orang lain sebagai orang gila, acap memilih tak ingin pusing. "Ngapain ngurus mereka?"

Walhasil, kegilaan makin merajalela, dan kewarasan semakin langka. Bukan salah mereka sepenuhnya, sebab pilihan kita yang lebih sering merasa nyaman dengan jalan aman, juga sudah membantu dunia makin gila saja.* (Sumber Foto: Firtstest)


Posting Komentar
Adbox