dunia lain untuk bicara

11 Maret 2018

Mewaspadai Pedagang Agama di Tahun Politik


Jika membaca rekam jejak semua partai politik yang ada, dapat dikatakan tak ada yang sepenuhnya bersih dari perilaku buruk mereka sebagai manusia. Di sana ada ketamakan, ada kelicikan, sampai dengan kegandrungan menghalalkan segala cara. Tak terkecuali partai yang sukses mencitrakan diri sebagai partai agama, pun tidak sukses untuk membuktikan bahwa mereka mampu lebih bersih dalam berpolitik.
Apakah dengan keberadaan beberapa partai yang berangkat dari nama agama, lalu membuat mereka bisa bebas dari korupsi? Sejauh ini terbukti tidak. Lantas apakah yang membedakan mereka dibandingkan partai politik yang menolak menyeret-nyeret agama untuk kepentingan politik? Dapat dikatakan tidak ada.
Menariknya, terlepas hampir semua yang mencermati perkembangan tren politik dan tren dalam berpolitik menyadari fakta itu, namun memang masih terlalu banyak yang sulit untuk jujur, bahkan untuk jujur pada diri sendiri.
Buktinya, seperti dinamika antara partai politik yang berangkat dari label agama dengan yang bukan, meskipun akhirnya terbilang sama saja namun selalu ada dalih dan kilah. Ada kesan dimunculkan, kalau Anda memilih partai politik yang ada bau-bau agama, maka kalaupun Anda tetap bernasib sama saja jika partai itu menang, paling tidak Anda memiliki peluang untuk disayangi Tuhan.
Seperti itulah kegandrungan yang muncul. Maka itu, banyak yang akhirnya menolak melihat dan berpikir jernih, bahwa mau seagamis apa pun sebuah partai politik, tetaplah di sana hanya diisi manusia yang tak selalu mampu membendung godaan untuk korupsi, berkhianat, atau bahkan menyakiti rakyat.
Kenapa kegandrungan membawa nama agama tetap masih akan dilakukan? Tak lain karena sejauh ini, jurus berpolitik paling gampang sejatinya hanya ketika mereka berhasil mengidentikkan diri dengan suatu agama. Sebab jika citra itu sudah berhasil, maka kala ada yang menentang mereka, dengan gampang pula divonis sebagai pembenci agama, pembenci ulama, atau jauh dari Tuhan.
Bagi pemeluk agama level polos, divonis jauh dari Tuhan dan dianggap melawan ulama menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Alhasil, yang mereka kejar adalah bagaimana terlihat dekat dengan Tuhan dan seolah paling dekat dengan ulama. Soal sejauh mana kebaikan diusung seorang ulama mampu mereka alirkan dalam sikap sehari-hari, lantas menjadi hal tak penting lagi.
Anda bisa menelusuri rekam jejak akun-akun media sosial yang mengafiliasikan diri ke partai politik yang berlatar agama. Silakan Anda simak bagaimana cara mereka dalam berkomunikasi, dalam mengkritik, maka dengan mudah Anda menemukan fakta bahwa terkadang yang enggan membawa nama agama jauh lebih elegan dan lebih baik dalam berkomunikasi.
Yang salah di situ tentu saja bukan mereka. Sebab mereka hanya berusaha menerjemahkan apa yang diinginkan oleh figur-figur yang mereka ikuti. Ada semacam kebanggaan jika dengan sepak terjang lantas mereka mendapatkan apresiasi berupa sanjungan sebagai pengikut militan dan gigih membela agama. 
Padahal, kalau saja bersedia untuk jujur, membela agama dengan membela partai politik itu jelas berbeda. Membela agama tak menuntut mesti bertabur simbol-simbol. Rajin berbagi kebaikan kepada siapa saja, kepada penganut agama apa saja, justru lebih dapat dikatakan membela agama. 
Sayangnya dengan kekuatan dan kelihaian mereka yang paham bagaimana menangguk keuntungan dari menjual agama, membela agama justru diukur dari sejauh mana para pengikut dalam membela mereka dan kepentingan mereka. Jika dianggap bertentangan, maka vonis sebagai pengkhianat agama pun dengan gampang dijatuhkan.
Nah, tren itu masih berlanjut dan masih saja terjadi. Teranyar, saat saya mengkritik salah seorang figur publik dari salah satu partai di Twitter, ada banyak pengikut figur tersebut langsung bermain hakim dengan memvonis bahwa si pulan membenci Islam, membenci ulama, dan semacamnya.
Vonis-vonis itu terlalu menakutkan bagi  sebagian orang. Sebab dengan vonis begitu dikhawatirkan akan menjadi penyebab datangnya berbagai keburukan; entah kehilangan pekerjaan atau bahkan berbagai hal yang tak diinginkan. Sialnya, menyebar hoax dan hujatan terhadap yang berbeda justru dianggap sebagai hal yang disenangi Tuhan, dan itu justru diyakini akan diganjar pahala oleh Tuhan.
Sekelompok orang masih rajin menebar ketakutan itu, sebab dari sanalah mereka  leluasa bekerja tanpa perlu dirisaukan dengan kritikan. Pengikut mereka hampir takkan ada yang berani mengkritik, karena mereka sudah lebih dulu ketakutan dicap kafir, penista ulama, dan semacamnya.
Sejatinya itulah yang paling rentan membawa risiko buruk. Sebab seorang figur setangguh apa saja, sebuah partai seagamis apa pun, tetap tak bisa lepas dari fakta bahwa di sana tetaplah diisi oleh manusia. Sementara manusia hampir semua memiliki potensi melakukan keburukan; korupsi, menzalimi, menyakiti, mengkhianati. Jika pintu kritik ditutup, maka bukan tak mungkin hanya membuat potensi buruk itu berpeluang makin membesar.
Jadi, di tahun politik, di antara banyak hal yang diperlukan adalah membebaskan diri sendiri dari dikte-dikte yang membuat pikiran tak bisa melihat jernih. Sebab di dunia politik pun banyak sekali penjahat yang siap mengenakan pakaian apa saja, tak terkecuali mengenakan jubah-jubah agama.





Posting Komentar
Adbox