dunia lain untuk bicara

20 Februari 2018

Membangun Solidaritas Pangan antara Desa dan Kota (1)


Tulisan ini akan  mengajak para pembaca untuk berandai-andai dulu. Andai-andai  ini masih berkaitan dengan bahan pangan yang dalam beberapa waktu yang lalu menjadi obrolan menarik oleh semua lapisan masyarakat sampai ke kampung-kampung.

Seandainya saja lebih kurang 74.000 desa yang ada di Indonesia ini menghentikan pasokan bahan pangannya ke kota. Apa kira-kira yang akan terjadi di kota-kota? Hal-hal yang mungkin terjadi adalah ketersediaan pangan di kota akan terganggu. Kalaupun ada harganya akan merangkak naik bahkan bisa melampaui gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Artinya syukur masih ada walaupun mahal. Dan ujung-ujung dari kelangkaaan pangan itu berakibat pada kelaparan.

Nah bagaimana dengan desa-desa yang menghentikan pasokan pangannya tadi. Mereka tetap merdeka dengan kelimpahan pangan. Tidak ada rasa kuatir akan kelangkaan pangan, karena setiap sudut dari wilayahnya memproduksi pangan. Ada kolam ikan, kandang yang selalu menghasilkan pangan hewani, kebun sayuran dan sawah yang selalu menghasilkan beras untuk dimasak setiap hari. Semua pangan tersebut akan terhidang dengan manisnya di atas selembar tikar dan akan dinikmati bersama semua anggota keluarga (mengingatkan saya pada masa kanak-kanak dahulu).


Sumber : kabar24.bisnis.com

Berandai-andai lagi. Dengan kondisi demikian apa yang akan dilakukan penduduk kota? Kemungkinan lagi lho. Para penduduk kota akan mengimport beras dari wilayah lain (baca : negara lain). Penduduk kota itu rata-rata berstrata sosial kelas menengah ke atas. Jadi secara finansial tidak masalah untuk membeli bahan pangan import, bahkan bisa dengan kualitas khusus lagi.

Kalau di desa bagaimana? Mereka tetap merdeka dengan kelimpahan pangannnya. Bahkan sebagai wujud rasa syukurnya kepada Sang Pencipta  atas hasil yang berlimpah. Mereka membuat pesta rakyat secara kolektif. Terkesan boros, ya tidak juga karena itu dilakukan juga satu tahun sekali, pada pesta panen saja.

Kalau mengandalkan pasokan pangan dari luar negeri, kira-kira apa kemungkinan yang terjadi bagi warga kota? Kemungkinan yang akan terjadi, urusan ‘kampung tengah’ ini akan diatur oleh luar negeri pula. Misalnya mulai dari harga (ini sudah pasti). Namanya dagang ya pasti cari untunglah. Kualitas dan tentunya juga kuantitas. Kalau sudah diatur dari luar berarti masyarakat kota tidak berdaulat lagi atas pangannya sendiri. Biarpun mereka mempunyai ber-trilyun-an uang dari hasil kumpulan semua masyarakat kota untuk bisa mendapatkan pangan. Dengan kondisi yang sangat ketergantugan akan pasokan dari luar akan membuat semakin lemah dari posisi tawarnya. Dan pertanyaannya sampai kapan masyarakat kota akan kuat untuk terus membeli dari luar?
Untuk pertanyaan yang terakhir ini memang agak sulit pertanyaannya. Tapi akan dicoba untuk menjawab oleh penulis atau mungkin bisa juga jawabannya dari komentar para pembaca. Selamat membaca.


**Salam
Posting Komentar
Adbox