dunia lain untuk bicara

09 Januari 2018

Taman Eden Dulu dan Sekarang

Apa yang akan diingat bila seseorang bertanya tentang “Taman Eden”? Mungkin yang akan teringat pertama adalah tentang keindahan dan segala isi  taman tersebut. Yang kedua pastinya  tentang dua manusia pertama di dunia ( Adam dan Hawa) yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Pendek kata kalau berbicara tentang Taman Eden pasti juga akan mengikutsertakan Adam dan Hawa dan kisah manusia masuk dalam jebakan sang ular.

Ilustrasi Taman Eden. Sumber foto : online library - JW.org
Dari paragraph di atas akan dilanjutkan tentang manusianya. Kedua manusia (Adam dan Hawa) ini diberikan kewenangan oleh Tuhan untuk mengelola dan memanfaatkan Taman Eden dan seluruh isi yang ada di dalamnya. Ada hewan dan tanaman yang bisa digunakan untuk kebutuhan pangan. Air yang selalu mengalir untuk mengairi taman dan juga untuk kehidupan mereka manusia. Rahmat yang sangat berkelimpahan yang diberikan oleh Tuhan. Namun oleh Sang Pencipta, Adam dan Hawa hanya dilarang untuk memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Hanya itu saja perintah dan larangan dari Tuhan terhadap mereka.

Kalau dibayangkan betapa sejahteranya Adam dan Hawa tinggal di Taman Eden saat itu. Mereka tidak menanam dan tidak menabur mereka menuai semua yang dihasilkan seluruh isi Taman Eden tersebut.

Namun pada suatu hari kemerdekaan itu terenggut karena Adam dan Hawa melanggar perintah dan larangan dari Tuhan. Mereka digoda oleh sang ular untuk memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat tersebut dan dari situ kejatuhan manusia ke dalam keserakahan dan nafsu.
Narasi di atas menggambarkan bahwa betapa merdekanya Adam dan Hawa ketika di Taman Eden. Apa yang mereka butuhkan tersedia. Namun karena nafsu untuk memiliki (baca : makan) yang buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat manusia Adam dan Hawa menjadi terlempar ke dalam dunia yang sama kita tinggali sekarang ini.

Keserakahan dan nafsu menjadi kata kunci kejadian di atas. Manusia Adam dan Hawa tidak kekurangan akan sesuatu di Taman Eden. Mereka berkuasa atas apa yang ada di taman itu. Namun ternyata itupun ternyata tidak cukup dan akhirnya Mereka melanggar juga perintah dan larangan dari Tuhan. 

Taman Eden itupun saat ini masih hadir di tengah-tengah kita. Dengan rupa-rupa yang berbeda. Dan nafsu yang terjadi di Taman Eden turun-temurun terjadi kepada manusia sampai sekarang. Di mana manusia akan selalu merasa akan kurang dan kurang terus.  Contoh kecil yang dapat dilihat sekarang ini adalah maraknya korupsi oleh para pejabat di negara ini. Kalau diperhatikan stratifikasi sosial mereka pasti rata-rata kelas menengah ke atas dan tentunya punya kuasa dan sejahtera. Namun kenyataannya mereka-mereka inilah yang kebanyakan melakukan korupsi/makan uang negara yang sebenarnya dan jelas-jelas bukan menjadi hak mereka. Mereka tidak peduli siapa yang nantinya akan terkena dampak dari prilaku tersebut. Memakan yang bukan hak mereka menjadi trend dan mungkin suatu saat nanti karena dilakukan berulang-ulang maka akan menjadi watak.

Sebenarnya bukan hanya korupsi saja yang menjadi praktek dari nafsu itu, masih banyak lagi praktek lain. Pungli, pembalakan hutan, penyinggiran masyarakat adat dari habitusnya. Praktek-praktek nafsu itu yang selalu membuat orang-orang kecil semakin tersingkir bahkan semakin tidak memanusiakan mereka dalam kehidupannya.

Apakah kemudian praktek-praktek ini semakin membuat tidak karuan dunia ini? Mari merefleksikan bersama untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, yang lebih manusiawi dan lebih peduli pada sesama.


Salam***
Posting Komentar
Adbox