dunia lain untuk bicara

11 Januari 2018

Cerita Penyembuhan Kusta di Lembata


Kusta selain merupakan penyakit, dampak lain yang muncul adalah bahwa kusta merupakan stigma buruk yang diberikan kepada penderita penyakit tersebut. Akibatnya penderita dari penyakit kusta ini akan mengalami penderitaan karena sakit dan sekaligus penderitaan akan diisolasi dan termarginalkan dari masyarakat yang ada sekitarnya. Hal-hal ini yang kemudian membuat para penderita kusta semakin mengalami kehilangan kepercayaan diri sehingga tercerabut dari komunitasnya.

Namun di Lembata, salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) para penderita kusta ini mendapat perhatian dari beberapa pemerhati kusta khususnya LPTK (Lembaga Pskilogi Terapan Kupang) yang telah mendampingi beberapa penderita penyakit kusta hingga sembuh.

Menurut LPTK Penyakit kusta ini muncul karena daya tahan tubuh (Imun) penderita lemah. Maka diperlukan suatu jalan untuk menaikan dan memperkuat daya tahan tubuh penderita dan tak kalah pentingnya adalah memperkuat factor-faktor yang mendukung semakin meningkatnya daya tahan tubuh.

Untuk tujuan menaikan dan memperkuat daya tahan tubuh tersebut pada kasus penderita kusta di Lembata, LPTK membuat beberapa pendekatan terhadap para penderita kusta tersebut. Pertama adalah pendekatan lewat mengontrol makanan. Oleh karena tubuh manusia adalah unik maka tubuh juga memerlukan asupan makanan yang sesuai dengan keunikan tubuh manusia tersebut. Untuk memenuhi asupan makanan tersebut maka kepada penderita diberikan makanan lokal yang ada di sekitar wilayah tersebut. Dan tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan pabrik. Konsumsi makanan pabrik akan melemahkan kembali daya tahan tubuh penderita kusta.

Pendekatan kedua yang dilakukan untuk memperkuat daya tahan tubuh adalah membangun kesehatan jiwa daripada si penderita kusta. Pendekatan ini dilakukan dengan tersenyum, bersuka cita, tidak marah, tidak mendendam dengan sesama yang berada di sekitar penderita kusta. Dengan lingkungannya para penderita kusta melakukan aktivitas sehari-hari pada kebun mereka dengan menanam tanaman lokal yang nantinya akan mereka konsumsi sendiri. Mereka juga membuat pupuk alami buat tanamannya sendiri yang bahannya diambil dari sekitarnya. Dan terakhir adalah dengan Tuhan, para penderita kusta diharapkan semakin membuat kebaikan dan mengikuti tuntunan yang diberikan oleh agama masing-masing. Pendekatan yang kedua ini merupakan tindakan dimana penderita kusta diarahkan untuk membangun relasi yang lebih baik dengan sesamanya, dengan lingkungan (bumi) dan yang terakhir adalah dengan Tuhan Yang Maha Esa. Penderita kusta yang menerapkan kedua pendekatan ini mengalami kesembuhan.

Berdasarkan pengalaman di atas pandangan tentang penyakit kusta menjadi lebih tercerahkan. Bahwa kusta itu bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan juga tidak akan menimbulkan stigma kepada penderitanya. Namun akan memunculkan pandangan bahwa bagaimana memberi perhatian dan hati kepada penderita sehingga mereka akan sembuh dan tetap bersemangat untuk menjalani kehidupannya.

Salam***

Penulis pernah mengikut seminar nasional penyembuhan kusta yang diselenggarakan oleh Lembaga Psikologi Terapan Kupang (LPTK), Komisi Keadilan dan Perdamaian, Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan, Komisi Keluarga KWI di Jakarta.
Posting Komentar
Adbox