dunia lain untuk bicara

15 Desember 2017

SUMUR TUA WONOCOLO

(Salah satu sumur tua yang sedang dieksplorasi. Foto : John Pluto Sinulingga)
Wonocolo sepertinya terdengar agak asing. Wilayah ini berada di Kecamatan Kedewan, tepat di ujung sebelah barat Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Topografi yang berbukit dan sedikit kering. Dan merupakan salah satu habitat  pohon jati sepanjang mata memandang yang dikelola oleh Perhutani. Selain wilayah sumur tua Wonocolo dan kayu jati saat ini masyarakat juga banyak menanam tanaman lainnya di luar kawasan Perhutani.

Memasuki Wonocolo akan banyak menemui titik-titik eksplorasi minyak bumi yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat setempat. Di sekitar tempat eksplorasi ada gubuk-gubuk dan drum-drum minyak yang berwarna hitam pekat. Kolam-kolam penampungan minyak sementara bersanding kerekan pengeboran yang dirakit dengan mesin mobil. Piramida-piramida dari jati tempat kerekan akan digantung dan ada juga yang sudah modern terbuat dari logam besi bulat. Ini yang membuat Wonocolo ini kemudian menjadi terkenal karena eksplorasi minyak bumi dan kemudian oleh Pertamina dan Pemda Kabupaten Bojonegoro mendesain wilayah tersebut menjadi salah satu kawasan wisata ekplorasi minyak.

Sumur-sumur minyak Wonocolo ini awalnya dieksplorasi oleh Kolonial Belanda. Ini dapat terlihat dari banyaknya alat pengeboran minyak yang masih menggunakan mesin peninggalan Belanda dengan merk Thommassen BF. Setelah Belanda keluar dari Indonesia kemudian masyarakat melakukan eksplorasi secara tradisional sampai sekarang. Saat ini wilayah eksplorasi itu masuk wilayah kerja Pertamina EP Asset IV Field Cepu.

(Alat pengeboran minyak peninggalan Belanda. Foto : John Pluto Sinulingga)
Dari beberapa cerita warga sekitar Wonocolo. Eksplorasi yang dilakukan oleh masyarakat dengan modal swadaya. Ada 10 sampai 15 orang yang patungan uang untuk membuka sumur minyak yang dianggap memiliki sumber minyak. Besaran uangnya tergantung kemampuan masing-masing, namun biasanya disamaratakan. Kalau sepakat 5 juta persorang, berarti semua yang tergabung dalam group tersebut harus mengluarkan modal 5 juta. Siapa yang nantinya akan melakukan tahapan awal sampai pengeboran? Mereka-mereka juga yang tergabung dalam group tersebut yang akan bekerja melakukan pengeboran. Jadi tidak ada istilah diburuhkan kepada orang lain.


Ada juga yang mengatakan bahwa ini eksplorasi sumur minyak ini seperti berjudi. Kalau sumur ada minyaknya merupakan rejeki bagi group tersebut. Namun terkadang ada juga sialnya, sumur yang diharapkan menjadi sumber rejeki ternyata tidak ada minyak sama sekali sehingga hangus modal yang sudah ditanam. Demikian juga apabila sumur tersebut kandungan minyaknya hanya sedikit, sehingga dalam waktu singkat tidak bisa dieksplorasi. Berarti harus hitung-hitungan lagi berapa modal yang dikeluarkan dan berapa pemasukan yang telah diterima. Apabila balik modal ya alhamdullilah tapi rugi tenaga dan waktu. Apabila tidak balik modal ya rugi uang dan tenaga, apesnya yang dapat. Namun ini realitas yang sering ditemui oleh masyarakat Wonocolo. Untung dan rugi itu sepertinya selalu ada berdampingan.

(Areal penampung minyak sementara. Foto : John Pluto Sinulingga)



Posting Komentar
Adbox