dunia lain untuk bicara

14 Desember 2017

SEJATINYA PETANI ADALAH PENJAGA ALAM

Sosok laki-laki yang tegap dan kuat itu bernama Satria dan teman-temannya selalu memanggilnya SBH (Satria Baja Hitam). Bapak Satria berasal dari Desa Bauhondo, Kecamatan Bunta, Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah. Profesi sehari-harinya adalah petani sawah dan jagung. Seorang petani yang ulet tapi masih tergantung dengan input-input dari pabrik.

Sekitar September 2017 yang lalu, oleh seorang temannya,  Bapak Satria ini diperkenalkan dengan pertanian alami di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Inilah perjumpaan pertama beliau dengan pertanian alami dalam kegiatan pendidikan pertanian alami. Di sini si Bapak banyak mendengarkan dan bertanya tentang pertanian alami itu seperti apa sebenarnya. Dia mengganggap ini barang baru dan asing sekali. Ini dikarenakan Pak Satria selalu mengandalkan pupuk dan obat tanaman yang diproduksi oleh pabrik dengan memakai bahan kimiawi. Setiap musim tanam akan mulai dia pasti akan berurusan dengan toko pertanian yang ada di desa untuk membeli input untuk padi dan jagungnya. Itupun kalau ada uang bila tidak maka hutang dulu nanti setelah panen baru bayar (yarnen). Setelah mengikuti proses pendidikan menghadirkan rasa penasaran dalam dirinya. Dia bertekad setelah tiba di kampung akan mempraktekkan atau lebih tepatnya melakukan uji coba pola bercocok tanam pertanian alami di sawah dan kebunnya.

Sumber foto : Berita Jogya
Sekitar awal Desember 2017 kemarin, ketika ada kegiatan yang sama di Kabupaten Sigi. Dia bercerita sangat antusias kepada teman-temannya tentang proses bercocok tanaman yang sudah dilakukan di sawah dan kebunnya. Pak Satria bercerita bahwa dia sudah memiliki 13 macam nutrisi tanaman dan pupuk untuk mengantikan input-input kimiawi. Saat ini dia sedang mencoba pada sawahnya dengan luas 30 are dan ujicoba juga di kebun jagungnya. Walaupun dia belum melakukan pertanian alami di seluruh petak sawah dan kebunnya namun tampak rasa bangga dari wajahnya ketika mencerita tentang praktek pertanian alami. Bapak Satria berkata :”Pelan-pelan saja dulu, tahap demi tahap, saya punya tanah itu lagi sakit dan butuh penyembuhan dan penyembuhannya butuh waktu yang lama dan kesabaran juga.”

Pak Satria sedikit menceritakan tentang perenungannya setelah mulai praktek pertanian alami ini. Dia berkata :”Saya dengan gampangnya mengeluarkan ratusan ribu untuk membeli racun-racun rumput dan sangat pasti juga memperkaya pemilik pabrik tapi saya sangat sulit sekali untuk mengeluarkan ratusan ribu untuk teman-teman petani yang mau membersihkan rumput di sawah ataupun kebun saya.”

Renungan itu mau mengatakan bahwa racun-racun yang pastinya merusak lingkungan dan ekosistem, selalu ada rela untuk membeli dengan harga mahal sekalipun. Tapi bila mengeluarkan untuk membantu orang lain (memberi upah) sangat sulit untuk mengeluarkan uang.

Dari perenungan itu Pak Satria tidak lagi membeli racun rumput untuk gulma-gulma yang ada di kebun atau sawahnya. Sekarang dia mengundang teman-teman petani di sekitar rumahnya untuk membersihkan gulma tersebut. Besaran uang yang dikeluarkan sama. Tapi ada dua keuntungannya menurut Pak Satria :”Saya bisa membantu teman-teman petani dan juga mengurangi daya rusak racun-racun itu terhadap ekosistem dan lingkungan”

Salam***
Posting Komentar
Adbox