dunia lain untuk bicara

30 Desember 2017

Saat Tuhan Turun ke Pasar

Di sini, dari sekian banyak dagangan, agama menjadi salah satu yang paling sering menjadi dagangan. Diobral murah, namun penjual bisa mendapatkan segalanya; simpati, reputasi, uang, pujian, dan segenap hal-hal surgawi jauh sebelum disidang oleh Tuhan atas pantas tidaknya ia mendapatkan surga sebenarnya yang konon harus menunggu kiamat lebih dulu.

Di negeri ini, agama direndahkan seraya meneriakkan nama Tuhan kencang-kencang, memekakkan telinga, tapi jarang menyentuh nurani. Hingga yang merendahkan agama tadi mampu bikin sekian banyak orang tertipu, sampai memujinya sebagai orang paling rajin menyebut nama Tuhan, dan paling dekat dengan Tuhan. Padahal sebegitu jauh Tuhan dari mereka. Dari kita juga.

Ya, kita sebut "kita" saja. Kita melamunkan kedekatan dengan Tuhan hanya lewat keramaian yang bahkan lebih sesak dari pasar-pasar. Semakin pasar ramai, kita berkhayal bahwa Tuhan semakin senang. Lalu kita bahkan melecehkan-Nya, dengan membayangkannya hanya sebagai pemilik sebuah toko yang gundah ketika sepi pengunjung, dan gembira besar ketika dipadati para pembeli.

Di situlah mereka rajin berjualan, memperdagangkan barang yang rajin mereka pajang di mana-mana, untuk menyenangkan Tuhan. Ya, Tuhan ditempatkan sebagai sosok paling butuh hal-hal menyenangkan.

Sekali lagi, bukan mereka, sebab mereka dimaksud itu tadi adalah kita. kita berdagang untuk impian kesenangan, karena keyakinan, jika mampu menyenangkan pemilik toko maka dia pastilah akan membalas menyenangkan kita lagi. Jadi hubungan kita dengan Tuhan hanya berlandaskan simbiosis mutualisme dan kesamaan kesukaan; suka segala hal menyenangkan.

Lalu, pengabdian kepada pemilik toko bukan sepenuhnya lagi untuk si pemilik itu sendiri, kita hanya mengabdi dengan kesan sepenuh hati meski di dalam hati berkelebat berbagai hasrat yang sepenuhnya untuk diri sendiri. Soal apakah orang lain juga senang, itu bukan hal penting, karena merasa bahwa kesenangan kita sendiri sajalah yang paling penting.

Kita terus berjualan. Terkadang di toko-toko berbentuk panggung dan lengkap dengan pengeras suara. Membahana suara ke mana-mana, tapi nurani sepi tak mendengarnya sama sekali.

Kita merasa inilah yang paling disenangi pemilik toko tadi; terlihat rajin berteriak, terlihat paling aktif berjualan, dan merasa bukan masalah kalaupun harus merugikan siapa saja yang mendekat dan membeli dagangan tadi.

Terkadang barang-barang murah yang sejatinya tak berharga kita lebih-lebihkan sajalah. Demi mendapatkan keuntungan lebih. Soal bahwa pembeli sebenarnya sangat rugi telah membeli barang yang sebenarnya murah, bukan urusan kita lagi. "Barang yang telah dibeli tak dapat ditukar kembali."

Lalu, dari sanalah banyak orang rugi, sementara pemilik toko kita yakini akan sangat senang dengan cara berdagang begini. Dari sanalah kita makin terbiasa menzalimi, hanya karena merasa, oh ternyata memang jauh lebih banyak untung dengan cara begini. Urusan orang rugi, itu urusan mereka sendiri. Sementara urusan kita hanya membuat siapa saja bersedia menjadi pembeli.

Sial sekali bagi orang-orang asing yang tak terkenal terlalu lancang menunjukkan kepada pembeli, eh Anda ini sedang dikibuli. Sial bagi orang itu, karena kita mampu membuat pembeli justru melempari yang mengingatkan tadi. Kita membuat mereka rugi, tapi mereka bahkan rela membela kita setengah mati.

Jadi, inilah pasar kita. Ini soal untung rugi. Untuk kita yang menguntungkan, dan biar mereka saja yang merugi. Sebab beginilah pasar, terkadang untuk mendapatkan pembeli harus dengan cara mengibuli, dan kemampuan berhitung untung rugi tak ada pada mereka, hanya pada kita. Kita tahu mereka pembeli yang merugi, tapi kita meyakinkan diri bahwa kita bukan guru matematika di pasar untuk mengajarkan mereka untung rugi. Kita hanya fokus pada begaimana memetik untung, tanpa peduli soal mereka yang datang justru rugi. Soal rugi itu sendiri biar menjadi urusan mereka sendiri. Toh, pemilik toko pastilah gembira sekali.

Lalu, Tuhan duduk di sudut toko, sesekali mengitari pasar, dan melihat kita dengan manggut-manggut dan mengakui bahwa kita lihai sekali. Kira-kira begitulah kita berhubungan dengan Tuhan di pasar tadi.*

Posting Komentar
Adbox