dunia lain untuk bicara

18 Desember 2017

PERLU MASYARAKAT YANG KRITIS


Sumber : Indonesia Viral News
Hari ini koran Tempo (tanggal 18 Desember 2017, halaman 28) membuat judul “DKI tak sediakan modal usaha OK OCE.” Apa kira-kira reaksi para pembaca tentang berita tersebut? Ada yang sambil lalu saja. Ada mungkin berkata :”Sudah biasa.” Ada juga yang reaksinya jengkel karena berpikir dengan program Pemda DKI akan menggelontorkan fresh money bagi mereka yang ingin berusaha. Ada juga yang langsung lemas hehehehe. Tapi semua di atas reaksi itu kemungkinan, belum pasti.

Tapi sebenarnya berita ini cukup berarti bagi masyarakat ibukota Jakarta karena penjelasan baru saat ini terdengar dan langsung disampaikan oleh sang pencetus Bapak Wagub Sandiaga Uno. Padahal waktu kampanye pilkada kemarin hal siapa nanti yang akan memberikan modal itu tidak pernah jelaskan. Namun karena yang berbicara tentang program adalah cagub dan wagub maka orang akan mengira apabila mereka menang pasti akan digelontorkan oleh Pemda DKI. Padahal dari program ini dijanjikan akan membuka lapangan kerja dan melahirkan sekitar 200 ribu pengusaha baru.

Program OK OCE sendiri pada saat kampanye tempo hari merumuskan bahwa ada 5 fokus  yang akan dilakukan antara lain : 1) pemberian modal dan pendampingan usaha. 2) pelatihan oleh pengusaha sukses. 3) garansi inovasi bekerjasama dengan pihak swasta. 4) Lulusan SMK dapat langsung kerja. 5) kredit khusus untuk ibu-ibu (sumber : http://suarajakarta.co/news/pemilu/apa-itu-program-ok-oce-anies-sandi-ini-penjelasannya/). Dari rumusan point 1 itu tidak dijelaskan siapa yang akan memberikan modal. Apakah Pemda DKI atau pihak lain? Namun itu adalah janji dari para cagub dan wagub kala itu. Apakah warga Jakarta terbuai dengan janji itu? Belum tahu jawabannya ya atau tidak tapi realitas menyatakan bahwa pasangan tersebut memenangkan pilkada tersebut. Bisa jadi buai itu ternyata telah menghilangkan daya kritis masyarakat dalam menanggapi sebuah janji yang dilontarkan calon penguasa. Karena sering disosialisasikan lewat corong-corong media. Kemudian jadi melekat dipikiran.

Di satu sisi penguasa seakan-akan gampang sekali untuk melontarkan pernyataan pada saat akan mencari simpati rakyat dan demikian juga ketika sudah mencapai tujuannya yaitu menjadi penguasa. Jani-janji seakan gampang dihambur tanpa peduli apakah nantinya dapat dilaksanakan atau tidak yang penting menang dululah.

Dari pengalaman ini diharapkan masyarakat dapat lebih kritis dalam menyikapi setiap pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh para calon penguasa/pemimpin nantinya. Khususnya saat menghadapi pilkada serentak tahun 2018. Jangan terbuai dengan janji manis apalagi disuguhi dengan hiburan, amplop dan kaus selembar. Rakyat harus kritis dalam melihat fenomena yang dilakukan oleh para calon sehingga tidak mudah termakan bualan yang hanya mengenyangkan telinga.
Diakhir, mudah-mudahan program OK OCE ini dapat berjalan lancar sesuai dengan apa yang dipikirkan di awal ketika ini dikumandangkan ke masyarakat. Sehingga tidak lagi membuat kecewa.


Salam***
Posting Komentar
Adbox