dunia lain untuk bicara

21 Desember 2017

KATANYA DEMOKRATIS KOK NGANCAM


Sumber foto : Parstoday.com
Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang Yerusalem sebagai ibu kota Israel sepertinya masih dan akan terus berlanjut. Banyak kalangan di seluruh dunia yang menolak keputusan tersebut. Keputusan ini sebenarnya merepotkan banyak pihak termasuk salah satu badan dunia yaitu PBB. Majelis Umum PBB mengajukan resolusi tentang Yerusalem. Namun resolusi itu sepertinya mengalami penolakan dari banyak pihak yang pro kepada Presiden Amerika Serikat, sehingga belum ada keputusan yang final tentang resolusi tersebut.

Sampai-sampai Duta Besar Amerika Serikat di PBB mengeluarkan ancaman akan mencatat negara-negara yang mendukung resolusi tersebut dan melaporkannya pada Presiden Donald Trump.
Kelihatannya Amerika sudah habis nalarnya sampai mengeluarkan ancaman kepada negara-negara di PBB yang sebenarnya mereka punya kedaulatan sendiri untuk menentukan pilihan tanpa harus mengikuti kemaunya Amerika. Semua negara bebas memilih sesuai dengan kebijakan dari negara mereka masing-masing dan tentu itu representative dari rakyat negara tersebut.

Semua mengakui bahwa Amerika Serikat adalah negara super power dengan kemajuan yang dimilikinya. Dan katanya pula negara paling demokratis lho. Selalu bisa mengakui perbedaan pendapat, ide dan gagasan dan lain-lain. Intinya yang ideal kali ya. Tapi kalau sudah ancam-mengancam apakah itu demokratis? Coba nanti kita tanya sama Paman Sam jawabannya.

Biasanya ancam-mengancam itu tindakan anak kecil yang ketika kemaunya tidak terwujud kemudian mengancam akan tidak makan, tidak tidur siang dan lain-lain. Namun bila Amerika Serikat disetarakan dengan anak kecil pasti mereka tidak terima. Selama ini mereka menggangap diri mereka bisa menjadi rujukan dari berbagai negara di dunia dalam hal apa saja. Kalau sudah menjadi rujukan berarti umurnya sudah dewasa. Kalau tidak mau disebut dewasa berarti sepuh. Dengan asumsi bahwa sepuh itu sudah mencapai tingkat yang bijaksana. Tapi ini ternyata masih jauh sekali dari kata dewasa dan sepuh.

Bagi negara-negara yang tergabung dalam PBB hadapi santai dan sepi saja ancaman itu. Anggap seperti kentut yang keluar dan mengisi ruang penciuman dengan baunya yang menyengat dan nanti akan hilang seiring hembusan angin sepoi-sepoi. Hubungan yang selama ini terbangun tidak akan hancur oleh karena perbedaan pilihan. Malah ketika ada penghormatan terhadap perbedaan pilihan akan semakin mematangkan semangat demokratis negara-negara yang tergabung di rumah dunia tersebut.  Paling dampak yang akan muncul adalah Amerika buat kebijakan lain entah embargo, penghentian kerjasama ekonomi, kerjasama militer, mengurangi bantuan dana dan lain-lain. Tapi selama negara-negara bersatu untuk mewujudkan kebaikan maka akan relasi yang baik dengan sesama negara.


Salam***
Posting Komentar
Adbox