dunia lain untuk bicara

19 Desember 2017

DAHSYATNYA ANGGARAN & PROGRAM OK OCE

Memang menarik untuk mendiskusikan tentang program pemerintah DKI Jakarta periode yang baru ini. Penuhi dengan informasi dan hal-hal baru yang jarang muncul ke permukaan. Contohnya kemarin Wakil Gubernurnya menyatakan bahwa modal usaha OK OCE tidak disediakan oleh PEMDA DKI namun Pemerintah akan memfasilitasi masyarakat untuk membangun akses ke lembaga keuangan. Jadi PEMDA DKI akan berperan menjembatani masyarakat dengan lembaga keuangan yang ada.

Sumber : Megapolitan-Kompas.com
Hari ini masih tentang Program OK OCE tapi akan melihat dari sisi banyaknya dana yang dikucurkan oleh Pemerintah DKI untuk tahun anggaran 2018. Pada tahun anggaran 2018 tahun depan Pemda DKI akan mengucurkan dana APBD  Rp 92.86 miliar untuk program OK OCE. Dana ini naik dari perencanaan awal Rp 43,91 Miliar (Sumber Tempo, 18 Desember 2017) Kenaikannya hampir 100% dari perencanaan awal.

Kalau merunut dari pernyataan Wakil Gubernur kemarin berarti dari dana Rp 92.86 miliar itu tidak ada dana langsung yang bisa diakses oleh masyarakat Jakarta sebagai modal usaha. Namun dana itu dipakai untuk hal-hal lain dalam program OK OCE. Misalnya pelatihan wirausaha dan pendampingan bagi para pengusaha. Menurut Kepala Bappeda DKI, Ibu Tuti tambahan dana tersebut untuk membuat ruangan OK OCE di 44 kantor kecamatan dengan fasilitas penunjang antara lain jaringan internet. Ini mau menyatakan bahwa dana yang begitu besar akan dipakai untuk menambah kapasitas para pengusaha-pengusaha yang baru selalu juga menyiapakan infrastruktur yang nantinya diperlukan untuk mendukung program OK OCE.

Pertanyaannya adalah siapa kira-kira yang diuntungkan dari Program OK OCE tersebut. Kalau diamati yang akan menerima keuntungan langsung dan besar dari program OK OCE ini adalah para penyedia jasa. Mulai dari Trainer, konsultan untuk pelatihan dan pendampingan wirausaha. Biaya untuk sewa gedung dan konsumsi pelatihan. Vendor-vendor lainnya yang nanti akan mendukung secara teknis dan non teknis dari Program ini. Untuk membayar para penyedia jasa ini butuh dana yang tidak sedikit. Nah, itu yang jelas nantinya pengeluarannya. Belum lagi pengeluaran-pengeluaran siluman yang tidak tahu gimana prosesnya? Ini juga akan bisa jadi terlibat di dalamnya.

Pertanyaan lanjutan dari paragraph di atas adalah apa yang diperoleh oleh masyarakat dari program OK OCE tersebut? Pastinya akan memperoleh pengetahuan, bantuan pendampingan dan konsultasi dari para pengusaha-pengusaha yang telah sukses. Di samping itu akan dibantu untuk mengakses modal dari lembaga keuangan.

Namun yang kita perlu soroti di sini adalah alokasi besaran dana tambahan yang dipakai untuk penyediaan infrastruktur mulai dari menambah ruangan plus dengan fasilitas dan jaringan penunjangnya. Tambahan anggaran dana APBD untuk Program OK OCE itu hampir Rp 48.95 miliar. Nah, pertanyaannya kira-kira berapa yang dipakai dari total anggaran tersebut untuk masyarakat? Apakah bisa mencapai 50 persen dari total anggaran itu? Pertanyaan tersebut akan terjawab nanti setelah implementasi dari Program OK OCE.

Harapannya adalah akan lebih banyak dana yang terpakai untuk kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan program OK OCE ini. Sehingga masyarakat memperoleh keuntungan yang lebih dari program yang dicetuskan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Semoga program OK OCE lancar dan memberikan manfaat bagi semua warga DKI Jakarta.


Salam***
Posting Komentar
Adbox