dunia lain untuk bicara

24 Desember 2017

ARISAN BERAS DAN TABUNGAN GABAH, SATU SIASAT PEMENUHAN PANGAN

Ibu-ibu sedang melakukan pertemuan mingguan. (Foto : John Pluto Sinulingga)
Di beberapa desa di Cianjur Selatan ada sekelompok ibu-ibu yang membuat semacam arisan. Tapi ini bukan arisan uang yang lazim dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Ibu-ibu di sana menyebutnya arisan beas atau beras dan arisan gabah. Memang tidak semua ibu-ibu di dalam desa melakukan arisan tersebut. Biasanya ibu-ibu yang berada dalam lingkup satu RT saja. Dan rata-rata jumlah rumah tangga dalam satu RT itu bisa mencapai 40 keluarga bahkan bisa lebih.

Satu contoh di Kampung Sukalila, Desa Gandasari, Kecamatan Kadupandak. Ada satu kelompok ibu-ibu yang melakukan arisan beras. Mereka berkumpul setiap satu minggu sekali memanfaatkan media pengajian atau biasa mereka sebut minggonan. Dalam pertemuan ini masing-masing ibu membawa satu liter beras. Jumlah mereka ada 26 orang. Dari jumlah 26 orang tersebut akan dipilih salah satu yang menerima kumpulan beras tersebut. Perputaran ini akan terus berlanjut sampai semua menerima kumpulan beras tersebut. Kalau dihitung beras yang berputar dalam 1 minggu itu ada sekitar 26 liter dan dari jumlah 26 liter tersebut dipotong 1 liter untuk pengurus arisan. Dan biasanya beras yang dipotong tersebut langsung diuangkan, tapi itu tergantung dari pengurus arisan.

Untuk tabungan gabah beda lagi. Dan tidak semua ibu-ibu  yang ikut dalam arisan beras tadi terlibat juga di tabungan gabah. Tabungan gabah ini dilakukan setiap musim panen. Setiap ibu-ibu akan menyetorkan gabah sebanyak 5 kg kepada bendahara kelompok. Dalam kelompok tersebut ada 10 orang maka jumlah total yang dikumpulkan 50 kg gabah. Gabah yang sudah terkumpul ini akan mereka uangkan menurut harga saat itu. Namun terkadang mereka menyimpannya untuk keperluan pada waktu-waktu tertentu. Memang jikalau gabah disimpan perlu perawatan yang ekstra, karena padi hibrida tidak tahan lama untuk disimpan.

Gabah yang sudah diatur sedemikan rupa (Foto : John Pluto Sinulingga)
Hal-hal kecil yang ibu-ibu lakukan ini ternyata berdampak pada pemenuhan pangan di rumah tangga. Secara langsung mereka akan mengurangi pembelian beras dan juga mereka berusaha agar padi yang ditanam di sawah akan menghasilkan gabah yang baik pula. Pangan merupakan kebutuhan pokok yang pemenuhannya tidak bisa ditunda-tunda.apabila ditunda maka “kampung tengah” itu akan mengaungkan amarahnya.  Apabila pangan di rumah tangga sudah tersedia maka pikiran pun akan tenang. Untuk mencari tambahan pemasukan bisa dilakukan dengan kerja-kerja yang lain.

Analoginya adalah kita masih bisa bertempur apabila pangan tersedia dengan baik. Jikalau pangan tidak ada jangankan untuk bertempur, mengangkat senjata saja sudah pasti tidak ada tenaga. Perempuan-perempuan desa itu telah memikirkan siasat atau cara untuk memenuhi pangan keluarga mereka. Dengan media arisan ini pula akan merekatkan tali asih dan rasa kepedulian antar sesama. Semoga kearifan ini terus hidup dan menghidup banyak orang yang terlibat di dalamnya.


Salam***  
Posting Komentar
Adbox