dunia lain untuk bicara

26 November 2017

Melihat Takdir dari Lapangan Sepak Bola

Seperti sepak bola, apa yang Anda latih sajalah yang membawa Anda sebagai kiper, bek, gelandang, penyerang, atau .... mungkin sekadar pemain cadangan.


Uhm, itu hanya kalimat yang berkelebat di pikiran saya saat sedang merenung-renung seraya berusaha untuk tidak kesurupan. Maklum, konon merenung dan melamun itu 'kan katanya rentan bikin orang kesurupan. Jadi, saya tuangkanlah kalimat di pembukaan itu di akun LinkedIn, satu-satunya akun yang masih membingungkan saya hingga hari ini; jarang digunakan namun masih setia saya pelihara.

Sampai paragraf ketiga ini saya masih bingung, mau ke mana saya arahkan tulisan ini. Sebaiknya kembali ke awal saja. Ya, itu soal posisi dalam hidup.

Dipikir-pikir memang kita bisa saja terseret hanya menjalankan peranan yang itu-itu saja. Jika alam melihat kita cocok jadi kiper, jadilah kita hanya sebagai penjaga gawang; berada di belakang, hanya teriak-teriak, dan nasib tim Anda justru tetap bergantung kepada Anda.

Atau, begitu juga jika kemudian harus menjadi bek. Lagi-lagi Anda hanya bisa bermain di belakang, kecuali bek sayap masih bisalah ikut-ikutan "genit" untuk turut menyerang. Sementara bek tengah harus terengah-engah bertahan di tengah segala godaan dunia yang begitu menggoda iman--kok jadi bau khutbah begini?

Namun begitulah, menjadi bek itu adalah sesuatu yang sangat tidak saya sukai sejak saya masih mengenal sepak bola hanyalah permainan yang cukup berbekal lapangan luas dengan gawang yang hanya ditandai dengan sepasang sandal. Sebab berada di satu tempat, meski tetap memiliki tantangan karena harus bertarung, namun tak bisa jauh beranjak, terasa menjemukan.

Masuk ke dunia dewasa memang hal itu sangat terasakan. Berkutat hanya dengan satu rutinitas yang begitu-begitu saja, membuat kepala bergejolak, hati dipenuhi riak, laut tetap bergelombang, dan bintang-bintang hanya datang kala malam--malah lari ke sajak.

Bagaimana dengan gelandang? Ini lebih mirip pelayan memang. Ia harus membantu aliran bola, merebut bola, dan urusan mencetak gol tetap harus memprioritaskan mereka yang menjadi penyerang; kecuali dalam kondisi terdesak. Jika tidak, hanya berkeliling seisi lapangan, namun di papan skor tetap saja para penyerang saja yang akhirnya dapat menuliskan nama hingga ke buku sejarah klub yang Anda bela.

Bagaimana menjadi penyerang. Para bintang seringnya hanya diidentikkan dengan mereka yang berdiri paling depan ini. Jika gol tak ada, dan tak mampu menaklukkan benteng-benteng lawan, Anda juga yang paling depan harus menerima caci maki mereka yang berdiri di pinggir lapangan.

Lalu mana yang paling menarik? Ya, ini kembali ke diri sendiri. Yang jelas, peran sebagai gelandang terbilang paling menenangkan. Tak perlu cukup menonjol secara pamor, asalkan membantu bola bergulir, dan irama permainan terjaga hingga seisi "kapal" dapat berjalan ke tujuan. Namun untuk posisi ini menuntut keikhlasan dan kesabaran besar; sebab ketika Anda lihai menjadi pengumpan, maka Anda harus siap melihat di papan skor hanya ada nama-nama rekan Anda yang berdiri di lini serang.

Lalu? Ya, soal mencari jodoh sih, saya cenderung menjadi penyerang. Sebab menjadi bek atau gelandang itu hanya mengantarkan Anda sekadar menjadi Mak Comblang. Itu jelas bukan pekerjaan yang betul-betul menyenangkan.***





Posting Komentar
Adbox