dunia lain untuk bicara

09 Oktober 2017

Tentang Lidah Sumatra di Depan Menu Baru HokBen

Sejak zaman pacaran hingga punya anak, sejujurnya HokBen menjadi tempat makan yang tak asing bagiku. Bukan karena ingin terlihat moderen atau karena ingin sekadar ingin keren, tapi lidah Sumatra saya ternyata masih mampu beradaptasi dengan baik dengan menu mereka sajikan.

Anda tahu bagaimana lidah Sumatra? Ya, ini semacam lidah yang agak cerewet dalam urusan makanan, dan di sini kecerewetan tak melulu menjadi kebiasaan kaum hawa. Kami pria Sumatra bisa juga secara jujur berucap enak tak enak dalam urusan makan. Saya bisa bertahan bertahun-tahun sebagai "pemangsa" bagi menu-menu yang ada di HokBen yang dulu bernama Hoka Hoka Bento, karena memang kecerewetan lidah saya soal rasa tak sampai muncul; justru bisa menikmatinya.

Jujur memang, ada beberapa rumah makan khas Jepang dan gerai-gerai makanan serupa tersebar, terutama di Jakarta. HokBen, entah karena memang inilah gerai pertama yang mampu membuat lidah saya terbuai--catat, lidah terbuai--hingga godaan dari beberapa gerai lain yang pernah saya jajal tak cukup mampu membuat saya berpaling dari resto yang sudah ada di Indonesia sejak 1985 ini.

 Kesan terbaru dari HokBen
Sabtu kemarin, saat kalender menunjukkan tanggal 7 Oktober 2017, menjadi kali pertama saya bisa menyaksikan langsung menu baru di sana. Kali ini status saya tak lagi sebagai pria yang hanya tahu pacaran dan tak tahu kapan kawin, tapi datang sebagai pria beristri dan sudah beranak. Meski berubah status, dan menu di HokBen pun berubah, ternyata ada hal yang belum berubah di resto ini; cita rasa yang masih memanjakan lidah.

Ya, menu baru mereka tawarkan terbilang "asing", karena memang baru saja diluncurkan. Sebut saja Tokyo Bowl Chicken Steak, Tokyo Bowl Chicken Katsu Kare, dan Tokyo Bowl Chicken Karaage. Chicken Steak menjadi menu anyar HokBen anyar pertama saya lahap. Mampu membuat saya terdiam, saking menghayati menu ini.

Kenapa? Karena memang daging yang mereka sajikan di sini, mampu membuat lidah cerewet saya punya dalam urusan makanan, dapat menerima dengan "ramah". Bumbu yang digunakan pun terasa lebih menyatu, sehingga, ketika dikunyah hingga halus pun, rasa yang ada pada dagingnya tak lantas hilang. Ini istimewa.

Apa  kelebihan Chicken Steak ini? Gigi saya yang tak lagi "seperkasa" di zaman perkasa, masih cukup mampu mengunyahnya tanpa perlu direpotkan dengan tenaga ekstra. Cukup menggambarkan bukan, bagaimana lembutnya daging yang disajikan.

Alasan saya menyukai Chicken Steak ini juga karena memang ada saus teriyaki di mana rasa manis dan gurih mampu membuat lidah lebih semangat "berolahraga".

Yang saya sebut tadi masuk kategori Tokyo Bowl Tori Don jenis Chicken Steak. Tokyo Bowl Tori Don ini menjadi nama khusus untuk menu yang berbahan dasar ayam. Kenapa ayam masih menjadi andalan, "Karena di Indonesia, sebagian besar pemakan daging adalah mereka yang menggemari ayam," kata Wulansari, mewakili Hokben, yang tampil sebagai narasumber dalam perkenalan di peluncuran menu anyar tersebut.

Apakah saya berhenti hanya dengan satu menu? No! Sebab lidah saya tak ingin cuma ingin dimanjakan di tempat, melainkan juga masih ingin menikmatinya hingga tiba di rumah. Alhasil, menjelang pulang, saya masih memborong seabrek menu ditawarkan, yang dirupiahkan hampir mencapai Rp 160 ribu.

Keinginan awal memborong sebanyak itu memang bukan untuk sendiri saja, walaupun memang juga
saya niatkan untuk anak dan istri. Melainkan juga karena ingin memberi kepada dua anak yatim yang ada di depan rumah, sehingga nikmatnya menu anyar HokBen dapat juga dirasakan kedua anak tetangga itu.

Sayangnya, sekembali saya ke rumah, kedua anak yatim yang biasa bermain di serambi rumah saya itu justru sedang ke rumah nenek mereka. Jadilah saya santap saja saat malam, daripada dingin dan tak bisa mereka nikmati.

Lagipula anak-anak ini hingga esok harinya pun belum pulang. Jadilah seabrek menu yang sempat saya niatkan dimakan dengan mereka tuntas di perut saya. Eit, percayalah, saya masih punya niat untuk tetap mengganti HokBen yang saya niatkan untuk mereka itu.

Kenapa saya ingin berbagi HokBen itu hingga untuk anak yatim tersebut, ya bukankah berbagi terbaik itu adalah memberikan yang juga kita makan bukan? Ya, karena rasa dan kualitas makanan ini mampu membuat saya yakin. Jika dengan ini bisa membuat lidah saya senang, maka berusaha membantu lidah mereka juga senang akan lebih menyenangkan bukan? Sebab menikmati kesenangan jika sendiri saja tak pernah benar-benar menyenangkan, kawan.

Apalagi memang menu anyar HokBen ini mampu meneteskan air liur saya, masak saya tega membiarkan anak-anak tetangga saya begitu saja. Eh, ceritanya sudah terlalu jauh ya.

Bukan apa-apa, sebab dalam menu anyar itu ada juga lagi semisal Tori Soboro, Gyu Soboro. Tori Soboro dibikin dari daging ayam cincang lengkap dengan saus teriyaki. Ternyata bini di rumah juga gemar yang ini, hingga dari yang saya beli sekembali ke rumah dikuasai sepenuhnya oleh istri. Untuk bisa mendapatkan bagian, saya harus meminta bantuan "sekutu" yakni anak saya sendiri--yang saat itu lebih dulu merasa "merdeka" karena dibawakan Kidzu Bento yang lengkap dengan hadiah mainan itu.

Ada lagi Chicken Katsu Tare, jenis Katsu yang terdiri dari semangkuk nasi lengkap dengan rumput laut dan daun bawang. Dari aromanya mampu membuat cacing di perut bergegas ingin makan, dan mampu menenangkan mereka saat menu ini tenggelam di dalam perut.

Tantangan HokBen ke Tokyo
Pulang ke rumah, bukti pembayaran dari seabrek menu HokBen yang saya bawa pulang justru hilang. Padahal itu saya niatkan untuk difoto dan diikutkan lomba yang diadakan resto tersebut. Soale karena memang sedang ada kompetisi yang dibikin untuk para pelanggan HokBen yang diberi tajuk From Tokyo Bowl to Tokyo Tower!

Nih tantangannya

Sejak hadir di peluncuran menu anyar itu, sudah ada niat saya mengikuti lomba tersebut. Lha, siapa yang tak tertarik ke Tokyo coba? Apalagi hadiahnya memang 10 tiket P.P alias pulang-pergi untuk lima pemenang. Salah satu syaratnya selain harus mengunggah foto atau video dengan ekspresi paling menggoda, harus pula ada struk pembelian HokBen.

Anda yang mau ikut masih bisa, sih. Sebab lomba itu sendiri berlaku dari 31 Juli lalu hingga 31 Oktober ini, dan awal November sudah ada pengumuman. Meskipun struk pembelian saya hilang, bukan berarti saya tidak akan ikut. Masa sejak zaman pacaran jadi pelanggan mereka membiarkan diri luput mengikuti itu? Tentu tak rela. Secara saya bukan pelanggan berstatus newbie lagi di resto ini huehehe, tapi pelanggan yang sudah level beranak! (Apa hubungannya? Jangan terlalu dipikirkan).

Tapi memang perlu saya singgung soal keakraban saya dengan HokBen sejak pacaran hingga saya beranak. Bukan apa-apa, karena di masa saya pacaran, dan sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk makan sekaligus kencan dengan berlama-lama makan di resto itu, dengan masa saya menikah nama mereka telah berubah. Ya, secara per 15 Oktober 2013 mereka tak lagi bernama Hoka Hoka Bento, melainkan telah menjadi HokBen.

"Perubahan nama itu karena memang tak lepas dari saran pelanggan juga. Mereka kesulitan menyebut Hoka Hoka Bento yang terlalu panjang, dan sering menyingkatnya dengan HokBen, jadilah kami berubah dengan nama HokBen?" begitulah penjelasan kru HokBen, Wulansari yang berperan sebagai Marketing Communication HokBen.

Anda sudah berapa lama tidak kencan di HokBen? Cobalah ke sana, dan coba juga menu baru yang sempat saya singgung di atas. Lah, tapi kan tidak mendalam tuh penjelasannya? Soal rasa tak bisa diwakili kata-kata, Bro, tapi cuma bisa diterjemahkan oleh lidah yang langsung merasakan rasanya!












Posting Komentar
Adbox