dunia lain untuk bicara

30 Oktober 2017

Kala Pejuang Pangan Bersiap Turun Tangan

Pernahkah Anda pernah meremehkan makanan? Syukurlah jika tidak. Sebab faktanya, di banyak belahan dunia, terdapat banyak penghuninya justru kesulitan mendapatkan makanan. Itulah yang mengemuka ketika saya hadir tengah pekan lalu di Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan RI.

Tapi itu, Mas, kok foto anakmu di atas? Ya, sebab urusan ini adalah urusan masa depan. Pangan juga tetap menjadi urusan masa depan, satu masa yang juga akan dihadapi oleh anak-anak kita sendiri.

Ya, saat itu memang ada pertemuan dengan pihak Kemenkes yang turut menjadi salah satu penggagas Asia Pacific Food Forum yang juga dikenal dengan Forum Pangan Asia Pasifik yang akan berlangsung pada 30 hingga 31 Oktober 2017. Saya sendiri datang ke acara itu tentu saja melepas
status saya sebagai jurnalis, namun dengan status sebagai aktivis sekaligus pegiat blog.

Kami diajak berbagi sudut pandang tentang bagaimana fenomena pangan yang memang acap diremehkan oleh kalangan penduduk yang berkecukupan,  namun di sisi lain sejatinya itu menjadi pengisi mimpi sebagian penghuni bumi yang sulit mendapatkannya.

Betapa, mungkin kita pun turut menjadi bagian yang selama ini kerap membuang-buang makanan. Tanpa kita sadari, kebiasaan buruk ini justru berdampak jauh, turut menjadi penyebab munculnya masalah yang berhubungan dengan pangan.

Tak terkecuali di dalam negeri kita sendiri, satu sisi banyak orang yang memiliki makanan berlimpah dan tanpa bersalah membuang-buangnya, dan di sisi lain masalah malnutrisi pun bermunculan.

Itu juga diungkapkan Diah Satyani Saminarsih yang tak lain adalah Staf Khusus Kementerian Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan. Menurutnya, ada banyak sikap salah kaprah di tengah-tengah keseharian kita sendiri. Selain banyak yang terbiasa memubazirkan makanan, masyarakat yang kesulitan makanan pun acap terjebak dengan anggapan bahwa hanya makanan yang populer saja yang layak untuk dimakan.

"Padahal masalah pangan buruk bisa berisiko mendatangkan berbagai akibat buruk, di antaranya masalah penyakit," kata Diah di depan para peserta tatap muka Kemenkes dengan para blogger tersebut.

Selain itu, Diah juga banyak bercerita tentang acara APFF yang akan berlangsung akhir pekan ini, yang disebutnya sebagai sebuah inisiatif untuk merangkul berbagai pihak untuk lebih peka terhadap kondisi pangan.

Maka itu, katanya, acara seperti APFF ini diniatkan tak lain untuk menumbuhkan perhatian berbagai kalangan agar kelak persoalan pangan tak sampai menjadi masalah besar karena ketidakpekaan.

Di acara itu, menurut Diah, berbagai pihak yang menjadi peserta dan pembicara  tak hanya datang dari kalangan pemerintah melainkan juga berasal dari Non Government Organization alias Lembaga Swadaya Masyarakat.

Ekspektasinya agar berbagai pihak yang terlibat di forum ini nantinya dapat melahirkan solusi yang dibutuhkan, menuntaskan masalah-masalah  yang berhubungan dengan pangan, dan di sisi lain mencari berbagai langkah yang diperlukan untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan.

"Para pemangku kepentingan akan saling menyampaikan hasil riset selain juga bertukar gagasan. Soal gizi dan makanan hingga produksi makanan yang punya kaitan dengan perubahan iklim pun akan kita bahas di sana," kata Diah lebih jauh. "Kita berharap dengan forum ini sekaligus membuka peluang bagi kita, yaitu pembangunan nutrisi dan ketahanan pangan negara kita."*







Posting Komentar
Adbox