dunia lain untuk bicara

30 Oktober 2017

Jika Masih Gemar Mencari Alasan Menunda Pekerjaan ...

Di mana-mana, di antara hal yang paling banyak dicari adalah alasan. Bahkan bagi sebagian orang, mencari alasan lebih menjadi perhatian daripada memusingkan diri mencari solusi.

Eh, saya sama sekali bukan sedang membicarakan kesalahan yang mungkin juga pernah Anda lakukan. Toh, saya sendiri bukanlah orang yang sepenuhnya selamat dari “dosa” bernama mencari alasan ini. Bahkan sekadar malas membuang sampah pun ada saja alasan dicari-cari, meskipun teramat sadar, untuk mengangkat beberapa kantong sampah di bagian belakang rumah itu tidaklah menuntut tenaga sebesar Superman.

Begitulah adanya. Anda pernah mencari-cari alasan hanya untuk menunda hal-hal kecil? Tidak apa-apa, sih. Itu boleh dibiasakan, kok. Boleh, sepanjang Anda yakin jika pusing setelah semua masalah menumpuk takkan membuat Anda mengambil keputusan membenturkan kepala ke dinding.

Apakah saya juga pernah membenturkan kepala ke dinding hanya karena terlalu banyak mencari alasan? Uhm, saya coba mengingat-ingatnya. Ya, ada. Termasuk ketika menunda menyelesaikan pekerjaan hingga menunda menyelesaikan masalah utang. Menunda pekerjaan dan menunda membayar utang termasuk di antara beban yang hanya membuat pikiran makin terbeban, dan makin sulit mencari solusi.

Ibaratnya begini, jika sebuah kendaraan terbaik pun, jika diberikan beban yang menumpuk, maka kecepatannya berkurang. Lebih jauh lagi, ketika kecepatan berkurang, maka kesempatan untuk  tiba lebih cepat ke tujuan pun akan terhalang. Jadi? Cukup menjadi contoh bagi kita yang gemar mencari alasan ketika seharusnya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.

Tak perlu nasihat dari siapa-siapa untuk mengobati penyakit ini. Cukuplah menasihati dengan bahasa yang tegas kepada diri sendiri, ingin menjalani hidup lebih “plong” atau ingin semakin terbeban. Jika membiarkan diri sendiri tersangkut dalam beban, kelak jangan pernah iri jika kemudian melihat orang-orang sudah makin jauh berlari ke depan.

Anda juga tahu, pelari yang memiliki tubuh lebih ringan akan leluasa mengayunkan kakinya dibandingkan mereka yang—maaf—terbebani lemak yang menumpuk di mana-mana. Jadi, kita ingin makin terbeban atau makin enteng menempuh perjalanan hidup, kembali kepada kita sendiri.

Jangan didengar. Ya, jika Anda berpikir bahwa kata-kata orang yang juga sering punya masalah dan pengalaman menunda-nunda pekerjaan ini tak berguna. Yang penting adalah kita sama-sama lebih sering mengingatkan diri sendiri, bahwa jika diibaratkan perang, membiarkan “musuh” semakin banyak hanya membuat kita lebih cepat terbunuh!


Jika perumpamaan itu semakin seram, maka bolehlah berkaca dari pengalaman pribadi saya. Kalau saja dulu saya membiarkan diri terus-menerus hanya mencari-cari alasan, boleh jadi saya pun hanya menjadi perjaka lapuk. Jika sudah lapuk, Anda tahu, mungkin saja ada sesuatu yang akan dikerubuti semut! Eh, apa ini?
Posting Komentar
Adbox