dunia lain untuk bicara

31 Oktober 2017

Catatan Bekas Siswa Berandalan

Di masa sekolah, kebodohan saya dalam urusan matematika itu pernah bikin saya memilih turun kasta. Pada zaman Belanda itu, berada di kelas IPA cenderung terkesan sebagai tempatnya murid baik-baik, murid-murid elite, dan lebih pintar daripada lainnya. Saya yang berada di kelas IPA, namun mengukur diri takkan mampu di sini, beralihlah saya ke IPS.

Keputusan guru menempatkan saya di jurusan IPA itu tak lain karena kebetulan saat kelas dua mendapatkan peringkat pertama. Jadilah masuk saya sejenak ke jurusan itu. Betul-betul hanya seminggu, dan setelahnya masuklah saya ke "dunia hitam" bernama jurusan IPS.

Apakah benar jurusan IPS saat itu identik dengan anak-anak nakal, badung, berandalan? Uhm, betul. Sebagian teman-teman saya dan saya sendiri akhirnya menerima label itu. Sekadar label? Tidak juga, karena memang betul-betul badung dan berandalan.

Kami di sana berada di barisan siswa kurang ajar. Sekali waktu, seorang guru olahraga yang kerap menampilkan kesan bengis untuk ditakuti siswanya menjadi korban. Ya, ketika ia ingin masuk ke dalam kelas, justru tak ada siapa-siapa di sana.

Mungkin ada sekian rutukan dan kutukan meluncur dari guru tersebut, entahlah. Yang jelas, sejak kejadian itu, saya yang berstatus ketua kelas justru tak pernah diajak berbicara oleh guru tersebut.

Penyebabnya tak  lain, karena saya dinilai lebih mendengar suara teman-temannya daripada perintah gurunya. Saat teman-teman sekelas lebih banyak memilih untuk memboikot guru tersebut untuk menghentikan arogansi, si ketua kelas ini justru mengomandoi mengikuti suara terbanyak.

Jadilah si ketua kelas itu menjadi salah satu siswa kurang ajar. Ketua kelas itu adalah saya sendiri.

Tunggu dulu. Kami anak-anak berandalan di kelas itu hanya kurang ajar pada satu guru yang dirasa terlalu banyak dikte, terlalu banyak perintah, dan terasa terlalu kasar. Sedangkan kepada guru lain, kami akan sangat menghormati mereka, tetap masih bisa masuk kelas lebih cepat sebelum sang guru masuk.

Bahkan ada guru yang sukses kami bikin menitikkan air matanya hanya karena tiba-tiba beramai-ramai kami ke rumahnya, hanya untuk membantu membersihkan halamannya dari begitu banyak rumput--karena beliau tinggal di kontrakan terpisah dari keluarga mereka.

Bukan karena permintaan mereka, cuma karena saya berpikir jika mereka adalah perempuan akan sangat sulit untuk mengayun cangkul untuk membabat semua rumput liar di halaman rumahnya. Saya mengajak beberapa teman yang bersedia ikut, dan kami pun membersihkan rumah Bu Guru ini.

Melihat mata berkaca-kaca seorang guru yang terharu itu, sungguh jauh lebih indah dari sekian banyak keindahan yang bisa Anda lihat. Setidaknya, inilah cara seorang siswa berandalan menebus dosanya kepada guru, terlepas dosa itu sebenarnya dilakukan terhadap guru pria dan ditebus kepada guru wanita, saya kira tak apa-apa. Bukankah anak-anak lelaki cenderung lebih dekat kepada ibunya?


Posting Komentar
Adbox