dunia lain untuk bicara

21 Oktober 2017

Antara Kopi dan Bedebahnya Para Lelaki

Kopi itu aslinya, ya, hitam. Rambut juga semestinya hitam, setidaknya bagi saya Asia tulen yang rata-rata berambut begitu. Tulen tapi sedikit tidak jelas. Tidak jelas dalam arti bahwa hidung katanya agak mirip Arab dan India, dengan tulang wajah mirip Vietnam, dan badan yang agak bermetamorfosis dari ceking menjadi agak gendut; terutama di perut.

Dari semua "penampakan" itu, perhatianku memang lebih ke rambut. Kenapa? Karena di rambut pun ada metamorfosis, di mana uban tumbuh satu per satu.

Memutih, tapi putih di sini tak selalu suci. Kenapa tak selalu suci, sebab jika melihat yang putih-putih, hati kerap berdebar, napas tersengal-sengal; dari model di catwalk sampai mbok-mbok jamu yang cantik tetap masih membuat mataku cenderung mendelik.

Jadi, ketika uban makin bertambah, sucinya pikiran belum juga bertambah. Bedebah, bukan?

Maka itu jika laki-laki terkadang disebut bedebah, atau berbagai julukan buruk dari lawan jenis, saya termasuk salah satu yang acap terkekeh sendiri. Sebab dalam julukan sebedebah apa pun, kelangsungan hidup manusia pun akhirnya tetap terjaga berkat masih banyaknya para bedebah itu tadi.

Apakah lelaki menerima begitu saja disebut begitu? Seringnya, iya. Sebab jika disebut begitu oleh lawan jenis lantas memilih marah dan mengajak jambak-jambakan, jelas tidak fair. Lha, kita lelaki yang identik dengan rambut pendek bagaimana dijambak sama mereka coba? Paling, "ending" ceritanya tetap cubit-cubitan.

"Aku benci kamu!"
"Kamu jahat!"
"Kamu itu, euhhh!"

Lalu, pukulan yang awalnya keras, menjadi pukulan manja di dada lelaki yang disebut bedebah tadi. "Aku benci!" seiring melemahnya pukulan itu, kata itu menjadi penutup.

Ya, itu adegan dari pertarungan lazim pria dan wanita; entah sebagai pacar atau suami istri. Terutama, tentu saja ketika lelaki berada dalam posisi sebagai bedebah tadi. Tak ada jambak-jambakan, kecuali dalam urusan ranjang, yang entah bagaimana tetap saja ada celah untuk lelaki rentan berada di posisi sebagai korban jambakan.

Mungkin faktor jambakan ini yang bikin uban lebih cepat bertambah? Tapi kulihat yang belum pernah dijambak dalam kondisi begini pun banyak yang beruban, dan bahkan bisa lebih banyak.

Lha kok cerita lari begini jauh? Maklumi saja, ini jadi lari-lari begini sebagai ganti lari pagi yang sekian tahun tak terealisasi. Sementara untuk lari dari kenyataan, hampir tak kenal henti. Hanya lari jenis terakhir paling rajin dilakukan para lelaki.

Seperti apa lari dari kenyataan ala lelaki? Ya, seperti cerita kopi di awal tulisan, bahkan saat melihat hitamnya kopi saja bisa membuatnya rindu pada masa ketika rambut belum "dinodai" oleh uban. Bayangkan kepada siapa para lelaki menuntut tanggung jawab jika sudah dinodai begini?


Posting Komentar
Adbox