dunia lain untuk bicara

02 September 2017

Melihat Partai Politik di Balik Kiprah Jonru

Salah satu warganet terbilang paling fenomenal sejauh ini adalah Jon Riah Ukur, yang terkenal dengan panggilan Jonru. Lewat berbagai media sosial ia rajin mengkritik hingga menggiring publik menghujat pemerintah, hingga ulama-ulama yang dianggap merugikan kalangannya. Belakangan ia dipolisikan, dan beberapa pengacara pun terlihat pasang badan untuk membelanya.

Menarik, lantaran beberapa pengacara yang muncul dan terekspose di berbagai media, justru telah terkenal memiliki kedekatan dengan beberapa partai politik. Tak terkecuali Jonru sendiri, terkenal sebagai salah satu kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan juga acap menunjukkan kekaguman besar kepada tokoh Gerindra, Prabowo Subianto.

Terkait Jonru dan partai-partai tersebut, satu sisi tak ada hal aneh. Lantaran PKS dan Gerindra memang telah tampil sebagai dua kekuatan yang memilih bersatu untuk melawan kekuatan politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang kini berstatus partai penguasa.

Selama ini, bahkan ada tokoh yang sempat menyinggung persoalan tabiat beberapa partai yang terkesan "rajin" memelihara isu kebencian. Victor Laiskodat pun dikeroyok beramai-ramai, dengan sudut bidik bahwa politisi tersebut telah melakukan penghinaan agama.

Sementara jika menilik pemicu kasus itu sendiri, Laiskodat cenderung mengkritisi realita banyaknya kalangan yang mengusung isu-isu khilafah. Namun ini juga yang dijadikan amunisi kalangan yang terindikasi punya kedekatan dengan beberapa partai yang sempat disinggung Laiskodat. Di sini, Jonru pun menjalankan peran sebagai "penjaga isu" agar tetap hangat dan bahkan panas.

Publik tentu saja tidak lupa, saat acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu lalu pun, Jonru pun sempat menyinggung kasus Laiskodat. Hanya, Jonru terkesan ingin menunjukkan, bahwa kesalahannya tak ada artinya jika dibandingkan "dosa" Laiskodat.

Di sinilah terlihat ada benang merah, antara partai-partai yang sempat disinggung Laiskodat dengan apa yang dilakukan Jonru. Mereka terkesan bersinergi, menangkap isu apa pun, dan menjadikannya sebagai bola salju yang dilemparkan begitu saja kepada publik dan terkesan dijaga agar dapat terus membesar. Jonru menjalankan peran ini dengan baik, dan terbilang sukses dengan perannya tersebut.

Menarik juga bahwa, dalam kasus Laiskodat ketika ada pihak yang ingin melaporkan, Fadli Zon dari Gerindra pun muncul sebagai orang yang mem-back up agar isu itu dapat membesar. Terbukti, dalam catatan detik.com, Kamis (10/8/2017), Forum Umat Islam yang bergerak bahkan menemuinya lebih dulu. Mirip halnya ketiga heboh dengan gerakan 212, tokoh Gerindra itu juga yang terlihat rajin tampil dengan membawa citra sebagai "pembela Islam".

Tragisnya, ketika ada pihak yang mengkritisi balik mereka yang selama ini menunggangi isu sensitif agama, justru mereka menyerangnya secara beramai-ramai. Setelah Basuki Tjahaja Purnama menjelang Pilkada DKI, Laiskodat menjadi sasaran lainnya yang ingin "ditikam" lewat isu agama.

Ada kesan kuat, pihak jaringan yang terafiliasi ke Gerindra dan PKS, dengan sejawatnya, menemukan fakta bahwa isu agama paling meyakinkan dan memiliki "daya ledak" jauh lebih kuat. Sehingga, ketika ada gerakan-gerakan yang menjurus ke sana, mereka pun terlihat "bermain aman" dengan hanya membiarkan gerakan itu seolah berjalan sendiri. Dengan pola tersebut, partai-partai terkait tentu saja leluasa untuk cuci tangan. Ibarat pembunuh bayaran, cukup hanya mengeluarkan sekian rupiah, namun bisa membunuh dengan tangan orang lain.

Pengakuan Jonru di blog pribadinya
Mau tak mau, tabiat diperlihatkan beberapa partai politik di tengah isu Saracen hingga Jonru dan Laiskodat, nyaris tak jauh berbeda. Jonru di sini memainkan peranan pentingnya, terlepas apakah ia bergerak sendiri tanpa adanya "penyandang dana" atau memang ada yang menyokongnya.

Lagi-lagi, di sini dibutuhkan bantuan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang sebelumnya sempat berencana mengusut aliran dana ke Saracen, agar juga bisa membaca seperti apa aliran dana kepada Jonru. Apakah ada keterkaitan dengan tokoh partai politik tertentu ataukah tidak? Syukur-syukur jika tidak, tapi jika terbukti, maka partai terkait dapat dimasukkan ke dalam "kotak sampah" lantaran telah mempertaruhkan satu hal sangat berharga; persatuan. Selain, mereka telah menciptakan satu hal paling berbahaya; perpecahan.

Sebab bukan rahasia, sejauh ini Jonru sendiri memperlihatkan banyak bukti kedekatannya dengan PKS dan bahkan menampilkan citra sebagai partai tersebut, selain dia pun menunjukkan dukungan kuat kepada Gerindra. Namun masih perlu berbagai pembuktian, apakah memang ada hubungan saling menguntungkan antara mereka? Ini menjadi penting setidaknya memetakan siapa yang bermain di belakang berbagai tindakan meresahkan dilakukan oknum warganet tersebut.

Terlepas dari itu, terpenting adalah tak ada lagi yang menghalalkan segala cara hingga mempertaruhkan persatuan hanya demi kepentingan politik. Selain, agar internet di negeri ini pun dapat dimanfaatkan ke hal-hal yang positif. Tak masalah memberikan kritikan kepada pemerintah, sebab yang sebetulnya menjadi masalah adalah fitnah pun dipaksa agar terlihat sama mulia dengan kritik.

Kritikan itu memang penting; jika mereka yang memiliki keahlian di bidang hukum menyorot persoalan hukum, masalah ekonomi mengkritik hal-hal terkait ekonomi, dlsb. Menjadi parah jika orang-orang yang "mencari makan" dari akun media sosial justru terbiarkan melemparkan berbagai isu tanpa ada jawaban, terbiarkan mengambang, hingga nalar publik yang memang masih banyak tak terdidik turut mengambang. Di sini, chaos dapat menjadi ancaman.

Siapa dekat dengan siapa - FOTO: jonru.wordpress.com
Sekarang, setelah laporan atas Jonru ke polisi, mudah-mudahan menjadi awal penggalian lebih serius ada apa di balik keberadaan sosok ini hingga ia terkesan leluasa dan merasa aman bergerak. Sementara bukan rahasia, jika ia telah melemparkan fitnah ke banyak pihak; tak hanya tertuju kepada Presiden Joko Widodo, tapi juga ia telah melepaskan anak panah fitnahnya hingga ke organisasi sekelas Nahdlatul Ulama dan ulama-ulama sekelas Quraish Shihab dan Said Aqil Siradj.

Sementara kita tahu, di tengah berbagai perbedaan dan ancaman perpecahan, Quraish Shihab dan Said Aqil Siradj tercatat sebagai bagian ulama yang lebih memilih mengajak kepada penerimaan atas keberagaman. Mereka menolak perpecahan, dan mereka menolak sikap-sikap beragama kekanak-kanakan. Mereka tak ingin agama dijadikan alasan untuk melecehkan dan meremehkan yang berbeda.

Jika ulama seperti itu telah menjadi sasaran tembak sosok seperti Jonru, sulit berharap "penyakit" ditebarkan sosok yang lahir dari media sosial ini takkan menyebarkannya lebih jauh lagi. Maka itu, langkah serius pihak terkait; Polri, Kementerian Komunikasi dan Informatika, hingga PPATK yang memungkinkan membantu, dapat menjadi titik balik penting menghentikan keriuhan selama ini.

Jika kemudian terbukti partai politik pun ada peran di tengah perjalanan berbagai isu berbahaya, negara pun berhak memberikan sanksi serius. Negara ini penting, tapi partai politik pembawa penyakit, tidaklah penting sama sekali. Sebab, ada kedamaian dan persatuan yang jauh lebih penting.*

Posting Komentar
Adbox