dunia lain untuk bicara

26 Agustus 2017

Tertawalah Jika Foto KTP Anda Lebih Bagus dari Aslinya

Saya sempat mikir bahwa perempuan saja yang terlalu mempersoalkan bagus tidaknya hasil jepretan (baca: foto). Masih terpikir begitu hingga saya ke kantor kelurahan.

Syahdan--itu kata yang bisa dipakai di buku dongeng tempo dulu. Syahdan, penantian saya sekian abad untuk mendapatkan e-KTP akhirnya terwujud. Sempat senang beberapa saat. Tepatnya hanya beberapa detik. 

Perasaan senang itu menguap setelah melihat... foto hasil jepretan petugas kelurahan beberapa abad lalu. Kecewa! Saya sama sekali tidak cantik! Eh, iya lha wong saya pria, kok cantik.

Maksud saya, jangankan istri saya, istri Anda pun akan turut berduka cita dengan foto itu. (Sepertinya ada kalimat yang salah di sini). 

Ya maksud saya, memang mengenaskan foto KTP itu. Terlihat sekali tak ada iktikad baik secuil pun atau seujung kuku, agar foto saya bisa terlihat seperti Brad Pitt. Ini murni lebih mirip seorang pria yang sedang mengalami suatu benda sedang terjepit. Ya, terjepit retsleting. Itu sangat menyiksa. Ekspresi tersiksa itulah yang memancar dari foto tersebut.

Ingin protes? Komplain? 

Lha, untuk e-KTP ini jadi saja saya harus menunggu berabad-abad. Syahdan, sepanjang proses penantian KTP selesai, ternyata Hitler telah menarik pasukannya dari Prancis. Napoleon sudah mencukur semua kumis, Lenin sudah hafal lagunya Siti Badriah, dan Stalin sudah menjadi pengikut Saracen! 

Dalam penantian itu juga, Fidel Castro sudah mulai menyukai rokok menyan, Machiavelli mulai belajar musik dari Soneta Group-nya Bang Haji Rhoma Irama, dan Abraham Lincoln belajar politik ke Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Luar biasa bukan?

Lalu, The Beatles sempat berganti nama menjadi Manis Manja Grup, "Aduh buyung, kenapa lupa padaku. Semenjak engkau di rantau, kutunggu-tunggu dirimu...."

Betapa banyak peristiwa terjadi hanya dalam proses penantian e-KTP itu. Lebih menjengkelkan lagi, karena lagi-lagi fotoku sama sekali tidak cantik! Eh, salah. Maksudku, memang sama sekali tak enak dilihat.

Atau, ini semacam karma karena jauh sebelumnya diam-diam aku sempat punya dosa kepada seluruh dunia karena gerutuan, "Perempuan terlalu ribet urusan foto!"

Atau, kali juga karena ada yang hilang dari identitasku sebagai pria? Ah, tidak juga. Barusan sempat ke kamar kecil, dan segala sesuatu masih utuh pada tempatnya.

Lalu? YA, BEGITU, MAS! 

Seperti apa? Bahwasanya, petugas e-KTP di kelurahan sama sekali tak familiar dengan Camera 360, Mbak. Sudah, ikhlaskan. Saya juga sudah ikhlas meski di KTP sama sekali tidak cantik.*
Posting Komentar
Adbox