dunia lain untuk bicara

26 Agustus 2017

Tentang Urusan yang Sering Disebut Tahi Kucing

Saya termasuk salah satu jenis pria yang acap memikirkan hal tak penting. Salah satunya, siapa mencipta istilah "tahi ayam", dan bagaimana ia mengukur kehangatan tahi ayam?

Pria apa ini, urusan tahi ayam pun jadi bahan pikiran. Apa tak ada yang penting lagi yang bisa dipikirkan selain setumpuk kotoran dari pantat ayam?

Saya mah tak terlalu merisaukan bagaimana orang melihat saya. Sebab saya tipe pria sangat percaya diri, bahwa cara orang melihat saya pastilah dengan cara baik-baik saja. Sering saya diam-diam berpikir, ya mungkin mereka melihat saya sebagai pria macho, berbudi, dan segala anggapan baik-baik saja. Soal apakah iya semua orang akan berpikir baik-baik saja tentang saya? Kenapa pula harus saya risaukan. Toh, saya pun tak selalu melihat semua orang hanya punya cerita baik-baik saja.

Lha ini, tadi ingin mengobrol urusan tahi ayam, kok jadi lari ke soal lebih jauh lagi? Terbukti, urusan tahi ayam atau tahi kucing--biar lengkap--tidaklah benar-benar sederhana. Toh itu tadi dari tahi ayam, malah bertambah ke urusan tahi kucing. Makin jauh bukan?

Anda pernah mencium aroma tahi ayam? Jika belum, cukup saya saja yang punya pengalaman ini. Aromanya jelas tidak enak. Agak-agak tajam lebih dari aroma ketiak saya sendiri. Kenapa begitu? Saya juga manusia, yang bagaimanapun tak ingin merendahkan diri sendiri, termasuk tak ingin terlalu baik mengakui aroma ketiak sendiri lebih parah daripada tahi ayam.

Yang jelas, kadar keasaman tahi ayam memang sedikit di bawah ketiak saya. Sementara kadar aromanya, sekali lagi, tahi ayam jauh lebih berbau. Kenapa begitu, karena acap mencium kedua aroma, saat remaja dan masih gemar memelihara ayam, hingga saya dewasa yang jadi terlalu perhatian pada aroma ketiak.

Bagaimana tidak perhatian, jika urusan ketiak itu, terlebih di kendaraan umum, saya acap berkunang-kunang karena pernah bertemu sesama penumpang yang menebar aroma menyengat. Menghirup aroma itu, saya merasa "trance", melayang-layang, dan bus saya tumpangi pun terasa tiba-tiba ikut melayang. Lengkap dengan soundtrack, "Berlari-lari mengejar bis kota..." hingga soundtrack-nya pun lari menjadi "bintang kecil, di langit yang biru, amat banyak, menghias angkasa...."

Ya, saya merasakan bintang-bintang berpendar dan tiba-tiba mengitari kepala. (Jika sulit Anda bayangkan, silakan bayangkan film kartun Tom setelah dipalu sampai kelenger oleh Jerry).

Bahaya bukan? Bagaimana tidak bahaya, jika nelayan pun jadi tak bisa menentukan arah berdasarkan ilmu perbintangan, karena bintang-bintang seketika melarikan diri dari langit, menuju kepala saya.

Itu lamunan tahi kucing, eh, apa tahi ayam ya?

Memang urusan yang sekilas terasa hanya urusan tahi ayam atau tahi kucing bisa merembet ke mana-mana. Di bus, saya juga pernah mengalami bagaimana aroma tahi kucing yang entah menempel di kaki siapa, menyeruak seisi bus. Dapat Anda bayangkan, bagaimana bus yang terkontaminasi aroma ketika yang tak terkontrol bercampur lagi dengan aroma tahi kucing.

Intinya apa? Intinya, itu tadi. Mana, Mas? Itu bahwa kita sering kali meremehkan banyak hal dan memberikan klasifikasi sebagai "urusan tahi kucing" dan "persoalan tahi ayam", mengesankan tak ada efek apa-apa dari sana.

Kenapa begitu, ya karena kita acap enggan dirisaukan hal-hal yang menurut kita tak perlu dirisaukan. Walaupun, sadar tak sadar, sengaja tak sengaja, urusan tahi kucing bisa menjadi hal mengganggu banyak orang.

Entah Anda melihat catatan ini sebagai metafora atau apa saja, atau bahkan tak melihat apa-apa, ya tak apa. Toh, ini hanya catatan seputar tahi kucing saja.*
Posting Komentar
Adbox