dunia lain untuk bicara

19 Agustus 2017

Soal Pria dan Buku Teka-Teki

Jika Anda membaca, apakah Anda lebih menyukai tulisan serius atau tak serius? Saya sendiri terbilang seimbang, terkadang berkutat dengan buku-buku dan artikel serius, tapi juga sering menyelam ke dalam buku atau artikel tak serius.

Kenapa begitu? Pertama, sejatinya tak ada yang tak benar-benar serius. Pelawak pun untuk dapat melucu justru butuh keseriusan. Tanpa keseriusan, tak ada lawakan yang mampu mereka lahirkan. Jadi, sejatinya, hal-hal yang sekilas tak serius pun dapat saja merupakan sesuatu yang memang dilakukan dengan serius.

Anda pernah menjadi pria tukang gombal? Saya pernah jadi tukang sekaligus tukang gombal, termasuk menggombali perempuan yang belakangan jadi istri saya. Sebagai tukang, saat kuliah saya belajar bagaimana bekerja dan berkeringat selayaknya tukang umumnya di bawah terik matahari. Itu saya lakukan untuk menggembleng diri sendiri. Sebagai tukang gombal, saya melatih diri sebagai lelaki, agar mengasah kemampuan membaca perempuan, perasaan mereka, dan bagaimana pikiran mereka.

Lebih mudah mana menjadi tukang gombal dengan tukang sebenarnya? Saya akan mengatakan, mengayun cangkul di bawah matahari, berkeringat hingga basah sesempak-sempaknya, terasa lebih enteng. Sebab, di sana tak ada teka-teki, tak ada misteri.

Sedangkan untuk menjadi tukang gombal, Anda harus menghadapi banyak misteri hingga teka-teki. Terlebih jika calon pacar atau calon istri yang Anda bidik ternyata adalah anaknya seorang pria tua berkacamata tebal dan gemar mengisi teka-teki. Hampir dapat dipastikan, anaknya pun akan membuat Anda harus memecahkan banyak teka-teki. "Isilah teka-teki ini berdasarkan pertanyaan mendatar atau menurun!" Jika tidak, Anda gagal menjadi pacar atau suaminya. Bapaknya pun akan menjatuhkan palu selayaknya hakim, Anda tak becus menjadi menantu.

Lha, bagaimana menjadi menantu jika Teka-Teki Silang pun tak becus diatasi, apalagi menghadapi lika-liku hidup yang memang memiliki fase menurun atau mendatar, secara membosankan. Meski begitu, jangan samakan hidup dengan TTS, plis, karena tak ada jawaban menanjak di buku itu. Adanya cuma mendatar dan menurun, dan itu membosankan bukan?

Bahkan jika melulu hanya mendatar dan menurun, sedangkan Anda sudah beristri, apa yang dapat Anda lakukan hanya mencari jamu terbaik atau obat kuat sekalian. Lah kok jadi ke sana? Maklum, efek teka-teki dan hidup itu sendiri, ketika sedang menurun maka berbagai fokus dan keseriusan Anda pun bisa buyar seketika.

Lalu sebenarnya saya ingin mengatakan apa? Begini, hidup bukan buku TTS, dan Anda tak perlu terpaku pada jawaban mendatar atau menurun, tapi perlu pula mencari jawaban untuk dapat menanjak. Uhm, itu bukan ceramah untuk Anda, saya sedang menceramahi diri sendiri.

Eit, ini saya ingin bicara serius malah jadi tak serius bukan? Sebentar, apakah Anda serius membaca tulisan saya ini? Saya yakin Anda serius, lah saya juga serius berpikir jika pulang ke rumah malam ini akan disambut senyum oleh istri ataukah tidak, dan itu masih teka-teki juga lho.*
Posting Komentar
Adbox