dunia lain untuk bicara

21 Agustus 2017

Realita Depan Mata, Adik Beranak Lima sebelum Usia 30

Shock! Itulah yang terasa olehku, seorang kakak yang kalah start dari adik yang juga cowok. Dari menikah kalah cepat, hingga jumlah anak pun lagi-lagi kalah cepat. Bayangkan, di usia 27, dia sudah beranak lima.

Sebagai kakak, aku memilih tak menyalahkannya. Apalagi dia berlatar belakang santri, dan ada doktrin di lingkungan pendidikannya, makin banyak anak maka akan makin bagus. Dia termasuk sangat berpegang teguh pada doktrin itu.

Aku, kakaknya yang sebenarnya terbilang buruk dalam bermatematika, justru sering terjebak dengan pola pikir matematis. Berapa biaya mengurus seorang anak? Berapa biaya pendidikan? Hingga seabrek pertanyaan lain yang tak jauh dari hitung-hitungan.

Ditambah lagi istriku pun sarjana matematika, tak pelak isi kepalaku pun makin akrab dengan matematika. Jadi, banyak hal dan realita terpampang hampir tak ada yang lepas dari matematika.

Jadilah, jika sebagai santri adikku menikah di usia belum genap 20 tahun, aku menikah justru ketika sudah lewat 30 tahun. Nah, di sini saja sudah tercium bukan, betapa "bau" matematika lebih melekat denganku.

Dulu, prinsip yang kupegang, jika keuangan belum meyakinkan, lebih baik saya tidak memaksa anak orang menjadi korban yang harus memikul kesusahan. Mau sekian puluh tahun tetap melajang, ya sudahlah.

Jadi, aku sebagai kakaknya baru menikah saat si adik sudah beranak tiga. Tak ada dikte, tak ada komplain. Sebab dari dulu kami terbiasa menghargai keputusan masing-masing.

Aku sendiri cuma sempat memberi nasihat kepada si adik, dulu sekali, "Jangan jadikan istri sebagai pabrik yang hanya untuk melahirkan." Melihat dari yang terjadi, tampaknya pesan kakaknya sudah dilupakan.

Lah, mungkin dia juga berpikir, jika mengikuti pola pikir kakaknya maka urusan kawin saja baru berani diputuskan setelah melewati kepala tiga. Sedang dia sudah terbiasa dengan keputusan sendiri sejak masih kepala dua.

Jadi, jika pesan kakaknya dilupakan, mau bagaimana lagi? Menyalahkan keputusannya, tentu saja bukan pilihan bijak. Sebagai kakak akhirnya hanya berusaha melihat pemandangan dari realita adiknya sendiri dengan sudut pandang positif.

Toh, ia masih muda. Kemampuannya mencari rezeki pun nyaris dipastikan masih jauh lebih kuat dan lebih panjang dariku sebagai kakaknya yang pelan-pelan sedang menuju usia 40. Soal apakah dia mampu tidak mengurus anak yang masih kecil-kecil, kuyakinkan diri juga bahwa ia pasti akan mampu.

Hematku, siapa pun itu ada potensi untuk beradaptasi dengan kondisi apa pun, terlebih kondisi yang memang diciptakan sendiri dengan sadar. Jadi, tak ada yang perlu disalahkan bukan.

Meski aku sendiri terbilang lamban "menambah jumlah", tak lantas aku membenarkan langkahku lebih benar daripada langkahnya. Sebab, masa depan pun misteri. Siapa tahu jika kelak anak-anaknya pun, mudah-mudahan, menjadi anak-anak yang mampu membanggakan orang tuanya.

Mengagetkan, iya, karena kepala kakaknya yang terlalu banyak matematika ini, acap melihat dengan kacamata angka dan analisis kemungkinan-kemungkinan. Meski begitu, akhirnya, sebagai kakak, aku memilih melihat dari kacamata lebih baik.

Tak ada yang perlu dihakimi dari keputusan seorang anak muda. Apalagi jika "si hakim" hanya menghakimi berdasarkan ketakutan demi ketakutan; bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu...dll.

Saya termasuk yang mengapresiasi keberanian, termasuk keberanian adikku memiliki anak lima sebelum ia berusia 30 tahun. Setidaknya ia telah melampaui ketakutan yang acap menggelayuti pikiran banyak orang.

Sebagai kakak, terlepas benar tidak keputusannya, tetap memiliki kebanggaan atas keberaniannya. Sebab, dari sejak kecil, jika ada yang kutanamkan kepada adik-adikku, "Menjadi lelaki harus berani."

Ya, keberanian mengambil keputusan itu sesuatu yang tak mudah, maka kenapa tetap berharga. Tinggal, bagaimana kelak juga berani menghadapi kemungkinan dan efek dari keputusan berani itu. Di situlah keberanian teruji.

Yang jelas, dalam banyak obrolan sejak ia masih remaja, aku juga sering mengatakan kepadanya, lelaki dan kata "berani" itu seperti tubuh dengan nyawa. Bahkan mati dengan keberanian tetap saja lebih mulia, daripada hidup sebagai lelaki yang hanya dibayangi ketakutan dan ketakutan dan kalah oleh bayangan itu.

Soal kemudian saat ini keberanian itu ditafsirkan seperti ini, ya sebagai kakak cuma berharap semoga itu belum menjadi tafsir akhir baginya.*
Posting Komentar
Adbox