dunia lain untuk bicara

15 Agustus 2017

Elarti: Menjawab Kaum Urban yang Beruban di Jalan


Sebagian besar penghuni Jakarta dan sekitarnya menyandang status sebagai masyarakat urban. Anda tahu, sebagian besar masyarakat urban itu sendiri justru beruban di jalan. Kenapa begitu? Dari jalanan yang penuh dengan hal-hal yang menjengkelkan, berbagai pemandangan mengundang frustrasi, hingga seabrek kondisi yang rentan membuat penghuninya sakit hati dan kepala, dari sanalah mereka kian beruban.

Ini sama sekali bukan sedang berguyon. Justru inilah yang juga diakui oleh seorang psikolog ternama nasional, Tika Bisono--syukurlah, uban beliau lebih banyak dari saya. Itu memang terungkap darinya saat acara Blogger Gathering: Quality Time untuk Hidup Lebih Bahagia di Jakarta Convention Center Senayan, persis di sela-sela Indonesia Property Expo yang berlangsung di sana, Senin (14/8).

Sebentar. Jangan terpaku pada cerita uban, meski ini memang sedang bicara masyarakat urban dengan segala tetek bengeknya—baca lengkap, jika tidak bisa saru tuh. Tapi memang uban dengan masyarakat urban itu seperti pengantin yang sulit dipisahkan.

Lha bagaimana tak mudah beruban jika di traffic light ada saja hal-hal yang bikin sakit hati—padahal hati sudah lebih dulu terlatih sakit saat ditinggalkan mantan. Bagaimana tak beruban jika kepala bisa lebih panas dari kawah Gunung Merapi nun jauh di sana. Juga, bagaimana takkan beruban, jika di kota yang lu gue tinggali ini penuh dengan hal-hal memanaskan telinga, memanaskan mata, memanaskan hati—lama-lama kompor gas jadi kehilangan fungsi.

Itu bukan bercanda, Pak, Bu, Mas, Mbak...
Saking begitu banyak yang mengundang perasaan panas, hingga rambut yang seharusnya cocok untuk iklan shampoo pria ini akhirnya teralih fungsi menjadi ladang perak (bukan ladang emas, ya). Apalagi memang ada catatan sih ya, dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek yang menyebutkan bahwa tidak kurang 1,4 juta kendaraan tumplek blek di Jakarta yang gemar ripah loh jinawi ini, saudara-saudara—apakah Anda merasa kalimat saya mirip ceramah K.H Zainuddin MZ? Gapapa, saya ikhlas lillaahi ta’ala.

Begitulah ceritanya, bagaimana uban di kepalaku dan di kepalamu tak bertambah tiap hari? Beruntunglah jika Anda adalah pria yang disayang istri, tiap malam bisa dibantu istri mencabut uban-uban itu hingga pelontos sekalian. Sedangkan istri saya sudah mengangkat bendera putih untuk mencabut uban-uban saya tersebut. Entah karena memang tak kuat lagi dengan rutinitas “cabut uban”, atau sengaja membiarkannya karena ia yakin dengan itu takkan ada bidadari dari langit ketujuh ataupun Planet Bekasi mau mendekat.
 
Anda bisa ke JCC hingga 20 Agustus ini, bukan untuk mbak yang itu, tapi agar lebih tahu LRT City - Dok: Pribadi
Lha, kenapa Bekasi? Ya, kembali lagi ke cerita kendaraan tadi. Bahwa dari Bekasi saja, planet terdekat itu (tapi jangan doakan planet itu pindah ke dekat matahari), “menyumbang” tidak kurang 571 ribu unit kendaraan yang tumplek blek ke Jakarta itu tadi. Angka itu setara dengan 38 persen dari total “sumbangan” yang tak bisa dikonversi ke celengan Jumat itu.

Jika saya protes ini keras-keras dan berteriak histeris dengan menyalahkan warga Bekasi, berabe. Manalagi entah bagaimana Tuhan menuliskan takdir, sepanjang bekerja di kota ini, atasan saya hampir selalu dari planet itu. Bayangkan, atasan saya saja berasal dari sana. Sedangkan bawahan? Sudah, itu mah cukup istri saya saja yang tahu.

Sedikitnya, itulah yang juga sempat dikeluhkan Tika Bisono yang notabene adalah psikolog, paham ilmu psikologi, ahli dalam masalah mental hingga kejiwaan. “Sekarang ini, saya saja bisa ‘main semprot’ jika sudah di jalanan,” curhat psikolog yang ramah ini. “Kenapa? Karena ternyata kondisi sekeliling kita, ketika kesesakan di mana-mana, kita pun acap merasakan dorongan emosi yang kuat.”

Maka itu, psikolog yang acap menjadi incaran kalangan media ini menggarisbawahi, bahwa dibutuhkan sarana dan prasarana yang juga mendukung agar orang-orang tak sampai beruban di jalan. Tampaknya Buk Tika ini paham, jika para suami tipe-tipe saya begini terlalu rajin memberikan side job cabut uban kepada istri.

Bukan Bu Tika saja, tapi memang ada banyak pendapat para pakar acap menyampaikan pesan, persoalan urban tak seremeh urusan uban. Uban, hanya dengan menyemir, maka Anda bisa mengibuli istri orang, tapi tak bisa mendustai istri sendiri. Maaf, agak berbau canda. Namun memang urusan kompleksitas masyarakat urban acap menjadi persoalan.

Dari kacamata saya pribadi, tak ada yang perlu disalahkan dari manusianya, melainkan dari sisi kebiasaan manusianya sendiri. Untuk kebiasaan ini sendiri, satu dengan lain mbok ya akan lebih leluasa untuk berubah, ketika satu dengan lain saling menyokong untuk lebih baik.

Lalu mengubah "kultur" negatif yang acap menyesakkan di tengah masyarakat kota sepadat Jakarta? Juga tak perlu menyalahkan mereka, melainkan ada usaha dari pribadi dan juga pemerintah. Di sini, pemerintah lewat badan usaha milik mereka, bekerja menciptakan solusi, dan LRT City memang dapat dikatakan sebagai sebuah ikhtiar untuk itu.

Ini senada dengan pendapat salah satu pakar dari Universitas Brawijaya Malang, Anang Sujoko-dikutip dari Okezone.com, 27/7/2015-bahwa Jakarta memang tak dapat menutup diri. "Mereka masih menganggap Jakarta adalah tempat tepat untuk perbaikan masa depan mereka," kata Anang. 

Terkait itu ada pakar lain, Emrus Sihombing dari Survey Lintas Nusantara, "Kita tak dapat mencegah para pencari kerja ke Jakarta--meski bisa membuat Jakarta semrawut. Mereka juga berhak atas masa depan yang mereka yakini di Jakarta," katanya. Maka itu, ia menyarankan pihak pemerintah agar dapat mengelola arus urbanisasi tersebut.

Nah, di situlah utusan PT Adhi Karya, Setya Adji Pramana turut menjelaskan kenapa pihaknya akhirnya turut berangkat dengan sederet ide—meski saya tak tahu, kepala pemilik ide-ide itu beruban atau tidak. Menurut sosok yang menjabat Project Manager Eastern Green, pihaknya menggagas konsep LRT City, karena memang menyasar kaum urban. 

“Sebab dengan cara ini, kebutuhan lazimnya kita kaum urban dapat terjawab, setidaknya karena akses ke berbagai tempat tak terganggu karena kekurangan sarana dan prasarana. Selain itu--dari kacamata keluarga--semua tak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di jalanan, karena kita pastilah ingin dapat membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan dengan baik,” kata pria yang mengaku jauh dari istri tersebut, lah. "Dengan LRT City, kami membantu menciptakan solusi di tengah rumitnya persoalan itu."

Setya Adji menambahkan jika pihaknya sejauh ini telah memiliki beberapa lahan yang berlokasi di titik nol kilometer stasiun LRT Jabodebek. "Itu yang kami kembangkan untuk menjadi kawasan hunian dan komersial," dia menambahkan. "Itu solusi kami tawarkan kepada masyarakat agar kaum suburban pun bisa mendapatkan hidup yang lebih berkualitas karena terbebas dari masalah kemacetan."

LRT alias Light Rail Transit itu sendiri memang telah digagas sejak beberapa bulan lalu karena memang menargetkan beroperasi pada 2019 mendatang.  Maka itu pihak PT Adhi Karya (Persero) yang menjadi “bapak rumah tangga” dalam urusan ini, disebut-sebut menyiapkan investasi tak kurang dari Rp 12 triliun.

Bagaimana caranya rencana ini bisa membantu menghilangkan uban? Sebentar, ini memang bukan untuk menghilangkan uban, tapi untuk mencegah uban bertambah banyak. Sebab, langkah ini merupakan gagasan yang sedang direalisasikan agar tercipta kawasan hunian dan komersial yang berada dekat atau terintegrasi dengan sistem transportasi massal atau Transit Oriented Development.
***
Saat obrol-obrol dengan Tika Bisono dan Nuniek
Apa yang paling “seksi” dari acara yang saya hadiri itu, justru jadi lebih tahu langkah mereka tempuh. Tidak sesederhana langkah saya yang sering gagal saat mencari pacar di masa lajang, tapi mereka membawa ide dengan memaksimalkan penggunaan angkutan massal secara terpadu. Agar kelak, tak ada lagi yang mengeluhkan uban seperti saya di sepanjang tulisan ini sementara enggan bergerak dengan kendaraan massal.

Dengan langkah terpadu, tak hanya seorang ayah dapat lebih memadukan hati dengan istri, melainkan juga membantu mereka untuk lebih dekat dengan keluarga. Lha iya bukan? Jika di jalanan sudah dilelahkan dengan berkendaraan sendiri, mencari alamat sendiri, ingin ke Semanggi nyasar ke Blok M, lalu menabur caci maki di sana sini, mau jadi apa kota ini?


Maka itu, rencana Transit Oriented Development ini, meski tak dapat menghilangkan uban di kepala saya, setidaknya kelak dapat menyelamatkan banyak orang agar tak cepat beruban di jalan. 

Jika mungkin masih penasaran, jangan paksa istri mencabut uban, tapi saya sarankan saja ke JCC karena acara masih ada di sana sampai 20 Agustus ini. Anda masuk, ke kanan, di sana akan Anda dapati lokasi di mana Anda bisa menemukan gambaran lebih jelas seputar Elarti ini.*
Para pria yang tak lagi perjaka di sela-sela para bidadari yang dikirim Tuhan untuk suaminya masing-masing, saat di Blogger Gathering LRT CITY, di JCC Senayan


Posting Komentar
Adbox