dunia lain untuk bicara

11 Agustus 2017

El Clasico dan Sedikit Cerita Saru

Di Spanyol, akhir pekan ini disibukkan dengan El Clasico. Ya, itu pertandingan FC Barcelona dengan Real Madrid. Mereka bersua lagi di Supercopa Espana yang di kita menjadi Piala Super Spanyol. Bagaimana di tengah kita? Masih seperti biasa, kita masih menjadi penonton saja.

Sepak bola mungkin hanya sekadar contoh, betapa kasta terendah dari olahraga itu adalah penonton. Padahal, usia olahraga ini itu sendiri bertahan ratusan tahun, dan pesepak bola makin kaya raya, justru karena penonton.

Tapi begitulah olahraga. Begitulah sepak bola. Mau bagaimana lagi?

Jadi kita sebagai sesama pemilik kasta terendah ini, mau bicara paling serius atau agak-agak serius, akan sama saja. Seperti saya menulis ini, sedang mencoba berada di level "agak-agak serius" saja. Kenapa? Ya, jika saya harus membuka data sepak bola lagi, panjang urusannya. Tapi kan para istri konon lebih suka yang panjang-panjang? Eh, ini kan kita sedang bicara sepak bola, kok malah lari ke istri.

Sebentar. Saya ingin bilang bahwa menjadi penonton itu tak enak. Yang kita dapatkan hanya kepuasan dari perasaan terhibur. Selebihnya, ya pikiran tetap harus bertahan di posisi "bekerja" untuk memikirkan asap dapur, pakaian anak istri, rumah, atau mungkin impian membawa anak istri berjalan-jalan di 99 negara. Kenapa 99? Lha, jika 69 jatuhnya justru saru bukan?

Apakah ada yang salah dengan hal-hal saru? Tidak, sih. Cuma, konon hal saru menjadi tak lagi seru jika terlalu sering dibicarakan. Jadi, lebih baik bicara bola saja lagi, ya.

Eh, sedikit lagi soal saru. Apakah ada dari penggemar sepak bola akan mengatakan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo menyimpan riwayat saru? Sepertinya takkan banyak. Soal, toh, mereka akhirnya menghamili pacar dan bahkan mendapatkan anak, masih tetap bisa terkekeh-kekeh dan bisa mengejar bola tanpa beban, bukankah agak menyerempet hal saru?

Ya. Tapi apa kelebihan mereka, justru karena mereka lebih mengidentikkan diri sendiri dengan sebuah spesialisasi yang tak mudah dipatahkan oleh banyak orang. Mereka cenderung terkonsentrasi ke sana, sehingga orang-orang pun terseret pada apa yang menjadi konsentrasi mereka; sepak bola.

Jadi, jika ada yang menyorot urusan ranjang dan semisalnya dan dihubung-hubungkan dengan mereka, mungkin saja karena di tengah kita acara infotainment seperti berita gosip memang jauh lebih laris daripada bagaimana membangun "brand" mendunia seperti dua bintang Barcelona dan Real Madrid tersebut.

Jadi, jangan heran jika di negara kita, termasuk kita sendiri, hanya terpaku sebagai penonton saja di dunia sepak bola. Sedangkan mereka justru menguasai dunia lewat olahraga itu. Sudahlah. Cukup itu menjadi kesalahan kita sendiri, tak perlu diwariskan hingga anak cucu. Untuk mereka, lebih baik diajarkan bagaimana mengejar apa yang paling diimpikan, dan menguatkan kaki dalam pengejaran itu tanpa terkecoh hal-hal tak penting.

Sebab, konon makin banyaknya orang-orang tidak penting hanya karena makin banyak yang meminati hal-hal tak penting. Berbeda jika mereka membiasakan diri dengan hal-hal penting, mau tak mau mereka akan tetap terlihat penting. Jadi, jangan pentingkan hal-hal tak penting.

Besok, ayo kita menonton lagi sepak bola itu, toh masih tetap nikmat. Cuman, ya jangan tersihir begitu rupa hingga lupa, bahwa ada batu-batu dan pondasi yang perlu dibangun sebagai jembatan, entah untuk anak keturunan sendiri atau mungkin siapa saja yang terdekat dengan kita.

Uhm, sudah begini saja dulu. Di mana cerita saru? Ya itu sudah ada di pikiran kita masing-masing.*

Posting Komentar
Adbox