Hitam Putih Kepala Kuli Tinta

03 Agustus 2017

Cerita Bekas Kuli Bangunan di Balik Dinding Gyproc

Di masa kuliah dulu, saya termasuk yang pernah nekat merambah ke pekerjaan sebagai kuli bangunan, hanya untuk bisa mendapatkan uang tambahan ketika "asupan nutrisi" dari orang tua sedang pas-pasan. Terbiasa mengaduk semen, menyusun batu-bata, dan tubuh dibakar matahari demi pekerjaan tersebut. Bayangan itu berkelebat lagi saat saya berada di Hotel Sheraton Grand Jakarta, Gandaria, Rabu 2 Agustus 2017.

Ya, itu kemarin, ketika saya datang sebagai undangan, dan berkesempatan ngobrol dan mengulik perkembangan dunia bangunan. Agak terkaget-kaget juga, melihat bagaimana perkembangan dunia bangunan sekarang, jauh sekali dibandingkan dengan pengalaman saya di zaman Belanda dulu, eh offside. 

Tapi memang benar, sekarang dunia bangunan juga mengalami evolusi sekaligus revolusi. Dulu kita hanya akrab dengan dinding batu bata tanah liat, hingga dinding batako, sampai ke dinding beton, hingga ke dinding bata ringan.

Dari pengalaman pernah "berkarier" sebagai pekerja bangunan era zaman kuliah (bukan zaman Belanda, lho), memang betul jika dalam menyusun bata saja rentan mendapati permukaan tidak rata, dan memang acap lekas meretak. Untuk memasang batu bata saja memerlukan sekian orang, dan itupun membutuhkan waktu tidak sedikit jika mencapai ketinggian 4-8 meter dan panjang kisaran 10 meter. Apalagi jika lebih tinggi dan lebih panjang lagi, bisa dibayangkan bagaimana saya harus berkeringat, badan bau keringat, dan teman sekampus yang jadi incaran pun memilih minggat sebelum dicegat.

Ini bukan cerita saya yang gagal "menipu" teman sekampus untuk jadi pacar lantaran bau keringat karena acap berkutat sebagai kuli bangunan hingga badan basah. Ini masih seputar perubahan zaman, yang tak lepas dari dunia bangunan.

Gyproc bahkan kuat untuk menahan beban satu motor - Gbr: Zulfikar Akbar
Belakangan memang telah ada yang namanya drywall, satu konsep bangunan dinding yang muncul sejak era 2000-an, meski era itu belum begitu meng-Indonesia. Dengan konsep  bangunan itu, tak ada cerita lantai berselemak cipratan semen dan pasir, tapi justru bersih selain juga ramah lingkungan karena masih bisa didaur ulang--terkait ini, sebagai pria beristri, tentu keperjakaan saya tak bisa didaur ulang.

Namun memang dengan drywall itu banyak kelebihan, selain juga membantu pekerjaan lebih cepat. Bayangkan saja, untuk pengerjaan konstruksi 20m2 per orang, atau lebih cepat 28 persen dibandingkan cara membangun era "zaman Belanda", eh zaman saya masih kuliah yang diselingi nguli, namun tak pernah diselingi kisah cinta yang mendebarkan seperti film Six Days Seven Nights. 

Lupakan kisah cinta saya yang saya paksa-paksa masuk dalam bahasan yang bau bangunan ini. Tapi memang bahan material untuk dinding sekarang berasal dari gypsum yang merupakan material tambang hasil dari pembangkit tenaga listrik dan limbah daur ulang dari aera itu.

Meskipun begitu, efeknya justru ia memiliki daya tahan tinggi, tidak membahayakan, dan tak membawa pengaruh buruk pada kesehatan. Selain, tentu saja menjanjikan kenyamanan dan efisiensi energi.

Ada yang bernama Habito, salah satu produk dari Gyproc, Saint-Gobain, yang berbentuk papan dengan ukuran standar 1200x2400. Habito ini memiliki ketebalan 12,5 mm dengan berat 12kg/m2, dan berstandar EN 520:2004. Bahan ini ramah lingkungan karena tidak beracun selain juga dapat didaur ulang. Istimewanya, bahan tersebut memiliki kemampuan menahan benturan ekstrem.

Ada lagi Glasroc yang merupakan papan gypsum yang anti air dan tak terpengaruh oleh persoalan kelembaban. Bahan ini juga memiliki ketahanan terhadap jamur, dan tak memerlukan waterproofing,di samping mampu menopang berat ubin hingga 30 kg/m2 dengan jarak stud 600 mm.

Kelebihan Glasroc juga, 30 persen lebih ringan dibandingkan cement board umumnya, pemasangan dua kali lebih cepat, mudah dipotong tanpa membutuhkan perkakas tangan listrik, mudah dipasang tanpa perlu dibor lebih dulu, dan bisa dikerjakan jauh lebih cepat dibandingkan jika kita memasang dinding bata tradisional.

Ada juga papan gypsum tipe XRoc yang bebas timbal dan mampu melindungi dari radiasi sinar X. Bahan ini memiliki sertifikat lolos uji sesuai standar internasional IEC 61331-1:2014 dari Radiation Metrology Group of Public Health England.

Menata ruangan lebih leluasa dengan bahan begini bukan? Foto: Zulfikar Akbar
Hal menarik juga dari papan ini, jika beton berongga membutuhkan ketebalan 375 mm, dinding bata 140 mm, beton bertulang 110 mm, maka papan XRoc hanya membutuhkan dua lapis yang masing-masing hanya setebal 12.5 mm. Bahan ini memang direkomendasikan sebagai material untuk bangunan rumah sakit, klinik, praktik dokter gigi, praktik dokter hewan, selain juga tempat-tempat apa saja yang membutuhkan perlindungan terhadap radiasi sinar-X.

Hal itu sempat dijelaskan panjang lebar oleh Hantarman Budiono yang merupakan Managing Director PT Saint-Gobain Construction Products Indonesia. "Bahan-bahan ini memang telah kami uji lebih dulu, sehingga jangan heran jika ketangguhan hingga kelebihannya berada di atas bahan bangunan lainnya," kata pria yang mengaku berasal dari Pulau Bangka tersebut. "Terutama di perkotaan yang memang menuntut efisiensi, maka bahan ini memang lebih dicari karena tak banyak makan tempat selain juga memudahkan pengerjaan dengan tetap menjanjikan keamanan."

Saya pribadi, sebagai seorang pria berstatus ayah dan suami, mengikuti perkembangan bahan bangunan ini tentu saja bukan ingin kembali alih profesi jadi kuli bangunan. Tapi, paling tidak sudah ada referensi saat ingin membuat dan membenahi rumah sendiri. Bagaimana dengan Anda? Jika tertarik ya juga silakan, tapi jika sekaligus tertarik dengan senyum saya juga boleh. Nah*

Posting Komentar
Adbox