dunia lain untuk bicara

16 Agustus 2017

Bagaimana Anda Membaca Isi Kepala Pria?

Anda tahu tidak jika sebagian pria itu memiliki isi kepala yang lebih rumit dari sekian model bentuk rambut? Tapi 'kan wanita juga gak lepas dari dunia mikir dan mikir, dari urusan make up hingga urusan make love, maksude mempercantik diri dan mempercantik dunia, hingga membuat dunia pun penuh cinta. Toh, make love itu dalam kamus pria yang polos-polos seperti saya ini berarti "menciptakan cinta". Sederhana bukan? Maksudnya kerumitan kepala pria itu sejatinya sederhana.

Bagaimana tidak sederhana jika dari bentuk kepala saja sudah ketahuan seperti apa kepala pria. Apalagi kepala seperti bentuk kepala saya, boro-boro ruwet, potongan rambut saja begitu-begitu saja. Tak pernah terpikir membuat rambut lebih menarik perhatian, semisal mengubah warna. Menjadi pink, misalnya.

Sederhana, tapi ruwet. Bagaimana tidak ruwet jika uban sudah mulai tumbuh satu persatu, dan tak ada uban yang bersedia meniru film-film Power Rangers yang bisa berubah saat bertemu makhluk luar angkasa. Bahkan jika ada kutu yang nempel pun si rambut tak bisa berbuat apa-apa. Hanya karena di dalam kepala masih ada otak saja, maka si rambut aman dari penjajahan segala jenis kutu, sehingga kutu anjing enggan ikut-ikutan melakukan ekspansi ke kepala pria.

Jangan-jangan saat saya makai analogi kutu begitu, Anda jadi membayangkan saya sebagai pria berambut penuh kutu? Jangan, buruk sangka itu tak baik.

Maksudnya, jangan menuduh si kutu itu tak punya pilihan lebih baik untuk nemplok di kepala yang lebih baik dan lebih menggoda. Sementara jika Anda berburuk sangka kepada saya, itu berbahaya lantaran dapat saja membuat Anda malah jatuh cinta, dan itu juga tidak baik, karena keperjakaan saya pun sudah terenggut--tak lama setelah pulang dari KUA.

Lalu, sebenarnya saya ingin bercerita tentang apa? Anda mau tahu? Saya tidak yakin, sebab banyak orang di zaman ini--sedikit berlagak tua--makin tak mau tahu.

Lha bagaimana tidak dibilang makin tak mau tahu, jika jumlah kutu di kepala istri saja tak ada pria yang mau tahu. Lalu bagaimana mereka bisa mengklaim diri sebagai pria yang baik dan menjadi suami yang penuh cinta, dan penyayang istri? Ya tidak ada yang mengklaim di depan saya, sih, tapi saya sendiri yang acap mengklaim diri begitu.

Saya kerap merasa bangga telah menjadi suami terbaik bagi istri, tapi kutu di kepala istri pun tidak tahu. Kira-kira begitulah saya. Pesan apa dari sini? Bukan saya sedang menghina atau menuduh istri sendiri berkutu, hanya sedang beranalogi, bahwa kita kerap melupakan hal-hal yang dinilai kecil, tapi lupa jika yang dikira kecil itu bisa saja sangat mengganggu.

Jadi, jangan mengecilkan semua yang kecil. Kecuali jika Anda sama sekali tak pernah punya pengalaman dijajah oleh kutu. Lha kok jadi membuka aib sendiri pernah berkutu? Tidak, itu bukan aib, toh saya dengan kutu tak pernah ke warung remang-remang, atau check in  ke hotel manapun. Hubungan saya dengannya, hanya hubungan biasa saja.

Uhm, jangan menyesal membaca ini. Sebab ini hanya ditulis begitu saja karena ingin pulang setelah deadline yang sudah mendekati tengah malam.*
Posting Komentar
Adbox