dunia lain untuk bicara

24 Juli 2017

Orkestra Alat Musik dari Sayuran hingga Chef Marinka

Jumat 21 Juli ini, hadir di Atrium Mall Senayan City menjadi kesan tersendiri. Kebetulan di sana sedang ada acara LG Linear Inverter, dengan menghadirkan orkestra paling memukau di antara yang sempat saya saksikan; menggunakan alat musik dari sayuran hingga kehadiran chef cantik Rinrin Marinka.

Well, berada di antara pengunjung yang lebih banyak berasal dari kalangan hawa, tak membuat saya sampai merasa "kurang laki".

Toh walaupun acara ini berbau masak-memasak, tetap saya simak dengan semangat tak kurang dari ibu-ibu. Secara, ya saya termasuk pria yang tetap merasa macho meski juga gemar masak-memasak dan bisa bersaing dengan istri dalam urusan ini he-he.

Lha iyalah, walaupun di rumah saya terbilang tipe suami yang hanya bersedia memasak saat sedang mood baik untuk berada di dapur, tapi lumayan seringlah berkutat dengan ulekan hingga memasak makanan kegemaran; gulai ikan yang sejauh ini belum bisa disaingi istri (lha, mau cerita acara di Senayan jadi pamer kemampuan sendiri. Mohon maklum, bapak-bapak rentan narsis jika punya kemampuan memasak).

Ya hari Jumat itu yang datang tak hanya dari Jakarta saja, melainkan juga ada dari Korea Selatan (nah, langsung keinget drama Korea, kan? Ketahuan). Maklum, selain grup musik yang dihadirkan juga berasal dari Korea, "boss besar" PT LG Electronics Indonesia, Jaeyong Lee juga hadir di sana. Ya, Pak Jaeyong ini adalah Presiden Direktur PT LG Electronic Indonesia.
Pak Jaeyong bicara masalah makanan

Apakah beliau setampan aktor-aktor Korea? Lha, bagi saya aktor Korea pun tak ada yang tampan. Harap maklum, seperti prinsip umum yang diam-diam sering dipegang kalangan pria, pantang mengakui pria lain lebih tampan ha-ha-ha.

Pak Jaeyong menjadi pembuka acara. Sekaligus ia juga bercerita kok sampai terpikir menghelat acara seunik ini. Katanya sih, ya, lebih tertuju kepada keinginan membangun kesadaran, terutama terkait pemborosan makanan.

"Pesan penting yang kami coba bawa dari acara seperti ini adalah untuk membawa pesan atas kesadaran soal pemborosan makanan," katanya--untung disampaikan dengan bahasa Inggris. Bukan bahasa Korea, secara saya menonton film Korea pun jarang.

Pak Jaeyong sempat melemparkan kritikan yang bahwa di tengah masyarakat memang ada kecenderungan melakukan pemborosan makanan. Sementara kita tahu, makanan itu adalah kebutuhan yang tak bisa dipisahkan dari keseharian. Sementara di tengah kita, jangankan di kafe di mana sering orang menyisakan makanan tanpa dimakan, di rumah pun acap abai sehingga makanan pun sering terbuang. Anda pernah begitu? Jangan dijawab, sebab saya sendiri juga punya "dosa" yang begini.

Menurut Pak Jaeyong, di tengah masyarakat modern, pemborosan makanan itu terjadi di mana-mana. Tampaknya memang ini nyaris seperti "dosa" yang kita lakukan nyaris tanpa perasaan berdosa. Padahal, di luar sana, ada banyak orang yang untuk mencari sepiring nasi pun harus bertaruh nyawa. Bayangkan saja contoh sederhana, banyak orang yang hanya ingin memenuhi kebutuhan perut rela mencuri hingga merampok--kecuali merampok uang negara seringnya lebih karena alasan bawah perut. Nah lho.

Pak Jaeyong tak hanya mengkritik, melainkan ia pun membeberkan angka dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Betapa, dari makanan terbuang telah membawa kerugian hingga 610 juta AS Dollar di negara maju. Bagaimana di negara berkembang, pun tak luput dari kerugian itu, sebab juga mencatat kerugian tak kurang dari 310 juta AS dollar.

Kenapa bisa begitu, karena per tahun saja ada 1,3 ton makanan terbuang sia-sia. Bayangkan.

Tapi iya, maka kenapa pihak yang punya hajat, maksudnya yang bikin acara sampai menghadirkan grup orkestra P Brosound, tak lepas dari kampanye itu. Betapa, mereka memanfaatkan makanan hingga berubah sebagai alat kesenian tak lepas dari betapa berharganya makanan. Jika Anda bisa menghargai seni, maka Anda bisa lebih menerjemahkan bagaimana berharganya makanan. Kasarnya, pengamen sehari-hari saja rela berpeluh ria di jalanan hanya untuk memburu makanan.
P Brosound unjuk kebolehan alat musik dari sayuran

P Brosound sendiri di mata saya memang tak hanya memamerkan kekuatan dan kelebihan seni orkestra. Walaupun iya, pertunjukan seperti ini seumur-umur baru saya lihat di acara ini saja. P Brosound memperlihatkan betapa dengan kemauan menghargai makanan, dorongan menciptakan hal-hal berharga pun akan lebih muncul. Contohnya mereka sendiri, dengan kreativitas bermusik dengan alat dari sayuran, bahkan membawa mereka dapat melanglang buana.

Apalagi musik mereka mainkan pun adalah genre musik terbilang elite; jazz! Biasanya untuk menyaksikan jazz harus merogoh kocek hingga jutaan. Kali ini saya bisa menyaksikan dan menikmati langsung di depan mata! Bayangkan, bagaimana nikmatnya hidup ini, eh hehehehe.

Sejujurnya, saya termasuk yang terkagum-kagum melihat mereka bisa menciptakan nada-nada dengan alat musik yang diolah dari sayuran. Mereka bisa menampilkan perkusi, saksofon, tak terkecuali terompet hanya dari bahan-bahan dari labu, paprika, hingga timun. Ebuset, saya sempat membantin, betapa kreativitas itu memang selalu memikat, terlebih ketika itu melahirkan sesuatu yang tak biasa.

Wait, tak hanya grup orkestra ini, sang chef yang cantik memukau Rinrin Marinka pun juga berbagi banyak cerita bagaimana membuat makanan tetap enak selain juga tak membuang-buangnya. Kebetulan chef ini dihadirkan di diskusi berlabel Pentingnya Kesegaran Makanan dalam Hidangan Sehat.

Menurutnya, satu hal yang juga menentukan kualitas satu masakan tak lepas dari kesegaran bahan makanan itu sendiri. Sebab, keliru dalam menjaga kesegarannya, dapat dipastikan berpengaruh pada rasanya, dan kita tahu jika ini justru sering menjadi alasan orang lantas kehilangan selera makan hingga sering membuang makanan. Betul? (Ini bahasa Kyai Zainuddin MZ sih).

"Di sinilah lemari es penting untuk menjaga kesegaran makanan," katanya, karena menurutnya itu membantu agar makanan terjaga kesegarannya.

Cukup sekadar kulkas? Ternyata tidak juga, sebab tak semua lemari pendingin itu mampu menjamin makanan yang ada tetap terjaga.

LG Inverter Linear yang juga dipamerkan di acara itu diyakini Marinka ideal sebagai jawaban.

Itu juga diterangkan Yuliana Yeonardy, Product Marketing of Home Appliances LG. "LG Inverter Linear punya kompresor khusus. Teknologi yang diandalkan bisa menjaga fluktuasi suhu," kata Yuliana yang menggarisbawahi bahwa suhu stabil dan merata menjadi kunci kesegaran makanan.

Bahkan, kesegaran makanan dari lemari pendingin itu juga menjanjikan kesegaran makanan lebih lama dari kulkas biasanya, namun tetap hemat energi. Gagasan lahirnya kulkas ini, menurutnya, memang tak lepas dari penelitian dilakukan pihaknya atas tren negatifnya banyaknya terjadi pembuangan makanan. Maka itu LG akhirnya menciptakan terobosan lewat LG Inverter Linear tersebut.*
Posting Komentar
Adbox