dunia lain untuk bicara

20 Juli 2017

Film Mars Met Venus, Realita Lelaki di Depan Dunia Perempuan

Premier Mars Met Venus di XXI Plaza Senayan
Dunia lelaki memang sulit dipahami wanita. Sedangkan dunia wanita, memang seperti misteri paling rumit dipecahkan pria. Film Mars Met Venus sangat mewakili realitas dua dunia yang memang terasa sejauh dua planet berbeda.

Tengah pekan lalu saya berkesempatan menyaksikan Premier film yang dibintangi Ge Pamungkas dengan Pamela Bowie ini, di XXI Plaza Senayan. Sihir film ini terbilang sangat kuat, hingga saya sebagai penonton bisa sekaligus terbawa masuk ke dalam jalan ceritanya sendiri dan di saat bersamaan terbawa ke dalam rentetan pengalaman sendiri.

Mars Met Venus terbilang lugas memaparkan bagaimana pola pikir lelaki yang cenderung tricky, dan perempuan yang sarat misteri. Juga, bagaimana laki-laki yang kerap ingin terlihat gagah di depan pasangan, namun kerap menyimpan gelisah diam-diam. Lelaki bisa tertawa terbahak-bahak seolah tanpa persoalan, tapi tak segan memaki diri sendiri tiap kali gagal menerjemahkan bahasa perempuan.

Kelvin yang diperankan Ge Pamungkas mewakili dunia pelik lelaki--terutama di Part Cowok, satu dari dua part film ini. Ia memang menunjukkan karakter lelaki yang apa adanya; meski bisa berbohong, namun tak pernah mampu berbohong dengan sempurna di depan Mila (Pamela Bowie).

Adegan paling mewakili kesulitan pria berbohong dengan sempurna adalah saat pasangan Kelvin dan Mila berada di kafe. Seorang perempuan berpakaian seksi turut masuk dan duduk tak jauh dari mereka.

Di sinilah sebuah sisi kontras lelaki dan wanita terlihat. Mata Kelvin selayaknya lelaki umumnya seketika bergerak bak ditarik oleh magnet, tertuju ke arah perempuan berbaju seksi tersebut. Selayaknya lelaki yang memang acap tricky, Kelvin memang terlihat berusaha melirik sealamiah mungkin. Tapi di situlah petakanya.

Kelvin yang mengira Mila hanya asik dengan kegiatannya yang sedang membaca sesuatu, dan sorot mata yang sama sekali tak terarah kepadanya, tertangkap basah! 

Mila mampu mencium aksi Kelvin yang mencuri-curi pandang ke arah perempuan seksi tersebut, meski ia sendiri seperti tak memerhatikan ulah pacarnya itu. Alhasil "perang dunia" pun terjadi; Kelvin mewakili kalangan pria yang hanya bisa mengangkat bendera putih karena menyadari ia bersalah.

Adegan itu cukup memuat pesan, jika bersalah dan pasangan Anda mengetahui itu, lebih baik mengakui saja.

Ada juga adegan lain, saat mereka juga sama-sama sedang di kafe, Mila meminta Kelvin yang memilih makanan untuknya karena sedang malas memilih sendiri.

Saat Kelvin yakin bahwa menu yang dipilihnya akan disukai pacarnya, dia pun dengan penuh semangat memesan kepada pelayan. Di luar dugaan, ia kena "semprotan" pacarnya tersebut. "Kamu tidak tahu aku sedang diet. Masak sih kamu tega memilih makanan bla bla bla!"

Berkali-kali ia memilih menu lain yang diyakininya disukai Mila, Kelvin selalu salah! Sampai akhirnya Mila sendiri yang memilihnya. Pilihannya? Ternyata makanan yang sama yang sebelumnya sudah dipilihkan oleh Kelvin.

Jika Anda pernah pacaran dan tak pernah mengalami situasi itu, saya yakin dunia pacaran Anda membosankan. Itulah yang berkelebat di benak saya saat melihat adegan Mila dan Kelvin yang acap berseteru tak ubahnya "Tom and Jerry". 

Terlepas dari seabrek perdebatan mereka di film ini, tapi yang terpampang memang hal yang apa adanya. Terutama jika Anda pernah pacaran, pernah memaksa pikiran sebagai lelaki umumnya dalam melihat perempuan, maka film ini "menelanjangi" Anda di depan hidung Anda sendiri.

Tapi terlepas dari keruwetan pikiran masing-masing dan begitu banyaknya perbedaan, tapi mereka tetap saling cinta, saling menumpahkan air mata, saling merindukan.

Film ini memang bergenre komedi. Tapi ada kelebihan disuguhkan di sana adalah pesan-pesan positif yang disampaikan dengan cara-cara jenaka. Terlebih Ge Pamungkas sendiri terkenal sebagai komedian, membuat pesan positif dari film ini bisa Anda serap tanpa merasa sedang digurui.

Di antara pesan penting, jika Anda memiliki pasangan, maka keliru dan hanya mengundang petaka jika gegabah dalam memahami dunia perempuan. Selain itu, lelaki pun perlu mengasah rasa agar dapat lebih memahami dunia perempuan yang memang tak jauh dari dunia perasaan; kecerdasan perempuan sering sulit terkalahkan oleh lelaki justru karena perempuan bisa muncul dengan inteligensi dan emosi yang tinggi. Lelaki yang hanya mengandalkan akal saja menghadapi perempuan, ibarat "berperang" dengan satu senjata, ketika "lawan" memiliki segala senjata.

Tapi "perang" di sini tentu saja bukanlah kekerasan, tapi bagaimana satu sama lain dapat saling menaklukkan diri sendiri demi dapat menjaga hubungan. Lelaki dan perempuan memang berbeda, tak sekadar karena berbeda jenis kelamin, tapi ada seabrek perbedaan termasuk dalam melihat dan menghadapi realitas sehari-hari.

Di sini, Kelvin memerankan realitas dunia lelaki, yang memang acap kewalahan memahami perempuan. Tapi Kelvin berusaha keras untuk dapat semakin memahami pasangannya tanpa berhenti, sebab berhenti sama artinya mengingkari kata-kata sendiri sebagai lelaki; yang punya ikrar melindungi dan membahagiakan kekasih hati.*
Posting Komentar
Adbox