Hitam Putih Kepala Kuli Tinta

22 Juli 2017

Bennington Mati Hanya Demi Menemani Sahabat

Bennington hadir di pemakaman sahabatnya, Chris Cornell, yang juga bunuh diri - FOTO: Chris Pizzello/AP
Tengah pekan melewati pertengahan bulan Juli 2017, kematian vokalis Linkin Park, Chester Bennington, menyita perhatian publik dunia. Tak hanya berita dari media mainstream, catatan pribadi saya tentang sosok yang memutuskan mati bunuh diri itu di Kompasiana; Chester Bennington dan Keputusan Mati dengan Cara Sendiri yang saya tulis berselang jam setelah kematiannya, mendapatkan viewer lebih dari 10 ribu dalam satu hari.

Cukup menjadi petunjuk, Bennington yang juga belakangan berkarier di  Stone Temple Pilots itu adalah figur yang sangat dikagumi dan cukup memiliki pengaruh di jagat musik dunia. Pertanyaannya, apa yang paling penting dari berita kematiannya hingga ia paling dicari?

Dalam obrol-obrol dengan teman-teman penggemar musik cadas, tak sedikit yang secara lugas mengatakan jika yang bikin penasaran banyak orang atas berita penyanyi kelahiran 1976 itu adalah keputusannya bunuh diri. Belum tentu semua pembaca kabar tentangnya itu adalah  mereka yang benar-benar mengaguminya atau menyukai musik diusungnya.

Ada juga yang berpandangan bahwa Bennington berpengaruh karena ia memiliki catatan panjang dalam kehidupannya. Entah ada yang mungkin pernah memiliki perjalanan hidup mirip dengan dirinya, hingga membutuhkan "suplemen" agar tetap kuat.

Terlebih bukan rahasia jika kehidupan Bennington, di luar ingar bingar dunia hiburan digelutinya, sarat kekerasan yang--entah karena takdir--menempatkannya sebagai korban, dari kecilnya. Tak sedikit yang menjadikannya sebagai sosok inspiratif lantaran beratnya kehidupan dijalaninya, tak dapat menghalangi perjalanan kariernya di dunia musik hingga mendapatkan pengaruh sampai level dunia.

Tapi boleh jadi memang pengagumnya adalah mereka yang mengagumi cerita hidupnya dan juga warna musik diusungnya. Apalagi di  puncak ketenarannya dia dinilai mampu merepresentasikan pergolakan batin kalangan muda.  Terbukti, ketika album perdananya (Hybrid Theory) rilis, Linkin Park mendapatkan nominasi Grammy Award dalam kategori "Best Rock Album".

Chris Cornell (kedua dari kiri) dan Chester Bennington (kedua dari kanan) - FOTO: AP
Tak berhenti di sana, ketika album keduanya dilempar ke pasaran--bertitel; Meteora--terjual hingga 27 juta keping. Dari hampir 30 juta album laris di pasaran, dapat ditebak, puluhan juta kuping lainnya menjadi penikmat dan kelak menjadi pemujanya.

Mau tak mau akhirnya dapat dikatakan, bagi penggemar musik rock alternatif, Bennington telah menjadi magnet tersendiri, atau bahkan telah menjadi dewa yang tak hanya membawakan gairah tapi juga "ayat-ayat suci" yang dikemas dengan keras hingga melengking. Sebab dia memahami, keindahan tak selalu berjalan dengan ketenangan, karena perjalanan hidup justru mengajaknya lebih banyak melihat hal keras sejak kecilnya.

Obat-obatan memang pernah membuatnya sangat ketergantungan. "Bahkan saat kami sedang mengadakan konser, hampir tak ada yang menggunakan barang itu. Kami berpesta dengan itu," salah satu pengakuannya.

Terlebih, seperti diwakilkan lewat album debut Linkin Park, Hybrid Theory, yang rilis 24 Oktober 2000, mengakui jika mereka hanya ingin berpijak pada realita yang apa adanya. Mike Shinoda pernah menjelaskan jika album itu adalah wakil dari emosi yang bisa dialami siapa saja saban hari, dan apa saja yang terpikirkan setiap hari.

Di majalah Rolling Stone No. 891, 14 Maret 2002, Bennington sendiri juga sempat menjelaskan album perdananya di Linkin Park itu, Hybrid Theory. "Lagu ini lebih berbicara soal bagaimana bertanggung jawab atas apa saja yang telah Anda lakukan. Saya tidak mengatakan 'Anda'
itu merujuk pada sesuatu," katanya. "Ini adalah sesuatu di dalam diri saya sendiri yang akhirnya menjatuhkan diri sendiri--dan saya luapkan di dalam lagu-lagu ini."

Di Linkin Park, Bennington memang menjadi salah satu yang paling berpengaruh, selain Shinoda. Keduanya memang ibarat dua tangan dalam satu tubuh, yang tak pernah berhenti bekerja sama. Mereka kerap membuat lirik lagu bersama-sama, selain juga di panggung konser pun ia acap berbagi peran dengan Shinoda. Menariknya, karakter dan keahlian vokal Shinoda yang cenderung ke hip-hop, mampu terimbangi dengan baik dengan style vokal Bennington yang melengking dan sarat emosi.

Dalam bekerja, Bennington dan Shinoda memang dapat bekerja sama dengan baik--terlepas para fan acap terpecah dua antara memujanya atau memuja rekan segrupnya itu. Tapi tampaknya dalam kehidupan sebenarnya, dia merasa lebih dekat dengan sosok lainnya lagi,  Chris Cornell yang melejit sebagai vokalis Soundgarden dan Audioslave.

Maka itu dalam berteman pun ia lebih memilih yang diyakini paling mewakili karakter dan "rekaman perjalanan hidup" tak jauh  darinya. Chris Cornell yang lebih dulu memilih mati dengan bunuh diri, menjadi salah satu sosok paling berpengaruh kepadanya. Pertemanannya dengan Cornell yang merupakan bekas lead singer Soundgarden dan Audioslave tampaknya sangat memengaruhi perjalanan  karier dan hidupnya; termasuk akhir hidup.

Saat penguburan Cornell, Bennington sempat hadir dan sempat melengkingkan dukanya lewat lagu. Selain itu dia juga menuangkan kesedihan mendalam. Di media sosial Twitter, ia lagi-lagi menuliskan dukanya yang memuncak karena kematian sahabatnya itu.

"Kau telah menginspirasi dalam banyak hal yang kausendiri takkan menyadarinya. Talenta kaumiliki sangat murni dan tak tertandingi, suara kaumiliki adalah gabungan kegembiraan dan kepahitan, kemarahan dan maaf, cinta dan sakit hati, dan semua itu menyatu. Kudoakan kautemukan kedamaian di kehidupan berikutnya," begitulah dia mewakilkan kesedihan kehilangan seorang sahabat.

"Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya dunia ini tanpa kau di sini," tulisnya di catatannya yang diunggah ke Twitter, 18 Mei 2017.

Hanya dua bulan. Ya, setelah dua bulan Cornell diketemukan mati bunuh diri, Bennington sempat datang dan menyanyikan lagu "Hallelujah" milik Leonard Cohen. Dia sendiri menyusul, dengan cara menyerupai sahabatnya. Seolah ia ingin memberi jawaban atas gugatan yang sekilas enggan dijadikan pertanyaan, " Who cares if one more light goes out. In the sky of a million stars..."--penggalan lirik One More Light.
Aksi Bennington di atas panggungnya - FOTO: Independent.co.uk

Maka itu, kematiannya menyisakan pertanyaan, sepenuhnya karena ia merasakan musik yang diakrabinya tak cukup keras dibandingkan kehidupan sebenarnya? Atau, ia ingin menunjukkan, kehilangan "satu cahaya" tak berarti ia bisa melupakan; sahabatnya sendiri.

Seolah ada keinginan kuat untuk menyamai sahabatnya itu termasuk saat memutuskan bunuh diri. Mei lalu, saat Cornell memutuskan  bunuh diri, dengan cara menggantung diri. Bahkan itu dilakukan bertepatan dengan tanggal ulang tahun Cornell, 20 Juli.

Maka itu, kematiannya menyisakan pertanyaan, sepenuhnya karena ia merasakan musik yang diakrabinya tak cukup keras dibandingkan kehidupan sebenarnya? Atau, ia ingin menunjukkan, kehilangan "satu cahaya" tak berarti ia bisa melupakan; sahabatnya sendiri.

Setidaknya beberapa sahabatnya sempat membuat pengakuan, di tengah semua kepelikan hidupnya tak ada yang melumpuhkannya. Ketika ia menghadapi hidup yang terlalu keras, Bennington selalu membuktikan kerasnya hidup takkan mampu memukulnya.  "Dia hanya mengalami kesulitan untuk bangkit dari keterpurukan justru setelah kematian Cornell," kata salah satu sahabatnya.

Katakanlah itu sebuah kekonyolan jika alasan kematiannya dengan cara itu hanya demi sahabat. Kita mungkin hanya dapat menghakimi, tapi apa yang ada di benaknya yang aktif bergolak layaknya musik cadas yang pernah menjadi nyawanya; hanya dia yang benar-benar tahu. Dan, Tuhan, tentu saja yang mungkin saja sedang memintanya menyanyikan lagu terbaik darinya.*


Surat duka Bennington, 18 Mei 2017

Posting Komentar
Adbox