dunia lain untuk bicara

16 Juni 2017

Rukem, Rukun Kematian di Pedesaan Lumajang



Rukem di pedesaan Kabupaten Lumajang
(Foto : Zuhriyah)

Akhir Bulan April 2017 yang lalu penulis mendapat tugas ke Kabupaten Lumajang, tepatnya di Desa Pasrujambe, Kecamatan

Pasrujambe. Dalam perjalanan ke dan dari wilayah tersebut selalu saja penulis melihat bangunan yang posisi di tepi jalan. Bangunan itu permanen, berukuran  kira-kira 2 m x 3 m, biasanya bentuknya segi empat dan bercat putih. Penasaran penulis menanyakan ke pemiliki home stay (Pak Giyo) tentang bangunan tersebut.

Dari penuturan orang tua tersebut bangunan yang dimaksud itu nama RUKEM yang merupakan singkatan dari Rukun Kematian. Selintas dalam benak penulisan tentang rukem adalah buah bulat kecil yang berwarna ungu-ungu yang pada waktu kecil penulis selalu diemut untuk mencari rasa asam dan manisnya. Selanjutnya bapak itu cerita bahwa setiap RT di desa pasti memiliki satu Rukem. Jadi kalau misalnya dalam satu desa ada 50 RT berarti ada 50 rukem di desa tersebut.

Kemudian dengan ditemani kopi dan goreng singkong sang Bapak tadi bercerita bahwa ada dua pemaknaan Rukem itu, rukem sebagai sebuah bangunan yang fungsinya sebagai tempat untuk mengumpulkan barang-barang seperti piring, gelas, sendok, garpu, kuali dan macam-macam alat lainya yang diperlukan pada saat hajatan nikahan, khitanan, kematian atau berkaitan dengan acara keagamaan.

Pemaknaan lain dari Rukem adalah kumpulan dari warga satu wilayah atau (dalam konteks ini saya menuliskan RT). Di mana setiap warga terikat dengan rukem-nya masing-masing untuk terlibat dalam setiap kegiatan yang ada di ke-RT-an tersebut. Menurut Bapak Giyo, setiap Rukem ada kepengurusannya sendiri yang bertanggung jawab untuk mengatur dan mengelola rukem tersebut.

Pertanyaan lanjutan penulis adalah dari mana warga memperoleh dana untuk mendapatkan barang-barang tersebut? Bapak Giyo mengatakan bahwa di RT-nya biasanya ada kumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak bentuknya semacam arisan. Dalam seminggu mereka berkumpul satu kali dengan hari yang disepakati bersama. Setiap bapak dan ibu dari arisan tersebut dikumpulkan uang Rp 1.000,- jadi perkeluarga Rp 2.000,- yang disatukan dan diserahkan ke bendahara rukem. Kumpulan uang dari bapak-bapak akan dibelikan tikar, meja dan sound (tapi biasanya barang-barang ini tidak dimasukkan ke dalam rukem tapi ditempatkan di rumah salah satu warga). Kumpulan uang dari ibu-ibu dibelikan barang-barang pecah belah dan alat-alat dapur yang nantinya akan dimasukkan ke dalam rukem. Apabila barang-barang sudah mencukupi maka uang arisan yang terkumpul dapat dipakai untuk membantu warga yang sakit, kemalangan atau hajatan.

Dalam hati saya berfikir kalau ada hajatan untuk ukuran 100 orang mungkin warga RT di wilayah tersebut tidak  pusing-pusing lagi mikirkan barang-barang/alat-alat kebutuhan hajatan, tinggal koordinasi saja sama pengurus rukem, kapan butuh tinggal ambil, tidak sewa lagi. 

Masyarakat desa masih kuat dengan kearifan lokal yang mereka bangun sendiri dengan kekuatan mereka sendiri pula.  Kearifan lokal yang mereka miliki juga berfikiran melampaui batas waktu, bukan saja untuk sekarang tapi untuk anak cucu mereka nanti. Ini yang saya gumamkan dalam hati. Saya pikir hampir di wilayah pedesaan Indonesia memiliki kearifan lokal yang mungkin berbeda mekanismenya namun tujuannya sama. Tinggal yang menjadi pekerjaan yang berat saat ini adalah merawat kearifan lokal serta mentransfernya ke generasi berikutnya.

Salam



John Pluto Sinulingga
Posting Komentar
Adbox