To Learn and Inspiring

Pengunjung

Perempuan Petani Antara Realitas dan Harapan

Indonesia yang terkenal merupakan negara agraris. Predikat ini disematkan karena keterlibatan puluhan juta petani yang tinggal di pedesaan memiliki matapencaharian di sektor pertanian. Namun pada kesempatan ini saya coba untuk mengambil issue tentang perempuan petani.

Perempuan petani di sini maksudnya adalah mereka yang mengelola satu atau lebih dari kegiatan usaha pertaniannya, yang artinya mereka bukan hanya sekedar membantu dalam proses pertaniannya atau sebagai buruh tani tapi mereka ikut juga mengelola dan bertanggungjawab penuh dalam kegiatan usaha taninya.

Menurut BPS berdasarkan hasil sensus pertanian 2013 jumlah petani di sektor pertanian berdasarkan jenis kelamin  perempuan adalah 7,343,180 orang http://st2013.bps.go.id/dev/st2013/index.php/site/tabel).  Demikian juga La via Compesina Region Asia Tenggara mencatat 70% pekerja pertanian adalah perempuan. FAO mencatat kontribusi produksi pangan di dunia 80% oleh perempuan (https://wartafeminis.com/tag/perempuan-petan).

Dengan data di atas menggambarkan bahwa perempuan petani juga memainkan peran yang sangat penting dalam sektor pertanian. Perempuan petani mengambil bagiannya dalam proses produksi sampai pada distribusi hasil pertanian baik untuk keluarga maupun masyarakat. Namun di sisi lain, perempuan petani juga mengalami berbagai macam ketidakadilan mulai dari diskriminasi, subordinasi dan marginalisasi peran mereka dari sector pertanian.

Banyak sekali persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para perempuan petani dalam menjalankan proses produksi sampai kepada pendistribusian produk yang mereka hasilkan. Perempuan petani tidak mempunyai hak kepemilikan atas lahan. Penguasaan sumber-sumber daya agraria oleh perempuan petani sangat kecil dibandingkan oleh laki-laki petani. Perempuan petani juga tidak memiliki akses kredit untuk benih atau pupuk.

Dalam hal akses ini laki-laki petani diberikan peluang yang lebih besar daripada perempuan petani disebabkan karena laki-laki petani adalah sebagai kepala keluarga dan semua sumber daya agraria yang dikuasai diatasnamakan laki-laki. Dan kesempatan perempuan petani untuk mendapatkan akses pendidikan sangat rendah dibandingkan laki-laki petani. Karena anggapan masyarakat bahwa setinggi-tingginya perempuan berpendidikan, maka akan kembali mengurusi dapur, sumur dan kasur.

Bahkan perempuan petani  tidak memiliki akses untuk dapat memasarkan atau mendistribusikan hasil produksi. Kenapa perempuan tidak memiliki akses ke pasar? Ini karena anggapan masyarakat bahwa semua yang berhubungan dengan publik bukan ranah perempuan. Persoalan-persoalan terus dikonstruksi di dalam masyarakat dan mengakibatkan terjadinya pemiskinan perempuan petani. Penyebab utamanya adalah karena tetap dilanggengkannya budaya patriarkhi di dalam masyarakat.

Dengan realitas tersebut bagaimana perempuan petani dapat keluar dari lingkaran tersebut,  memperbaiki pendapatan dan kesejahteraan mereka dan juga untuk  membangun jaringan di antara perempuan petani sendiri dan stakeholder lainnya? Ini merupakan pertanyaan mendasar yang tidak mudah diselesaikan. Membutuh tenaga, pikiran, waktu yang panjang serta keberpihakan untuk menuntaskannya.

Menurut saya hal kecil yang dapat dilakukan untuk menyelesaian persoalan tersebut harus dimulai dengan membangun kepercayaan diri dan kesadaran  perempuan petani. Membangun kepercayaan diri dan kesadaran perempuan petani juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. banyak hambatan budaya yang sudah terkontruksi dalam masyarakat. Namun saya kira yang penting dilakukan diawal adalah dengan pengorganisasian. Pengorganisasian ini dapat dilakukan dengan musyawarah dan bermacam pendidikan-pendidikan (misalnya ; pendidikan kaum marginal, pendidikan kritis,  pendidikan yang berhubungan dengan matapencaharian mereka (pendidikan pertanian berkelanjutan atau pendidikan pengolahan pangan), pendidikan keadilan gender dan masih banyak lagi pendidikan yang nantinya disesuaikan dengan kebutuhan perempuan petani).

Terbangunnya kepercayaan diri dan kesadaran ketika  sampai pada tahap para perempuan petani sepakat membentuk/membangun organisasi sebagai wadah mereka untuk melakukan berbagai macam hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka. Dengan organisasi tersebut perempuan petani dapat melakukan kegiatan secara bersama-sama yang bertujuan untuk menambah income sekaligus membangun kesejahteraan. Produksi-produksi yang mereka hasilkan (misalnya ; beras dan sayur organik, olah pangan, ikan, hasil ternak) juga dapat menggunakan organisasi sebagai alat untuk membantu memasarkan kepada konsumen.

Organisasi ini juga akan menjadi kendaraan untuk membangun hubungan dengan jaringan stakeholder (misalnya ; pasar dan konsumen, institusi swasta, pemerintah, organisasi rakyat sipil, lembaga pendidikan dll) sekaligus juga dapat melakukan advokasi ke pihak lain yang nantinya akan menjadi mitra dalam melakukan usaha bersama. Organisasi juga dapat dijadikan sebagai wadah perempuan petani  untuk berekspresi secara bebas dengan sumber daya dan kemampuan yang mereka miliki.

Seperti yang saya sebutkan di atas persoalan ini bukan hal yang gampang namun butuh waktu yang panjang dan terus-menerus untuk untuk membangun kepercayaan diri dan kesadaran perempuan petani. 

salam 

John Pluto Sinulingga
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?