To Learn and Inspiring

Pengunjung

Parenting untuk Blogger: Lebih Dekat dengan Masalah Pencernaan Anak

Diskusi seputar pencernaan anak diadakan Enfaclub dan MeadJohnson di Tanamera Cafe Jakarta

Menjadi seorang ayah tak berarti berhenti belajar. Itulah yang terbetik di benakku ketika seorang sahabat, Elisa Koraag, mengabarkan ada acara seputar masalah anak, Sabtu (17/6).

Ya, terlebih anakku, Shadia Humaira, yang baru beranjak usia dua tahun dan baru disapih. Sejak menjelang disapih sudah diperkenalkan dengan susu sapi agar membantu pertumbuhannya.

Memang sejauh ini nyaris tak ada masalah berarti sepanjang anakku beralih dari ASI ke susu sapi. Tapi ini tentu bukan alasan untuk menutup diri dari mencari berbagai informasi, terutama yang berhubungan langsung dengan pertumbuhan anak.

Apalagi, meski saat ini anakku baik-baik saja, tapi saat ia masih usia setahunan sempat juga mengalami kondisi mengarah ke alergi yang anehnya justru terjadi ketika ia masih mengonsumsi ASI.

Maka itu berjaga-jaga agar tak terulang lagi, belajar dari pengalaman, membetot perhatian saya setiap kali ada apa saja seputar anak; entah dari situs seputar dunia anak hingga acara-acara bertajuk masalah anak.

Terlebih acara itu sendiri memang mengangkat tema tak jauh dari cara mengatasi bayi alergi susu sapi.
Sebab, sebagai ayah, menambah wawasan baru lewat diskusi begini terasa sebagai sebuah panggilan yang harus dipenuhi. Apalagi, bagi saya, memberi untuk anak tak selalu cukup hanya sekadar memenuhi kebutuhannya secara materi, tapi juga perlu mendampingi pertumbuhannya dengan ilmu memadai.

Jadi, di hari acara itu berlangsung, bersama anak dan istri, kami merambah jalanan Jakarta. Mengendarai motor di tengah hari, berangkat lebih cepat hanya agar tidak terlambat. Soal haus dan lapar karena puasa tak menjadi keluhan, lantaran jarang-jarang juga menghadiri acara edukatif yang memang punya kaitan dengan parenting itu.

Ada semangat menggebu-gebu karena terngiang apa yang terbetik saat sahabatku yang acap disapa Buncha mengabarkan acara itu, "Menjadi seorang ayah tak berarti berhenti belajar". 

Sugesti itu juga yang kuutarakan kepada istri. Jadilah kami berangkat saat udara Jakarta sedang hangat-hangatnya.

Si kecil, Shadia, turut kubawa karena memang acara itu memperbolehkan untuk membawa anak. Kebetulan sedang libur, sekalian jalan-jalan, dan si kecil yang baru berusia dua tahun paling gemar diajak jalan-jalan, kami merambah jalanan.

Anakku sendiri memang acap kubiasakan untuk bepergian untuk mengajarkannya berpikiran terbuka, dan ia terbiasa melihat berbagai potret realitas di sekelilingnya.

Selain juga, sejauh ini aku meyakini bahwa membangun kedekatan anak dan membantu pertumbuhannya, salah satunya adalah sering melibatkannya pada berbagai aktivitas; agar kemampuannya bersosialisasi terasah dari dini, dan ia dapat merasakan keakraban lebih kuat dengan ayahnya.

Tiba di lokasi ketika di sana hanya baru ada panitia dari Enfa Club dan MeadJohnson, yang mengadakan acara tersebut. Sempat kaget, kami tiba terlalu cepat, karena belum ada peserta lain yang datang.
Saat diskusi pencernaan anak belum mulai

Wislah, saat panitia sedang sibuk menata beberapa hal yang harus ditata, dan pekerja Tanamera Cafe sedang sibuk mengatur berbagai menu untuk acara tersebut, kumanfaatkan waktu untuk bermain dengan Shadia, si kecilku.

Kebetulan sekali, acara itu diadakan di kafe yang terbilang sejuk. Berada di lantai dua, dan diapit banyak pohon, si kecil merasa di lingkungan sendiri.
Menuju tempat diskusi parenting dengan Enfaclub

Bagaimana tidak, nyaris saban hari ia biasa diajak ke taman yang ada di kawasan Permata Hijau, tak jauh dari rumah, sehingga ada kecenderungannya cepat akrab dengan suasana yang dirasa olehnya punya atmosfer lingkungan yang mirip.

Soal kami datang terlalu cepat tak lagi terasa sebagai hal janggal. Sudahlah, ini lebih baik daripada terlambat, lantaran di undangan pun tertulis acara diadakan pukul 15.00, walaupun kemudian sempat harus menunggu sebagian peserta lain yang terjebak macet atau karena berasal dari kawasan yang relatif jauh dari lokasi.
Sebelum acara soal pencernaan anak dimulai, anakku memulai lebih dulu dengan selfie


Di sela-sela itu juga, peluang untuk mengajak si kecil bermain-main pun terasa lebih leluasa. Apalagi dari jendela kaca di ruangan Tanamera Cafe, ia leluasa melihat pepohonan yang ada hingga mobil-mobil yang melintas.

Satu persatu peserta lain datang. Shadia pun terlihat menyatu dengan situasi di lokasi acara. Saat acara berlangsung pun Shadia menunjukkan sinyal, ia betah di tempat ini.

Meski di sekelilingnya dipenuhi para ibu-ibu, ia terlihat tidak canggung, dan tetap masih dapat bermain; ngoceh, bercerita ala dia, hingga jalan-jalan dari kursi ke kursi.
***
Tak sia-sia. Ketika masuk ke sesi acara, mereka yang menjadi pakar di bidangnya menyampaikan banyak hal seputar dunia anak, bagaimana mencermati perkembangan mereka, hingga anjuran jeli memerhatikan berbagai kondisi anak.

Persoalan pencernaan anak menjadi topik utama di acara tersebut. Dr Ariani Dewi Widodo, Sp.A, yang memang berlatar belakang spesialis anak, bersama M. Nuh Nasution yang merupakan ahli dari Enfa A Plus (Enfa A+), secara bergantian membahas persoalan anak dan pencernaan.
Saat acara berlangsung dan dokter Ariani Dewi bicara soal pencernaan dan alergi anak

Dokter Ariani juga menjelaskan bahwa anak, terutama bawah satu tahun, pencernaan mereka cenderung hanya memiliki daya serap 25 persen. Jadi tak heran jika terkadang terjadi gumoh, kembung, hingga rewel tanpa sebab jelas.

Terlebih, kata dokter Ariani lagi, gejala pencernaan memang berkait langsung dengan hal-hal itu; kembung, sering buang gas, sakit perut, mual/muntah, tidak lancar BAB, hingga muncul kerewelan tersebut.

Salah satu blogger, Uli Hape, juga sempat memanfaatkan momen tanya jawab dengan dr. Ariani seputar makanan anak. Uli bercerita jika anaknya punya kecenderungan makan coklat namun di sisi lain anaknya pun rentan dengan alergi.

Dokter Ariani pun menekankan bahwa dalam kondisi seperti itulah penting bagi orang tua mencari pemicunya, dan menghindari penyebabnya.

"Sebab hanya ada tiga cara untuk menangkal hal-hal seperti itu, dan itu adalah pencegahan, pencegahan, dan pencegahan," kata dokter spesialis anak tersebut.

Sedangkan M. Nuh membahas seputar Tes Alergi Susu Sapi, di mana menurutnya masing anak memiliki kecenderungan masing-masing.

"Jadi, bagaimana orang tua memberikan nutrisi kepada anaknya menentukan juga pada kondisi pencernaannya," kata M. Nuh, menerangkan salah satu langkah yang mesti jeli diperhatikan orang tua yang memiliki anak-anak terutama bawah tiga tahun.

Sebab, kata M. Nuh lagi, persoalan pencernaan bukanlah masalah ringan. "Sebab dari kondisi pencernaan bahkan bisa berpengaruh hingga ke mentalnya," M. Nuh menegaskan.

Maka itu M. Nuh menyarankan agar bagi orang tua mesti memilih nutrisi yang meyakinkan, selain juga aman.

Selama ini, kata M. Nuh ada kecenderungan merebaknya anggapan keliru. Ketika anak-anak mengalami kondisi tertentu terkait pencernaan acap dihubungkan bahwa itu alergi susu sapi.

"Padahal tidak begitu juga, melainkan karena anak-anak punya keterbatasan dalam kemampuan pencernaan" M. Nuh meluruskan.

"Di situ juga kenapa dianjurkan agar nutrisi yang diberikan itu sebaiknya adalah yang berasal dari protein yang gampang dicerna oleh anak. Meskipun dari susu sapi namun--dengan kandungan bahannya yang sesuai kondisi anak--mencegah anak kita dari berbagai kondisi mengkhawatirkan."

Selain memaparkan seputar pencernaan, M. Nuh juga mengajak mengecek kondisi anak lewat program yang ada di situs Enfaclub, www.enfaclub.com/tesalergi-sususapi. Lewat situs tersebut dapat diketahui bagaimana kondisi pencernaan anak, dari bentuk feses hingga berbagai kondisi lain yang berkaitan.
Tes Alergi yang ada di situs enfaclub.com

Seberapa sering anak menangis menjadi pertanyaan awal untuk mendeteksi kondisi anak

Berapa sering seorang anak mengalami gumoh atau muntah juga menentukan skor yang menunjukkan kondisi anak


Pertanyaan ini membutuhkan perhatian dari orang tua terkait bagaimana feses atau kotoran si kecil, yang juga akan menunjukkan kondisi pencernaannya

Kondisi pada kulit anak juga menjadi salah satu pertanyaan yang harus dijawab untuk mengetahui kemungkinan ada masalah dengan pencernaan anak ataukah tidak

Biasanya kondisi kulit juga memperlihatkan efek dari kondisi pencernaan anak, dan ini akan menjadi salah satu pertanyaan yang harus dijawab

Situasi pernapasan anak pun menjadi salah satu indikator keadaan anak terkait pencernaannya dan harus dijawab apa adanya

Terakhir, Anda akan mendapatkan formulir data diri dan anak sebelum mendapatkan hasil dari skor berdasarkan jawaban di situs enfaclub.com/tesalergi-sususapi

M. Nuh juga menjelaskan, perihal berhubungan dengan berbagai kondisi yang dapat terjadi itu tak perlu disikapi dengan kepanikan. "Sebab ada banyak cara dapat dilakukan, dari urut hingga 'knee pushing exercise, atau menggerakkan kaki anak seperti orang mengayuh sepeda," ujarnya.

Di sisi lain ia juga mengingatkan bahwa protein yang menjadi makanan anak memiliki molekul terbilang besar. Maka kenapa pada susu yang diciptakan MeadJohnson, misalnya, diupayakan diciptakan yang memiliki molekul protein  berbeda.

"Di MeadJohnson telah dipecah lebih dulu menjadi kecil-kecil," ujar M. Nuh lebih jauh.

Meski acara itu bertajuk seputar anak, tapi sebagai ayah yang juga menggeluti dunia blogging juga merasa diuntungkan dengan paparan lainnya. Pasalnya, pihak Enfaclub juga menghadirkan salah satu pakar di dunia e-commerce, yakni Parjono Sudiono dari Zenit Optimedia.

Lewat Parjono, para peserta diskusi di sela-sela buka bersama tersebut menjadi lebih berwarna.

Parjono mengimbau, bagi para orang tua dan blogger yang getol berbicara seputar anak, idealnya memang memberikan fokus pada kampanye hal-hal seputar anak dengan memanfaatkan blog pribadi.

Cuma, menurut Parjono, apa pun topiknya menjadi perlu juga bagi blogger, apa pun statusnya untuk memahami SEO alias Search Engine Optimization. Sebab menurutnya, jika mengangkat suatu isu atau tema tapi tidak terindeks di Google, akan sangat disayangkan. Sangat sedikit peluang pengunjung yang bisa datang.

"Padahal, sebanyak 90 persen pengguna internet itu mencari sesuatu dengan cara searching," Parjono mengingatkan.

Maka itu, katanya lagi, mencari tempat agar mendapatkan posisi di halaman depan pencarian menjadi hal yang sangat perlu.

Sebut saja misalnya bagi orang tua yang sedang mengangkat isu #TesAlergiSusuSapi yang memang berhubungan dengan anak dan apa yang dikonsumsinya, maka perlu memerhatikan "kata kunci" hingga jeli memahami apa yang dibutuhkan oleh pembaca.

Parjono mengimbau agar mengakrabi betul seperti apa kecenderungan Google dalam memilih mana situs yang layak diprioritaskan di halaman depan dengan yang tidak sama sekali.

Jadi, kata Parjono juga, perhatian pada URL, misalnya, agar mudah terindeks, hingga bantuan navigasi menjadi hal penting agar terindeks dengan baik di mesin pencari seperti Google.

Selain, itu Parjono juga memberikan "clue" agar bagi para ayah dan ibu yang beraktivitas sebagai blogger, entah sebagai hobi atau apa pun, jeli membaca kenapa seorang pengunjung menyukai satu situs dan rela berlama-lama di situs tersebut.

"Tak masalah jika situs kita terkesan gado-gado, toh media seperti Detik pun mengisi dari kriminal, politik, sampai dengan urusan perempuan," Parjono mengingatkan. Namun, dia menambahkan juga, perlu bagi semua blogger untuk menunjukkan apa yang menjadi identitas suatu situs atau blog.

Yap, banyak catatan dari diskusi yang berlangsung di Tanamera Cafe itu. Tempat yang biasa menjadi sasaran kalangan muda, kali ini membawa warna tersendiri dengan diskusi banyak hal. Enfaclub dengan MeadJohnson tak hanya menyulap kafe langganan kalangan muda urban, namun membantu para ayah dan bunda menambah wawasan baru seputar kondisi anak.*

Pemandangan di sela-sela acara:
Shadia merasa merdeka karena datang saat belum ramai

Shadia menikmati momen wefie dengan emaknya

Sisi jendela lokasi acara, tempat favorit Shadia
Di sela acara Shadia masih sempat petak umpet

Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?