To Learn and Inspiring

Pengunjung

Meraba Pancasila dari Gedung Nusantara

Seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan. Seratusan peserta berdiri menyambutnya. Saya turut berdiri, sekalipun secara prinsip berbau politik, saya sama sekali berbeda dari sosok tersebut.

Dia adalah Zulkifli Hasan. Berstatus sebagai Ketua MPR RI, dan menjadi sosok paling diburu media. Apa saja pernyataannya akan dilahap insan pers, dan menjadi kabar untuk rakyat banyak. Saat itu saya berada persis di depannya.

Di sana, obrolan demi obrolan berlangsung. Ada keakraban terbangun, ada kedekatan yang betul-betul tanpa sekat.

Saya menanggalkan status sebagai jurnalis di acara ini, dan datang membawa status berbeda, sebagai blogger. Sempat terlibat tanya jawab, dan saya menyinggung persoalan eksklusivitas kelompok yang belakangan kian menunjukkan sinyal bahaya.

Selayaknya insan media yang mengikuti pemberitaan saban hari, saya memaklumi jika persoalan saya singgung tak langsung diamini Ketua MPR. Tapi saya merasa itu harus tetap dibicarakan, agar realita lebih terlihat dan fakta tak lagi tersamarkan.

"Dalam beberapa hal, memang ada kecenderungan siapa pun untuk kembali pada identitasnya," kira-kira begitulah respons beliau. Saya maklumi, karena prinsip politik hingga sudut pandang boleh saja berbeda.

Perbedaan. Itulah obrolan di acara bertajuk Blogger Gathering bersama MPR RI tersebut. Ada perbincangan panjang seputar itu, karena tema yang dibahasbpun berkutat seputar Pancasila, lengkap dengan tagar #IniBaruIndonesia.


Zulkifli Hasan juga mengakui, perbedaan itulah yang membuat Indonesia hebat. Sebab perbedaan sejauh ini justru membuat negeri ini kuat. Dalam hal ini saya pun mengamini karena seperti itulah realitanya.

Walaupun saat datang ke acara ini, ada kegelisahan juga yang saya bawa, menggelayuti pikiran, dan ingin sekali saya tumpahkan panjang lebar.

Sayangnya, durasi tak mengizinkan basa-basi, hingga beberapa pertanyaan pun sempat hampir basi di benak saya sendiri.

Setidaknya dalam pembicaraan yang berlokasi di Gedung Nusantara IV tersebut, semua sepakat bahwa perbedaan itu fakta. Tapi menjadi "pekerjaan rumah" bersama bagaimana menerjemahkan perbedaan sebagai potensi daripada melihatnya sebagai ancaman.

Ma'ruf Cahyono, Sekretaris Jenderal MPR RI, pun turut berbicara bersama para blogger yang hadir di sana. Ia berbagi banyak sudut pandang atas dinamika, entah konflik hingga sengketa, atau usaha dari banyak penghuni republik ini untuk tetap menjadikan perbedaan sebagai potensi membuat negeri ini tak letih karena selalu tertatih-tatih, melainkan dapat berlari kencang dengan semua perbedaan itu.

"Sekarang, Pancasila ini semestinya tak lagi sekadar dianggap sebagai dasar negara, tapi bagaimana menjadikannya sebagai kepribadian kita," Ma'ruf berusaha menjelaskan realita dengan bahasanya.

Ia menyayangkan, banyak yang mengetahui Pancasila, namun tak sedikit yang melupakan bahwa nilai yang ada di sana semestinya menjadi bagian kepribadian rakyat di negeri bernama Indonesia.

"Ketika kita bicara Pancasila dengan semua nilainya, semestinya itu tak lagi sekadar wacana saja. Sebab dari sekolah dasar kita sudah mengenalnya," kata Ma'ruf lagi, yang menilai sejatinya seiring usia rakyat negeri ini lebih menyatu dengan filosofi yang dianut negaranya.

Hal menarik di acara temu ramah itu, para blogger yang turut bicara; saya, Dian Kelana, dan Yusep Hendarsyah, tak begitu saja menyanjung dan memuji mereka yang menghuni tempat di Gedung MPR.

Di sana tetap saja ada kritikan, meski masing-masing berusaha keras menghaluskan bahasa kritikan yang disampaikan.

Tak terkecuali seorang peserta dari kalangan kaum hawa, pun sempat menyorot hingga persoalan figur yang diangkat sebagai Duta Pancasila. Ia menilai ada seniman dangdut wanita, sekalipun layak dihargai sebagai seniman, tapi sejatinya masih tanda tanya untuk menyebutnya Duta.

Ada kesan menarik di sini, obrolan seputar Pancasila, membuat diskusi hingga melempar kritikan berjalan dengan bersahabat. Tak ada caci maki, tak ada hujatan, karena tampaknya semua memahami; mengkritik tak harus menghujat.

Tampaknya semua telah pasang badan, terlepas ada yang berbeda secara prinsip, namun itu tak jadi penghalang untuk saling menghargai. Semua yang bicara di sana mengamini, berpancasila tak hanya sekadar berkata-kata, melainkan diperlihatkan dari apa yang dilakukanya.*
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?