dunia lain untuk bicara

07 Juni 2017

Gloria dan Ihsan: antara Mimpi dan Ambisi di BCA Indonesia Open

Mereka telah sering bertarung di mancanegara. Menghadapi berbagai macam lawan dari berbagai benua. Namun sikap rendah hati tanpa menghilangkan gairah besar sebagai bintang muda, terpancar dari dua anak muda yang makin mewarnai dunia bulu tangkis di negeri ini. Ada impian besar dan tekad baja, nama Indonesia mesti kembali, ketika sebuah turnamen besar olahraga tepok bulu kembali dihelat di Indonesia.
***
Telah dua tahun tak ada wajah Indonesia di jajaran pemenang BCA Indonesia Open. Tahun ini ada tekad kuat yang diperlihatkan untuk menghentikan paceklik  gelar di ajang tersebut. Ihsan Maulana Mustofa dan Gloria Emanuelle Widjaja menunjukkan itu saat bertatap muka di Grand Indonesia, Rabu 7 Juni 2017.

Kedua bintang muda bulu tangkis Indonesia itu terlihat lebih tenang menjelang ajang BCA Indonesia Open Superseries Premier 2017. Mereka akan menghadapi  turnamen tersebut di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC) pada 12 hingga 18 Juni ini.

Lima hari menjelang turnamen ini mereka hanya berusaha  mempersiapkan segala hal lebih matang, agar dapat mengembalikan nama Indonesia di ajang tersebut.

"Kita pernah menjadi simbol kekuatan di dunia bulu tangkis, dan ini yang ingin kita kembalikan," begitu tekad Ihsan, saat ia hadir di acara tatap muka bertajuk BCA Blogger Gathering, di Grand Indonesia.


Bagi Ihsan yang terkenal sebagai ikon baru di ganda putra, tak ada cara lain kecuali mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki untuk dapat meraih gelar kali ini.

"Pertama, tentunya kami juga akan mempersiapkan diri sebaik-baik. Selebihnya, bertarung habis-habisan, untuk menunjukkan kekuatan kita sebagai wakil Indonesia," kata
Ihsan lebih jauh.

Hal senada juga diceritakan Gloria, yang mengaku takkan rendah diri terlepas di atas kertas perwakilan negara-negara luar cenderung terkesan di atas angin berdasarkan rapor-rapor pertandingan terkini. Baginya, persiapan mental menjadi salah satu kunci yang menjadi perhatiannya.

"Mempersiapkan stamina dan fisik tentu penting, tapi mempersiapkan mental pun akan menjadi hal yang juga sangat menentukan," kata gadis kelahiran 1993 tersebut. "Saya berusaha dapat menyeimbangkan kedua hal tersebut sebaik mungkin."

Bagi Gloria tak ada alasan untuk rendah diri di tengah fakta adanya penurunan dalam rapor pebulu tangkis yang mewakili Indonesia akhir-akhir ini. Terlepas di atas kertas, sejak Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan menjuarai Indonesia Open pada 2013, belum pernah ada lagi nama wakil Indonesia yang tercatat sebagai juara di ajang tersebut.

Gloria dan Ihsan sepakat bahwa persoalan paceklik gelar di ajang Indonesia Open Superseries Premier 2017, bukanlah masalah yang tak dapat dihentikan. Mereka menilai bahwa talenta dan kemampuan wakil Indonesia tetap sangat diperhitungkan.

"Tinggal kepada kita sendiri, bagaimana memaksimalkan kemampuan yang ada, ditingkatkan, dan kemudian membuktikannya di lapangan pertandingan," kata Ihsan, di sela-sela jumpa dengan para blogger yang diundang bersua mereka di Grand Indonesia.

Di pihak lain, BCA sebagai sponsor turnamen papan atas Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) tersebut, juga menyimpan harapan agar wakil Indonesia di ajang itu dapat kembali membangkitkan gairah "tepok bulu" di negeri ini.

Itu juga diutarakan oleh Vice President CSR BCA Rizali Zakaria, yang juga hadir bersama Achmad Budiarto sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Terlebih ajang itu kali ini berlangsung saat BCA sendiri telah memasuki usia 60 tahun di dunia perbankan Indonesia.

"Ini komitmen BCA untuk mendukung perhelatan berskala internasional yang telah mendapatkan pengakuan dari BWF sebagai The Best Tournamen in the World," ucap Rizali, optimistis.

Sementara Achmad Budiarto yang menjadi Sekjen PBSI pun menunjukkan optimisme, bahwa ajang sebesar ini akan membangkitkan ambisi dan semangat pebulutangkis nasional untuk makin gigih. "Sebab kita punya sejarah panjang dan pernah sangat diperhitungkan dunia di ajang ini," kata Achmad.

Di ajang itu akan ada hingga 310 pebulutangkis yang berasal dari 21 negara yang akan berlaga, selain meraih gelar juga memperebutkan hadiah mencapai USD 1 juta, atau berkisar Rp 13,5 miliar.

Gloria sendiri yang berasal dari klub PB Djarum memang telah memiliki jam terbang terbilang tinggi dalam usianya yang baru menjelang 24 tahun per 28 Desember ini.

Dia pernah dipasangkan dengan Alfian Eko Prasetya di kelas ganda campuran, dan pernah meraih medali emas di BWF World Junior Championship 2011.


Gloria Emanuelle Widjaja juga pernah dipasangkan dengan Edi Subatiar di kelas ganda campuran dan sukses menaklukkan gelar di kejuaraan Macau Open Grand Prix Gold 2014. Ia juga pernah menjadi finalis di kejuaraan China Masters Grand Prix Gold 2015.

Pada 2016 lalu, di ajang BCA Indonesia Open, Gloria juga dipasangkan dengan Edi Subaktiar. baru di kejuaraan Piala Sudirman 2017, Gloria dipasangkan dengan Tontowi Ahmad di Gold Coast, Australia.

Gloria memang memiliki ambisi untuk menorehkan prestasi lebih jauh di dunia bulu tangkis. Terlebih dari keluarganya memang belum pernah ada yang berlatar belakang atlet. "Jadi setiap turnamen begini saya lihat sebagai momen untuk bisa menunjukkan bahwa kami adalah wakil Indonesia, dan kami ingin agar nama negara kita pun kian diperhitungkan di pentas Internasional," katanya.

Gadis kelahiran 28 Desember 1993 itu memang tak menampik jika setiap menghadapi turnamen besar maka persiapan yang harus dilakukan sepadan dengan itu. "Tapi kami juga berusaha mempersiapkan diri lebih dari besarnya tantangan kami hadapi," kata dia, dengan ekspresi tenang.

Tekad itu juga diperlihatkan Ihsan Maulana Mustofa, yang terkenal acap berlaga di kategori tunggal putra. Baginya, menghadapi setiap turnamen seperti BCA Indonesia Open 2017 akan menjadi jembatan untuk membuat Indonesia makin disegani negara luar.

Itu memang telah dibuktikan Ihsan berkali-kali. Pebulutangkis kelahiran Tasikmalaya, 18 November 1995, sudah berpartisipasi di berbagai turnamen kelas dunia. Dari Badminton Asia Championship, Vietnam Open Grand Prix, dan Indonesian Masters Grand Prix Gold pernah dijajalnya sejak 2013.

Pada 2013 juga, kala ia masih berusia 18 tahun, Ihsan telah meraih medali perunggu di kejuaraan BWF World Junior Championship di Bangkok. Setahun kemudian, Ihsan bahkan terpilih mewakili Indonesia di kejuaraan Thomas Cup dan meraih medali perunggu.

Tak berhenti di situ, pada 2014 juta Ihsan tampil di BWF Grand Prix, seperti di German Open Grand Prix Gold, Chinese Taipei Grand Prix Gold, dan menjadi finalis di Dutch Open Grand Prix. Juga pada 2015, lagi-lagi ia menjadi finalis di Thailand Open Grand Prix Gold.

Dalam perjalanannya, Ihsan mengakui jika lawan paling tangguh dihadapinya selama ini adalah Lee Chong Wei. Namun justru dari pengalaman berhadapan dengan lawan itulah,
Ihsan merasa tertantang untuk makin dapat mengerahkan segenap kemampuannya.

Terkait Lee Chong Wei, Ihsan menghadapinya di BCA Indonesia Open Superseries Premier 2016 lalu, dan saat itu ia takluk di babak semifinal dengan skor 9-21 dan 18-21.

Tapi Ihsan memastikan kegagalan yang dialaminya tahun lalu di ajang BCA Indonesia Open takkan membuatnya berhenti. Ia justru merasa tertantang untuk dapat menampilkan performa lebih baik. "Jadi, menghadapi lawan berat itu sekaligus memberikan semangat jauh lebih besar untuk lebih baik darinya," kata Ihsan menegaskan.*

Fakta Menarik BCA Indonesia Open

  • Indonesia Open diadakan kali pertama pada 1982
  • Indonesia Open menjadi bagian BWF World Superseries pada 2007
  • Indonesia Open naik kasta menjadi bagian BWF World Superseries Premier pada 2011
  • Indonesia Open juga dinobatkan BWF sebagai pertandingan bulutangkis terbaik di dunia.
  • Indonesia Open menjadi ajang WSS Premier yang memberikan hadiah terbesar di antara turnamen bulutangkis tingkat dunia lainnya sejak 2014.


Posting Komentar
Adbox