dunia lain untuk bicara

01 Juni 2017

Di Pentas Javana, Remy Sylado Bicara Indonesia

Yapi Panda Abdiel Tambayong mungkin bukan nama familiar bagi publik. Kecuali jika disebut Remy Sylado, sebagian besar pecinta dunia literasi akan tahu siapa dia. Ya, dialah penulis yang lahir di tahun Indonesia merdeka, 1945, yang terkenal sebagai penulis sekaligus budayawan.

Tampaknya, tahun kelahirannya memengaruhi gairah yang dimilikinya. Bahwa, negeri ini tegak justru karena di sana ada banyak tiang, dan ia getol mengajak melihat itu dengan jujur.

Itulah yang juga kembali diperlihatkan Remy Sylado ketika dia tampil sebagai pembicara di Gedung Arsip Nasional, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, sehari menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila.

Ya, 31 Mei, saya beruntung berada di antara peserta diskusi bertajuk; Aku Berindonesia. Bisa menyaksikan bagaimana pemikiran seorang Remy, dan bagaimana dia melihat Indonesia.

Remy Sylado tampil dengan pakaian khasnya, berbaju dan bercelana putih. Gayanya, melepas satu kancing di bagian atas. Entah itu ketidaksengajaan, atau memang dia ingin menegaskan suatu filosofi; hanya ia sendiri yang tahu.

Yang jelas dia berbicara banyak dari sejarah Cheng Ho, dikotomi pribumi non pribumi, mayoritas dan minoritas. Ia mengaitkan semua itu dengan situasi kekinian.

Menurut penjelasan Aristo Kristandyo, Kepala Pemasaran Wings Food, yang menjadi penyelenggara acara tersebut, tema Aku Berindonesia yang diketengahkan untuk mengingatkan kembali kesadaran masyarakat pada keindonesiaan yang belakangan terusik berbagai isu yang datang dari masalah perbedaan.

"(Tema) Aku Berindonesia ini memang untuk mengajak masyarakat menunjukkan keIndonesiaan; berbicara Indonesia, bersikap Indonesia, bernilai Indonesia," ujar Aristo Kristandyo.

Ya, itulah alasan penyelenggara merangkul budayawan sekelas Remy Sylado berbicara banyak hal seputar keindonesiaan. Terlebih figur Remy tak asing lagi sebagai sosok penganjur inklusivitas, dan itu sering digemakan lewat berbagai karya tulisnya.

Remy terlihat gelisah atas fenomena, betapa mudahnya kebencian ditebar, permusuhan dibangkitkan, hingga persoalan kecil sengaja dibesar-besarkan. "Kita lupa, hingga menyepelekan hal-hal itu hanya membuat persatuan kita terkoyak," ia meluapkan kegelisahannya.

"Padahal," kata Remy lagi, "Jika ingin bicara soal pribumi dan non pribumi, tak ada dari moyang kita yang betul-betul pribumi, hampir semuanya adalah imigran."

Menurut Remy lagi, kecenderungan itu tidak sehat jika dikaitkan dengan keutuhan negara ini. "Bahkan sudut pandang begitu dapat dikatakan sebagai kebodohan--memilah lalu membenci hanya karena klasifikasi pribumi dan nonpribumi," Remy menggugat. "Juga tudingan yang mengafirkan orang lain, (terlepas ada di agama tertentu) tapi itu justru dijadikan cara untuk merendahkan dan menghina sesama kita sendiri."

Remy juga berkisah, jika dirinya terbilang minoritas, dan bahkan berasal dari daerah terpencil. Ada ekspresi kemasygulan diperlihatkannya saat bicara minoritas.

"Ya kalau bicara minoritas, saya sendiri pun minoritas. Sebab saya bahkan berasal dari kawasan terbilang terpencil, Minahasa," katanya lagi, seraya menunjukkan harapannya agar tak ada lagi sekat-sekat yang dibangun tapi justru rentan membuat negeri ini terpecah.

Sejatinya, apa yang disampaikannya dalam diskusi yang diadakan produk minuman Teh Javana (Wings Food) tersebut memang bukan hal baru, setidaknya bagi pembaca buku-bukunya. Ia menyuarakan bagaimana berpikir dan bersikap adil, sebagai manusia, sebagai entitas yang hidup dalam keberagaman yang memang tak dapat ditampik.

Kalaupun ada yang terbilang baru adalah sindirannya terkait penghargaan masyarakat atas karya sastra. Penghargaan dalam arti kesediaan masyarakat untuk melihat sebuah karya sebagai sesuatu yang pantas dibeli dengan harga sepadan.

"Sekarang, buku seharga 150 ribu, sekian bulan belum tentu ada habis terjual," kata peraih Satya Lencana Kebudayaan tersebut. "Beda dengan mobil merek terbaru, tak perlu menunggu lama, jumlah pembelinya membludak meski harganya jauh lebih tinggi dari buku."

Padahal, menurutnya, buku-buku itulah yang mengakrabkan masyarakat dengan bahasa Indonesia, hingga kemudian lebih merasakan identitas sebagai orang Indonesia.


"Dengan bahasa Indonesia, maka yang dari daerah manapun, Aceh, Ambon, Papua, dapat saling terhubung, berkomunikasi," Remy mengingatkan. "Dari sanalah kita makin kuat terikat, menyatu. Jadi bahasa pun menjadi sebuah hal yang sangat menentukan dalam menciptakan persatuan. Kerancuan dalam berbahasa, bisa berakibat jauh."

Hal lain yang juga diingatkan Remy adalah keberanian para penulis atau jurnalis untuk menggunakan bahasa Indonesia secara lebih bervariasi. Menurutnya, dengan cara ini, kejenuhan berbahasa Indonesia bisa terhindarkan. Selain, agar karya tulis pun menjadi lebih kaya.

Lebih dari dua jam berada di salah satu ruangan Gedung Arsip Nasional, terasa singkat. Sejatinya, masih banyak hal, isi pikiran, sosok Remy yang masih dapat digali.

Tapi pihak Teh Javana yang menjadi penyelenggara acara pun harus memberikan porsi untuk beberapa kegiatan lain. Suguhan tarian tradisional Indonesia dilengkapi nyanyian lagu-lagu nasional pun menjadi bagian acara ini.

Sejujurnya, setelah di masa sekolah, baru kali ini saya kembali dapat menyanyikan lagu-lagu yang membuat rasa nasionalisme membuncah kembali. Melafalkan lagu-lagu yang di masa kecil hanya terdengar di satu-satunya TV milik negara, dan dinyanyikan di sela-sela pelajaran berhubungan dengan seni; terasa lebih magis.

"Garuda Pancasila, akulah pendukungmu... Patriot proklamasi, sedia berkorban untukmu..." lagu ciptaan seniman Lekra, Sudharnoto, ini menggugah dan mampu membangkitkan kecintaan kepada negara yang dibangun dengan batu-batu yang tak seluruhnya sama.*


Posting Komentar
Adbox