dunia lain untuk bicara

05 Mei 2017

Tentang Mereka, Para Guru Non-Pegawai Negeri

Mereka mengajar sebagaimana guru umumnya mengajar, tapi status honorer membuat nasib mereka tak seperti umumnya guru. Hari ini, bagaimana kabar guru honorer?

Itulah yang terbetik di benak saya. Tak lain karena saya adalah salah satu saksi yang melihat langsung perjuangan guru-guru berstatus honorer itu sejak masih di Sekolah Dasar.

Di masa kecil saya, para guru honorer itu benar-benar tak dapat berharap banyak dari gaji. Sebab, gaji mereka sendiri acap kali lebih kecil daripada jumlah uang jajan anak-anak muridnya dari kalangan orang berada.

Terkadang, guru honorer di masa SD saya itu mencari meja rusak dan tak terpakai, mereka perbaiki, kemudian dijadikan tempat untuk berjualan. Ada jajanan seperti bihun atau makanan ringan lainnya yang dijual rata-rata seharga Rp 25 sampai Rp 50 kala itu.

Berapa mereka dapat keuntungan dari sana? Hanya beberapa ratus rupiah saja. Ya, itu zaman saya SD ketika rupiah masih "wah". Ketika harga emas per gram masih seharga belasan ribu rupiah.

Ketika jam mengajar, para guru honorer itu tetap masuk untuk mengajar. Kecuali sedang benar-benar sakit, barulah mereka absen dan tak bisa mengajar. Apakah ketika mereka sakit lantas uang gaji cukup untuk berobat?

Saya kira, jika obat yang dibutuhkan cukup dengan obat yang dijual bebas untuk sakit kepala dan mencret di warung-warung, mungkin gaji itu cukup. Tapi jika mereka harus dioperasi, masuk rumah sakit, mereka mungkin harus menunggu Tuhan melunak hingga mukjizat tak hanya menjadi milik para nabi.

Jika tak ada mukjizat itu, mereka hanya berharap dari semangat yang terpancing dari kecintaan mereka dan rindu pada mata polos anak-anak. Itulah kenapa sebagian guru honorer itu lantas tetap memilih mengajar meski badan mereka sakit-sakitan.

Bu Sum menjadi salah satu guru honorer yang melekat kuat di benak saya. Beliau memiliki cacat pada matanya, jika bertatap muka dengan murid-muridnya, sebagian mata hitamnya nyaris hilang. Ya, beliau (maaf) bermata juling.
Gbr: ijolumoet.info


Saya sering merasa ngilu melihat beliau membaca buku, dan menerangkan kepada murid-muridnya. Belum lagi, kehidupan beliau betul-betul tak dapat disebut sejahtera. Ke sekolah saja, beliau harus berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya.

Beliau nyaris tak pernah marah kepada murid-muridnya. Padahal kelelahan beliau saat harus berjalan dari rumah ke sekolah, cukup jadi alasan meluapkan marah kepada murid yang rata-rata memiliki kebandelan tersendiri. Tapi beliau sering memilih tidak marah.

Bahkan jika melihat murid dengan tabiat paling menjengkelkan pun, beliau sering memilih menarik napas panjang, diam seraya menatap murid tersebut, dan kebandelan murid itu mereda sendiri. Ya, anak-anak terkadang lebih mudah diketuk hatinya dengan sorot mata kasih sayang saja, dan ia luluh sendiri.

Sudah hampir 30 tahun saya tak pernah lagi bersitatap dengan Bu Guru saya itu. Entah beliau akhirnya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) ataukah beliau memilih mundur. Sebab, seingat saya, beliau waktu itu memang hanya berpendidikan sampai Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang hanya setara SMA.

Tapi, cerita punya cerita, nasib yang pernah dialami guru saya dulu masih terjadi hingga hari ini.

Ya, seorang teman, dulu dia paling sering datang ke rumah saya hanya untuk belajar bersama. Dia memilih saya sebagai teman belajar karena pesan bapaknya yang sering membuat hidung saya kembang kempis sendiri. "Jika kau ingin jadi murid cerdas, bertemanlah dengan yang sering jadi juara di kelas," jadilah dia memilih saya sebagai teman diskusi, belajar, sesekali bicara seputar pacar--zaman SMP.

Belakangan, teman saya ini pun harus bertarung tak jauh bedanya dengan guru saya dulu. Berbekal sepeda motor pemberian orangtuanya, dia merambah desa yang masuk kawasan pelosok.

Dia harus melewati sungai dengan menaikkan motornya ke rakit lebih dulu untuk dapat tiba ke sekolah dia mengajar. Terkadang, jika musim hujan, tak jarang ia harus pulang lagi setelah berjalan puluhan kilometer dengan motornya. Ya, rakit yang biasa membantunya menyeberang sering hanyut jika air sedang naik di malam hari.

Maklum, rakit itu pun hanya terbantu dengan seutas kabel yang galah. Tanpa mesin, kecuali hanya mengandalkan kencangnya arus, dan dorongan galah di tangan pekerja rakit tersebut.

Dia sering bercerita kepada saya seperti apa perjalanannya mengabdi. Dia harus melupakan hitung-hitungan berapa uang untuk bensin harus dihabiskan setiap bulannya. Atau, bagaimana sulitnya ia jika di tengah hutan mengalami ban bocor.

"Ya, kita jalani saja apa yang sudah digariskan Tuhan. Toh, Tuhan pasti takkan menutup mata atas semua yang kita lakukan," katanya, seperti sedang berusaha membesarkan hati sendiri.

Sekarang, di Indonesia terdapat guru honorer alias Guru Tidak Tetap (GTT) mencapai angka 1,2 juta, dari 2,9 juta guru yang ada di negeri ini. Setidaknya begitulah disampai Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendy, per Februari lalu, berdasarkan berita di Tempo.co.

Kabarnya, akan ada prioritas agar para guru honorer itu mendapatkan pengangkatan, terutama yang mengajar di pedesaan dan pedalaman. Apakah hari ini sudah terealisasi.

Sebagai seorang anak negeri yang pernah menjadi saksi langsung atas nasib para guru yang diberi status tidak tetap itu, tentu saya berharap; menteri dan presiden betul-betul menemukan solusi secepatnya.

Kalaupun tak mungkin di-PNS-kan semuanya, setidaknya nasib mereka tidaklah sampai terbiarkan terpuruk. Sebab, pekerjaan mereka berhubungan langsung dengan isi kepala dan jiwa anak-anak negeri ini. Jika mereka harus dibebankan menjalankan peran seberat itu seraya menanggung beban atas nasib yang yang terkesan tak berpihak kepada mereka, bagaimana mereka bisa sepenuhnya fokus?

Mereka punya istri, suami, dan anak-anak. Mereka pun bisa sakit. Mereka juga takkan selalu kuat menanggung nasib pahit. Jadi, perkenankan mereka untuk juga merasakan bahwa pemerintah juga menghargai mereka, tak lagi diposisikan sebagai guru kelas dua.

Apalagi, sebagian besar negara yang akhirnya masuk ke tempat teratas peradaban manusia, adalah negara yang berhasil dalam pendidikan. Pendidikan itu sendiri, nyaris pasti, takkan dapat menjadi kendaraan yang mampu berjalan stabil, jika sopir-sopirnya (baca: guru) tak dapat berkonsentrasi "mengemudi".  Sebab, mereka tak dapat berharap mukjizat selayaknya nabi.*
Posting Komentar
Adbox