dunia lain untuk bicara

02 Mei 2017

Pengalaman Mendapatkan Centang Biru dari Twitter


Baru Jumat lalu, 28 April, saya mendapatkan centang biru di akun twitter pribadi, @zoelfick. Beberapa teman memberikan selamat. Ada pula menanyakan bagaimana mendapatkan itu. Sedangkan saya sendiri lebih terpikir, seberapa bermanfaat sebuah centang berwarna biru ini?

Pertimbangan manfaat itu juga sekitar dua pekan lalu menggerakkan saya untuk mendaftarkan diri untuk mendapatkan centang tersebut. Itu pun setelah beberapa lama menyangsikan diri sendiri, ntar gue hanyut lagi dengan sebuah ikon yang sejatinya tak penting-penting amat. Mengingat, tanpa itu pun saya masih bisa berkicau.

Tapi di situ pun ada perdebatan dengan diri sendiri, apakah iya centang biru tidak penting? Jika tidak benar-benar penting kenapa harus ada centang biru hingga yang hanya “bertelur” saja?

Ya, ada perenungan soal penting tak penting, agar saya tak terjebak perasaan merasa diri terlalu penting atau bahkan menganggap diri sendiri sama sekali tak penting. Lagipula, saya hafal sekali, ada lagu dangdut yang mengingatkan itu, sesuatu yang terlalu itu tak baik. “Yang sedang-sedang saja...”

Maaf, agak bernada kelakar. Tapi iya, akhirnya setelah pertimbangan dari sesuatu yang terlalu ke sesuatu yang terlalu lainnya, saya ambil keputusan mendaftar di sana.

Terlebih lagi, banyak pakar yang menggeluti dunia komunikasi, menyarankan untuk serius dalam melihat diri sendiri dan "label" yang kita miliki. Seperti Michael Dulworth, misalnya, menyarankan untuk siapa pun bisa membangun label diri itu dengan positif.

Apalagi ini tak lepas dari kepentingan menjalin hubungan dengan banyak orang. Maka yang diperlukan, menurut penulis buku The Connect Effect itu, adalah mempertegas siapa Anda, apa yang Anda minati, dan apa yang anda lakukan.

Pesan dari buku ditulis Dulworth itu tak secara langsung menyarankan untuk mendapatkan centang biru di Twitter tersebut. Tapi, di dalamnya berisikan banyak masukan penting dari bagaimana agar jika kita memiliki ide, berambisi mewujudkan ide itu, maka "memperkenalkan diri" dengan cara sebaik-baiknya menjadi sangat penting.

Sebab, kata Dulworth lagi, semakin banyak orang mengetahui tentang diri kita--tentu terkait ide apa yang ingin kita usung--maka jembatan agar ide menemukan jalan-jalannya akan lebih terbuka.

Jadi, dikaitkan dengan centang biru itu, menjadi sebuah "penguat" untuk sebuah ide yang diusung. Maka, saat ditanyakan apa yang menjadi ide saya dan apa perlunya centang biru itu bagi saya--sebagai syarat mendapatkan itu--maka alasan humanisme dan jurnalisme yang tak lepas dari profesi, menjadi dua hal yang saya sebut sebagai alasan itu.

Tampaknya memang pihak Twitter tak bermain-main dalam hal centang biru tersebut, terlepas sekilas hanyalah hal sederhana; sekadar sebuah logo kecil.

Tapi logo itu juga yang membuat saya terpacu, bahwa dengan profesi dan jaringan saya miliki, kami sedang bekerja dengan cara tersendiri untuk sesuatu yang dibutuhkan publik.

Dua hal yang juga paling berkesan saat mendaftar itu, saya dimintakan tiga situs yang bisa menunjukkan siapa saya. Ya, saya masukkan saja situs pribadi saya, tularin.com, dengan situs tempat saya bekerja, dan Kompasiana karena memang di sinilah saya menulis ratusan tulisan yang campur aduk antara penting dan tak penting.

Jadi begitulah. Saya mendaftar, lalu melupakan.

Kenapa melupakan, ya karena tak ingin terobsesi, entah terobsesi ingin menjadi selebtwit atau semacamnya. Saya hanya mengarahkan pikiran, agar betul-betul dapat menjadikan media, apa pun itu sebagai kanal untuk menumpahkan apa yang saya pikirkan.

Lalu kembali lagi, apa perlunya centang biru?

Ya centang biru itu ternyata membantu untuk dapat fokus pada apa passion atau gagasan yang paling kita minati. Itulah yang menjadi pemicu terbesar saya untuk mendaftarkan diri hingga berstatus terverifikasi di media sosial tersebut.

Centang biru itu memang dapat diibaratkan sebagai lampu hijau di jalan raya. Tapi sebagai “pengendara”, saya tetap mendikte diri sendiri untuk berhati-hati dengan lampu kuning, atau bahkan lampu merah. Artinya, saya pun terpacu dan terpicu untuk lebih awas, meski tak berarti mengekang diri sendiri secara ketat.

Di Twitter, saya berusaha keras untuk tidak terseret hoax, meski di tengah derasnya informasi, kecenderungan untuk ini terbuka lebar. Saya juga berusaha lebih keras untuk tak ikut-ikutan menjadi penyebar hoax. Sebab, jika sudah merugikan orang lain, itu sudah dapat diibaratkan sebagai “pelanggaran lalu lintas”.

Itulah kenapa saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan verifikasi, dan di-approve oleh pihak Twitter.

Berbicara tujuan lebih jauh, akun pribadi saya sama sekali tidak saya seret nama media tempat saya bekerja—kecuali sekadar tweet sesekali, atau me-retweet. Sedangkan yang lebih sering saya lakukan, ini adalah kanal saya menumpahkan pikiran-pikiran yang terkadang datang sekelebat. Jika sedang tak berdaya menulis berpanjang-panjang karena otak berteriak, “Saya lelah, Bang” jadilah saya menulis beberapa tweet.

Terlebih lagi tak semua orang menyukai yang panjang-panjang. Karena yang menentukan bukan ukuran, melainkan kualitas.

Agak berbau saru, ya? Tapi memang dalam hal apa pun, terkadang hal-hal yang singkat seperti cuitan di Twitter, sepanjang diyakini berkualitas dan ada sesuatu yang dibela, bisa lebih bermanfaat. Jadi, saya berusaha tetap tidak rendah diri saat hanya bisa mengandalkan yang pendek-pendek saja.

Pendek tapi gemuk, maksudnya berisi, jauh lebih baik daripada saya menuliskan terlalu panjang tapi hanya menambah pusing teman-teman pembaca; entah baru diomeli atasan, atau mungkin diomeli istri. Jadi, begitulah.

Yang jelas, kenapa kemudian saya mendapatkan verifikasi biru di Twitter, juga tak lepas dari dua jawaban; untuk manusia, karena tergerak pada isu-isu humanisme, dan sepak bola yang notabene telah menjadi second religion bagi para pria, eh wanita juga.

Jika jawaban pertama, humanisme, berkaitan dengan sebuah isu besar yang memang menjadi perhatian dunia, sedangkan yang kedua tak lepas dari profesi yang dilakoni.

Jadi, centang biru tidak terkait dengan soal gengsi dalam berjejaring sosial, melainkan apa yang sedang atau dapat dilakukan seseorang ketika ia menjadi pengguna jejaring sosial. Satu lagi, centang biru bukan semata-mata milik mereka yang menjadi figur publik, tapi tetap bisa didapatkan siapa pun yang meyakini memiliki sesuatu yang baik yang ingin dibagi dengan publik.*


Posting Komentar
Adbox