To Learn and Inspiring

Pengunjung

Kasus Dokter Fiera, Kezaliman Atas Nama Agama

Gampang tersinggung hingga mudah marah adalah wajah Islam hari ini. Bukan Islam sebenarnya, tapi Islam yang diseret ke dalam ketidakpercayaan diri sebagian pemeluknya, juga mereka yang sedang terjebak egoisme bahwa Tuhan hanya menciptakan dunia untuk mereka. Indonesia pun, menurut mereka, hanya layak untuk mereka huni saja.

Begitulah, jika Anda melempar kritikan kepada figur-figur yang dikultuskan, tak peduli Anda perempuan, maka siap-siap saja menjadi sasaran teror dan intimidasi. Seorang dokter di Padang, Fiera Lovita, juga berjenis kelamin perempuan, telah menjadi sasaran "orang-orang perkasa" yang kebetulan takut kepada perempuan.

Ya, mereka adalah sekelompok lelaki perkasa, rajin menyebut nama Tuhan, apa-apa diadukan kepada Tuhan, tapi takut kepada perempuan. Jadilah, seorang perempuan pun mereka "keroyok" beramai-ramai hingga ia ketakutan. Betapa perkasanya mereka, untuk menghadapi seorang perempuan saja perlu beramai-ramai.

Alasan mereka, karena perempuan ini telah melecehkan tokoh pujaan mereka. Akhirnya, begitulah, mereka bersedia "mencuri rok" dokter perempuan itu untuk mereka kenakan sendiri. Sementara dokter tersebut, meski perempuan, selama ini memilih tak terkekang oleh rok, dan memilih untuk berpikir dan berbicara apa adanya selayaknya intelek.

Ya, intelek itu adalah mereka dari jenis kelamin apa pun yang memilih menyuarakan apa saja yang diyakini benar selayaknya orang merdeka, berdasarkan hasil pemikiran berlandaskan pengetahuan, untuk kemudian disuarakan, diperdebatkan.


Sayang sekali, dokter perempuan itu berhadapan dengan sekelompok orang yang sedang dalam fase besar kepala luar biasa. Saking besar kepala, kelompok itu merasa tak perlu lagi memakai kepalanya, sehingga memilih bersikap dengan modal dengkul saja. Jadilah seorang perempuan pun tanpa tedeng aling-aling mereka teror dan intimidasi. Apakah mereka lelaki? Dari bentuk kelamin mungkin iya, sedangkan dari mental? Mereka masih di bawah perempuan.

Mereka itu mengklaim diri sebagai pembela agama dan pembela Tuhan. Tapi melihat gelagat perlakuan mereka terhadap dokter itu, saya kok merasa mereka itu tak lebih dari sekelompok orang yang menyembah iblis yang menyaru jadi Tuhan.

Toh, jika membuka lagi cerita sufistik, Anda akan mudah menemukan cerita tentang seorang sufi yang beribadah tekun, lantas ditemui iblis yang menyaru Tuhan. "Tak perlu lagi kau beribadah (baca: berbuat baik), karena kau sudah sangat dekat denganku. Sudah cukup semua ibadahmu."

Sufi itu paham sekali, pekerjaan iblis itu hanya menipu. Jadilah, alih-alih dia merasa bahwa itu suara Tuhan, justru ia mengambil sandal, dan melemparnya ke arah suara tuhan gadungan itu.

Menyimak kejadian dokter di Sumatra itu, saya rasa tak jauh beda dari cerita sufi ini. Dokter ini sedang "melempar sandal" atas banyaknya tipuan yang mengatasnamakan Tuhan; untuk kepentingan politik hingga misi tertentu.

Sementara kelompok yang meneror dokter tersebut begitu yakin bahwa yang dilakukan olehnya adalah penghinaan atas orang yang dekat dengan Tuhan, dan sama artinya menghina Tuhan. Jadilah, dokter ini, perempuan, seorang sendiri, dikeroyok kiri kanan; rumah sakit tempat ia bekerja menyalahkannya, pemerintah setempat pun mendudukkannya sebagai terdakwa, alhasil pembelaan alih-alih menjadi miliknya sebagai perempuan dan intelektual justru menjadi milik mereka yang membawa kelompok tadi.

Begitulah bagian wajah Islam yang sedang dipamerkan kelompok itu. Mereka tak melihat keislaman pada dokter perempuan ini, meski yang dilakukannya adalah; jika Anda menyembah Tuhan ya cukup Tuhan saja, tak perlu kausembah makhluk-Nya, walaupun si makhluk paling rajin menjual garis keturunan.

Menurut dokter perempuan ini, kalaupun makhluk itu--konon lari terbirit-birit ke negara gurun pasir hanya karena kasus chat--adalah keturunan makhluk paling mulia sekalipun, jangan sampai bikin Anda terbius. Ikuti saja dia jika benar, tapi jika salah ya jangan dibenarkan, dan dicari-cari pembenaran.

Sayangnya, kelompok itu, meyakini bahwa dokter ini seorang diri, perempuan lagi, maka mereka makin beringas saja. Mereka seketika mengubah diri menjadi anjing bertaring, menyalak galak, beramai-ramai, ke arah dokter perempuan yang berusaha menyadarkan mereka; bahwa kalian itu bukan anjing, kalian itu manusia yang bisa berpikir, yang harusnya menyembah Tuhan saja, tak perlu menyembah manusia.

Tapi, begitulah, membangunkan orang yang sedang "tertidur" terkadang memang berisiko. Yang tidur tadi merasakan bahwa membangunkannya sama dengan mengganggu kesenangannya. Jika membangunkan mereka, dianggap mengganggu. Alih-alih sekadar menegur atau membalas mengganggu secukupnya, mereka akan membalas mengganggu berkali lipat.

Kenapa? Karena bagi mereka, mengusik mereka sama artinya mengusik kelompok mereka, mengusik kelompok mereka sama artinya mengusik agama, dan itu dinilai sama saja dengan memusuhi Tuhan.

Jadilah mereka berpikir dokter perempuan ini sebagai musuh Tuhan. Juga mengira Tuhan tak punya tangan sendiri, sehingga mereka memakai tangannya sendiri untuk membantu Tuhan. Akhirnya, mereka sendiri yang memosisikan Tuhan layaknya kau dhuafa. Sementara mereka lupa, bahwa yang harus mereka kasihani adalah mereka sendiri, kok untuk menghadapi perempuan tak berani sendiri ujug-ujug mengklaim ingin membela Tuhan.

Begitulah ceritanya. Cerita yang ternyata juga menimpa Afi Nihaya Faradisa, remaja perempuan, yang juga bersuara tentang parahnya kelompok yang rajin menjadikan nama Tuhan sebagai dagangan hingga melupakan kemanusiaan.

Remaja belasan tahun itu, Afi, pun menjadi sasaran "keroyokan". Ia dicibir masih hijau, belum tahu apa-apa. Tak cukup di situ, remaja yang sedang menikmati pergulatan intelektual dengan jujur itu pun diteror.

Tampaknya, bagi kelompok itu, kebodohan lebih mulia daripada keberanian. Sialnya, mereka makin petantang-petenteng mendesakkan cara mereka itu, agar di luar lingkaran mereka terseret untuk masuk bersama mereka.

Lebih sial lagi, sekarang ada partai politik yang menjadi pelindung kelompok itu. Mereka rajin menabur benih doktrin itu; ketololan jauh lebih mulia, asal beriman. Sehingga, begitulah, menghadapi perempuan yang berani berpikir pun mereka bermain keroyokan. Partai apakah itu? Saya hanya menyebut mereka sebagai partai sampah. Sudah.*
Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?