To Learn and Inspiring

Pengunjung

Diremehkan, Hipertensi Renggut Nyawa 10 Juta Orang per Tahun

Setiap tahun ada 10 juta orang di seluruh dunia meninggal hanya karena satu penyebab yang acap disepelekan, dan itu adalah darah tinggi. Senin (22/5) masalah inilah yang menjadi sorotan Ketua Umum Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S, dalam acara tatap muka di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta.
Dokter Yuda bercerita bahwa fenomena banyak orang yang meremehkan persoalan darah tinggi memang menjadi pemandangan di banyak tempat, tak terkecuali di Indonesia.Alhasil, ketika seseorang sudah kesulitan untuk menangkalnya, barulah mereka berurusan dengan dokter dan rumah sakit dan menghabiskan banyak biaya untuk berobat.

"Padahal, kalau saja kita lebih awas, dan dapat mendeteksi itu lebih dini tentu saja akan lebih cepat terantisipasi dan mencari penanganan sebelum situasi menjadi lebih riskan," kata dr. Yuda, di depan puluhan peserta tatap muka di Hotel Fairmont. "Seringnya masalah darah tinggi ini berdampak bahaya hanya karena ketidakpedulian kita untuk mengecek secara rutin."

Dr. Yuda menyayangkan kebiasaan menyepelekan persoalan tersebut. Padahal, kematian yang diakibatkan oleh darah tinggi terbilang paling tinggi di dunia. 

Tak hanya itu, kerusakan otak dengan berbagai efek lain yang mengiringinya pun kerap terjadi diawali dengan masalah pada tekanan darah yang tak lagi terkontrol.

"Sebab hipertensi memang dapat berakibat merusak sel-sel di otak," kata dr. Yuda lebih jauh. "Jika sudah begitu, jangan heran jika ada saja yang masih berusia muda tapi otaknya lebih cepat tua--melemah--bahkan sering kesulitan mengingat sesuatu."

Soal hipertensi ini, kata dr. Yuda lagi, memang membutuhkan kesadaran dari masing-masing pribadi. Berharap akan ada orang yang mengingatkan secara terus menerus jelas mustahil. "Maka itu kesediaan memeriksa kesehatan sendiri, terutama tensi darah, akan sangat bermanfaat untuk mencegah berbagai kemungkinan buruk yang dapat diakibatkan oleh darah tinggi," dokter tersebut mengingatkan.

Lebih jauh Yuda juga menyebutkan bahwa banyak orang meremehkan masalah darah tinggi itu karena acap kali terjebak pemikiran keliru.

"Ada yang berpikir bahwa itu hanya akan terjadi pada mereka yang sudah tua saja, belum tentu. Ada yang berpikir itu hanya akan terjadi pada mereka dari jenis kelamin tertentu, juga belum tentu," dia mengingatkan lagi. "Semua dapat saja terjadi, tak terkecuali wanita dapat saja mengalami hipertensi dan berujung demensia. Apalagi, wanita yang terkena stroke bahkan bisa demensia hingga tujuh kali lipat diabndingkan pria yang hanya berisiko empat kali lipat."

Usia muda tak berarti takkan terkena oleh masalah tersebut. Maka itu, antisipasi dengan cara memeriksanya secara rutin menjadi salah satu langkah cepat yang dapat diambil. Selain, katanya lagi, memastikan menjaga pola hidup sehat. "Jangan mengandalkan suplemen, walaupun seberapa wah dipromosikan, tetap lebih baik makan sayur yang banyak, bukan suplemen," katanya lagi.

Lebih jauh, menurut Yuda, membatasi konsumsi garam dan olahraga teratur menjadi hal lain yang harus dibiasakan. Terutama merokok, sedapat mungkin harus ditinggalkan. Bahkan, katanya, berhenti merokok sama dengan "investasi" untuk menjaga otak.

Sebab, menurut dokter tersebut, otak memang rentan menua dan mengecil. Tinggal lagi pada kita semua, apakah membuatnya menua lebih cepat atau berusaha menangkalnya dan kuncinya adalah menjaga makanan dan gaya hidup.

"Persoalannya, di Indonesia tidak cuma darah tinggi kerap disepelekan, tapi mereka yang telah jelas-jelas mengalaminya pun sering malas berobat," kata Yuda lagi. "Bahkan dari penderita yang berobat hanya berkisar 30-an persen dari penderita yang terdata."

Maka itu, dr. Yuda mengimbau agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan pada hipertensi yang memang menjadi salah satu pembunuh terbesar bagi manusia.

Hal senada juga disampaikan oleh dr. Tunggul D. Situmorang. Namun, menurut dia, yang sudah berobat pun kerap melakukan hal salah kaprah, berhenti sendiri hanya karena merasa sudah pulih. 

"Padahal hipertensi ini bisa terjadi tanpa kita sadari hingga memicu berbagai risiko," kata dokter yang juga bekerja di Rumah Sakit Siloam tersebut. "Sedangkan hipertensi itu sendiri pun dapat berakibat hingga masalah gagal ginjal kronis, yang bahkan dapat memaksa pasien harus menjalani cuci darah secara rutin."

Di Jepang, menurut cerita Yuda lagi, masyarakat cenderung lebih awas terhadap masalah hipertensi sehingga mereka memiliki alat yang memang mereka simpan di rumah masing-masing untuk memeriksa tekanan darah.

Salah satu alat tersebut adalah Blood Pressure Monitors yang memang diciptakan untuk membantu masyarakat luas dapat memeriksa kondisi tekanan darah secara rutin, terutama jika mereka tak leluasa ke rumah sakit atau ke dokter. 


Omron menjadi salah satu perusahaan yang terkenal intens merilis berbagai produk Blood Pressure Monitors atau alat pengukur tekanan darah. "Tapi  kami tak hanya menjadikan produk kami untuk dijual saja," Yoshiaki Nishiyabu, perwakilan PT Omron Healthcare Indonesia, menegaskan. "Sebab kami juga mengajak masyarakat agar juga bertanggung jawab atas kesehatan diri sendiri."

Nishiyabu sendiri berterus terang jika kehadiran alat pengukur tekanan darah yang akurat memang dibutuhkan, agar masyarakat dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk. Untuk itu, di luar penjualan alat kesehatan, pihak Omron pun mengusung program May Measurement Month 2017. 

Program tersebut dilakukan Omron dengan mengganteng InaSH untuk dapat membantu menghapus penyakit stroke dan serangan jantung, dengan campaign bertajuk Project Zero. 

"Jadi kami berusaha melakukan penyadaran akan bahaya hipertensi dan cara pencegahannya, di antaranya adalah pemeriksaan tekanan darah sendiri secara rutin di rumah," kata Nishiyabu, lulusan Universitas Meiji, Jepang, yang juga pejabat teras di PT Omron Healthcare Indonesia.

Untuk program May Measurement Month itu juga PT Omron Healthcare Indonesia meluncurkan alat pengukur tekanan darah digital HEM-7280T. 

Alat tersebut membantu pengguna untuk memonitor data tekanan darah melalui aplikasi Omron Connect, hanya dengan melakukan sinkronisasi nirkabel dengan ponsel.

Aplikasi Omron Connect itu sendiri juga tersedia di www.omronconnect.com/setup dan dapat di-install pada ponsel berbasis Android maupun Iphone berbasis iOS. Dengan itu, pengguna dapat mengumpulkan data tekanan darah dan membantu dokter mengevaluasi data tekanan darah tersebut.

Memang Omron Connect itu sendiri menjadi salah satu strategi bisnis Omron untuk mengembangkan produk berteknologi tinggi, selain membantu kemudahan bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan lewat pemeriksaan tekanan darah secara teratur.

Tak hanya melego produk mereka ke pasar, namun PT Omron Healthcare Indonesia pun menyumbangkan 500 alat pengukur tekanan darah digital untuk masyarakat membutuhkan. Program itu dijalankan sebagai partisipasi program May Measurement Month 2017.*

Share:
Posting Komentar

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?