dunia lain untuk bicara

03 Mei 2017

Di Aceh, Kami Menyebutnya Sikula

Tidak ada kursi bagus. Papan tulis sepenuhnya berwarna hitam. Kursi untuk guru dan murid tidak berbeda, sama berbahan kayu kasar namun menjadi halus karena digunakan lintas generasi.

Ini bagian cerita saya, dalam perjalanan menapaki tempat yang kami sebut "sikula", untuk menyebut sekolah.

Saban pagi tetap kami dului dengan senam pagi. Hanya tape segi empat yang dinyalakan dengan bantuan aki, mengumandangkan musik eskaje--begitulah kami menyebutnya. Gerakan senam itu mirip silat, sehingga saat luput dari perhatian guru, kami betul-betul menjadikan senam untuk silat-silatan.

Ya, zaman itu adalah zaman batu, maksudku karena memang tak jauh beda dengan zaman batu. Maklum, tenaga listrik baru mengalir dari jam lima sore sampai sekitar jam tujuh pagi.

Bagaimana jika guru kegerahan di dalam kelas? Tak ada kipas listrik, apalagi AC. Terkadang guru-guru itu harus mengipasi diri dengan buku, saban ia merasakan panas tak tertahankan.

Syukurnya, zaman itu suhu di mana-mana tidaklah sepanas sekarang. Tapi jika sudah menuju siang, dan sedang betul-betul di puncak terik matahari, berbagai kegilaan pun kami lakukan.

Sebagian ada yang memilih merendam kaus kaki dulu di sumur belakang sekolah. Lalu, sepatunya dikenakan lagi bersama kaus basah tadi.

Ada juga yang memilih mengambil bajunya, juga direndam hingga basah, lalu dikenakan lagi agar tak kepanasan saat pulang. Bagaimana mereka yang tak mau ikut-ikutan cara gila ini, ya tetap basah. Sebab mereka yang bermain air itu akan menyiramkan air dari timba ke badan teman-temannya. Sebagian menyambutnya dengan tawa, karena tetap gembira meskipun jengkel.

Ada juga yang menangis. Terutama anak-anak yang memiliki ibu sedikit garang. Begitu bajunya basah kuyup, kepalanya langsung dipenuhi wajah seram sang ibu, hingga ia basah dua kali; seragamnya tetap basah, berikut matanya pun basah dengan air mata.

Begitulah sebagian cerita kami, anak-anak sekolah di kampung, masih di zaman batu--karena jalanan pun memang lebib banyak hanya berbahan batu.

Tak semua anak-anak itu akhirnya mendapatkan kesempatan belajar dan menuntaskan pendidikannya. Bahkan, jika sebagian keluar masuk dari satu perusahaan ke perusahaan lain di masa dewasa, sebagian lainnya justru keluar masuk penjara.

Saya masih dapat membayangkan, wajah-wajah teman kecil dulu yang belakangan justru lebih akrab dengan penjara daripada bekerja, ketika dewasa. Anak-anak itu, di masa lalu adalah anak-anak yang kecewa; karena belajar tanpa dukungan orangtua, sampai bahkan dipaksa berhenti, "Kau jangan menambah beban kami lagi!"

Jadilah sebagian mereka berhenti sebelum dapat menamatkan SD. Atau, ada juga yang sempat masuk SMP, tapi juga berhenti di tengah jalan; yang gadis dipaksa menikah di usia terlalu muda, sedangkan yang pria biasanya diminta membantu orangtua. Sebab, tak sedikit yang kecil-kecil telah ditanamkan keyakinan, "Kau sekolah tinggi-tinggi pun nanti tetap saja nyari duit. Jadi, kerja saja dari sekarang, nanti dewasa kau sudab terlatih dan mahir mencari duit!"

Jangan bilang orangtua mereka kejam. Sebab terkadang ada keadaan yang lebih kejam sehingga memaksa mereka terpaksa ikut kejam. 

Seperti Zam (salah satu teman kecil saya juga), bapaknya pengangguran dan sering keluar masuk penjara entah karena judi, ganja, atau terjerat kasus pencurian. Dia punya cita-cita tinggi, "Ingin jadi pejabat" katanya saat itu. Pejabat yang kami pahami ketika itu, jujur, hanya sekelas camat.

Sayangnya, Zam yang baru saja mendaftarkan dirinya di bangku SMP, baru saja mengikuti pe-empat (anak-anak zaman itu paham, makhluk apakah pe-empat ini). Belum selesai pendidikan P4 itu, ia harus keluar, bapaknya memerintahkannya untuk membantu nyari uang saja. Ya, bersama ibunya, dan bapaknya hanya pulang sesekali untuk makan dari uang dicari Zam dan sang ibu sebagai buruh perkebunan sawit sekaligus buruh di sawah penduduk sekitar.

Zam termasuk beruntung, meski bapaknya disebut maling, punya nama yang tak seharum parfum, tapi ia sendiri dapat menjaga namanya sendiri tetap harum.

Saban kali ia bersua denganku, dia kerap bilang, "Aku tak mau seperti bapakku. Tak apa aku tidak sekolah, tapi aku tak mau menjadi penjahat." Tapi dia tak membenci bapaknya. Tiap bapaknya pulang, dalam keadaan sakit biasanya, ia akan setia menemani, memijat hingga mencarikan obat.

Zam tidak mematikan cita-citanya untuk bersekolah. Jadilah ketika ia menjelang usia 17-an dengan uang sendiri ia kembali ke SMP, duduk bersama remaja lain yang pantas disebut adik-adiknya. Semangatnya tak kalah dari mereka. Ia tetap ceria, dan bahkan tetap dapat meraih sarjana meski batinnya kerap terusik karena hingga ia dewasa, bapaknya tetap keluar masuk penjara.

Ketika wisuda, ia hanya ditemani ibunya, dan sekitar sembilan adik-adiknya. Selepas kuliah, sekian lama dia menolak menikah, "Jika aku menikah, adik-adikku takkan ada yang membimbing. Aku tak bisa sepenuhnya membantu mereka. Sedangkan kalau aku tidak menikah dulu, takkan ada yang protes kalaupun uangku semua kuserahkan untuk ibu dan adik-adikku."



Zam pun tetap menjadi pahlawan bagi adik-adiknya. Terlepas, bapaknya hingga meninggal dunia pun gagal menunjukkan sikap pahlawan selayaknya seorang ayah. Tapi, hingga kuburan ayahnya pun tetap dirawat oleh Zam, sembari tetap bertanggung jawab kepada adik-adiknya.

Adik-adiknya pun tampaknya menyadari beban sang kakak. Jadi, sebelum ke sekolah, mereka mencari pedagang di dekat rumah yang ingin dagangannya dibantu untuk dijualkan. Dari sanalah mereka menjalani hidup, mengurangi beban sang kakak, membantu ibu, dan mengisi tanggung jawab yang dulu tak sepenuhnya dapat dilakoni sang bapak.

Zam mewakili teman masa kecil yang dapat melompat dari pagar-pagar yang kerap membatasi langkahnya. Ia memilih melompati pagar-pagar itu. "Aku tak mau jika harus hidup seperti bapakku," begitulah ia kerap bercerita, berkali-kali, entah saat kami menikmati istirahat meski tak bisa lama-lama, atau ketika sedang malam datang dan ia telah bebas dari kesibukannya.

Ada lagi "Dok", teman kecil lainnya. Ia sejatinya baik. Ia rela turun tangan membela teman jika ada yang dianiaya anak-anak lain yang agak bergaya preman.

Semangat sekolahnya juga tinggi. Terbukti sejak kelas satu SD, masih saya ingat, dia kerap menjajakan makanan ringan hingga es, hanya agar mendapatkan uang jajan. Dia mau bekerja apa saja selama itu membantunya mendapatkan upah.

Itu dilakoninya sejak masih kecil sekali, usia tujuh tahunan. Termasuk, ia bersedia menjadi buruh cuci di warung-warung makan yang ada; dia pun bisa mendapatkan makan dan juga sedikit uang untuk jajan esok hari. Terkadang, ia tak sempat pulang ke rumah lebih dulu, melainkan dengan seragam sekolah di badan, ia langsung bekerja.

Sayangnya, Dok tak semujur Zam saat dewasa. Pergaulan menyeretnya dalam narkoba. Semangatnya di masa kecil, meredup oleh bertubi-tubinya cobaan--menurut cerita dia. Maka itu ia memilih mengalah, mengikuti arus mana saja terdekat dengannya hingga jadi agen ganja dan berkali-kali masuk penjara.

Ya, ini hanya secuil dari catatan kami, yang pernah menjadi teman sepermainan, tapi di masa dewasa sebagian merasa dipermainkan nasib dan lainnya memilih mengajak nasib untuk tak mempermainkannya.* (Photo: batampos.co, pulangkerja.com)
Posting Komentar
Adbox