dunia lain untuk bicara

17 Mei 2017

Catatan dari 30 Jam Perjalanan ke Jogja

Perjalanan lebih dari 12 jam terbayar di Yogyakarta, dan hampir 18 jam kembali ke Jakarta meninggalkan kesan mendalam. Tepatnya di acara Indonesia Community Day, perjalanan darat dari Jakarta yang sangat menguras tenaga pada 12 Mei ini memang terbayar di acara yang mengusung tagline "inspiraksi" tersebut.

Ya, di sana ada inspirasi yang dibagi tidak sekadar lewat kata-kata. Mereka menginspirasi lewat aksi, lewat apa yang telah mereka bagi dengan dedikasi. Berbagai komunitas yang ada di Nusantara datang ke sana. Mereka saling bercerita apa saja yang telah mereka lakukan, dan sejauh mana manfaat yang telah ditawarkan.

Ada grup musik yang yang merangkul musisi jalanan, hingga mengasah kemampuan bermusik anak-anak. Lewat kegiatan itu mereka mengajak, "Agar anak-anak ini tak lagi dilihat sebagai anak jalanan. Tidak lagi disebut sebagai anak jalanan. Sebab mereka juga anak-anak seperti umumnya anak-anak," begitu ajakan mereka dari atas panggung berukuran sekitar 5x10 meter.

Ada juga berbagai komunitas yang berangkat dari keinginan mengangkat nama daerah. Dari sana mereka berusaha mengenalkan apa saja kelebihan daerahnya; dan itu semata-mata karena inisiatif sendiri, karena terpanggil bahwa daerah mereka lebih membutuhkan kalangan muda yang mampu menunjukkan aksi alih-alih sekadar berkata-kata.


Tapi begitu, mereka juga menyadari bahwa kata-kata tak berarti takkan bermakna. Sebab sebagian besar dari mereka merekam berbagai aksi yang telah dilakukan dengan kata-kata yang tertuang di situs pribadi atau blog-blog yang mereka punya.

Dari sanalah mereka berbagi dan mengenalkan sejauh mana dampak dari setiap aksi dilakukan.

Sejak menjelang siang di hari Sabtu, matahari menyorot tepat ke atas panggung. Agak panas, tapi itu diterjemahkan mereka sebagai kehangatan yang diberikan matahari, yang turut menghargai semua aksi yang mereka kerjakan. Di tengah sorotan matahari itu juga mereka berbagi cerita.

Mereka meyakini, berbagai hal baik masih memungkinkan untuk terus menyebar, sepanjang satu sama lain terus saja berusaha menunjukkannya lewat aksi-aksi positif. Ketika makin banyak yang mengakrabinya, maka dengan sendirinya mereka makin akrab dengan kebaikan.

Sedikitnya ada 27 komunitas hadir di acara yang digagas Kompasiana tersebut. Tak hanya dari kalangan blogger yang akrab berkomunitas di Kompasiana saja, tapi juga terdapat JALIN Merapi, Sioux Ular Indonesia, Kampoeng Hompimpa, hingga Masyarakat Digital Jogja yang getol menyampanyekan pemanfaatkan perkembangan digital untuk pencerdasan publik.

Masdjo, komunitas yang telah lahir sejak 7 Desember 2016, sudah menjadi buah bibir di tengah masyarakat Yogya lantaran dedikasi mereka selama ini. Sebab seperti dikatakan penggagas komunitas ini, Eko, komunitas mereka memang ditujukan untuk membangun masyarakat digital yang progresif. "Agar Yogya tetap menjadi kota yang istimewa," katanya.

Komunitas yang lahir dari kalangan penulis di Kompasiana pun tak ketinggalan. Salah satu yang sangat aktif adalah Kompasianer Pecinta Kuliner yang digagas Rahab Ganendra, dan Ladiesiana, selain selain juga ada KutuBuku yang digagas dua jurnalis kawakan; Isson Khairul dan Thamrin Sonata. Tak terkecuali Koplak Yo Band, yang digawangi Babeh Helmi masih konsisten merekam aksi demi aksi para blogger dan mendokumentasikannya.

Satu hal yang patut dicatat, sebagian besar komunitas itu dapat bertahan lantaran keinginan kuat untuk berbagi dan kemampuan mereka merekatkan diri antara satu sama lain. Tidak ada gesekan lantaran kepentingan, melainkan menumbuhkan semangat pertemanan, dan dedikasi untuk publik.

Gairah berkomunitas itu juga yang membuat mereka menolak adanya sekat-sekat, entah karena usia, profesi, dan pengalaman. Bahkan persoalan perbedaan keyakinan pun tidak dilihat sebagai masalah. Maka itu Isson dan Thamrin, hingga Babeh Helmi, yang terkenal sebagai senior di komunitas Kompasiana pun tetap membaur bersama kalangan muda lainnya.

Bahkan, mereka terbilang tak muda lagi. Tapi Isson, Thamrin, dan Babeh Helmi, tercatat sebagai bagian pegiat komunitas yang rela menempuh perjalanan darat dari Jakarta, hanya untuk menjadi saksi untuk pesta komunitas terbesar di Yogya tersebut.

Bain Saptaman, yang juga seorang guru di Kota Gudeg itu, tak ketinggalan. Kelelahannya sebagai pengajar, tak menghalanginya untuk menyambangi lokasi acara.

Seperti juga Wily Wijaya, gadis yang bekerja sebagai pengajar di Sumatra Utara, atau Iskandar Zulkarnaen dari pelosok Lebak, Banten, pun turut ke acara itu. Wily menyempatkan ke Yogya hanya dapat bersua dengan para pegiat komunitas lainnya, seperti juga Iskandar (Pak Is) yang telah menjelang usia 60 pun menunjukkan antusiasme tinggi dan turut menempuh perjalanan darat untuk hadir ke ICD 2017 tersebut.

Gairah berkomunitas itu tak hanya menjadi kegemaran kalangan pria. Riap Windhu, Dewi Puspa, Marla La'sappe Thalib dengan putrinya Aulia Tamara Girisha, Elisa Koraag, Okti Li, Yayat, Andini Harsono, Ibu Seno (Teh Icho), hingga Maria G. Soemitro, mewakili kalangan perempuan yang juga memiliki keinginan kuat berbagi dan belajar lewat komunitas.

Mereka menjadi wakil dari gairah berkomunitas yang makin tumbuh di Indonesia. Beruntung bagi saya, sebagian besar dari mereka adalah sahabat saya sendiri. Bersama mereka, saya turut belajar kembali tentang berkomunitas, dan berbagi ide-ide positif, sehingga merangsang tekad kuat; berbuat yang berarti, atau mati!

Jika ditotal, waktu terhabiskan di perjalanan ke lokasi dan kembali pulang, melampaui 30 jam. Melelahkan, tapi itu terbayar dengan sejuta ide baru, bahwa ada sesuatu yang menunggu dan itu adalah berbagi hal positif tanpa pernah jemu. Terlebih, keinginan berbuat baik tak mengenal jalan buntu.*

Posting Komentar
Adbox