To Learn and Inspiring

Pengunjung

Setelah Buni Yani Masuk Berita Dunia

Buni Yani diapit para pembelanya - Gbr: Inge Safitri/Tempo.co

Buni Yani telah menjadi legenda tersendiri dalam sejarah politik, tak hanya di Jakarta atau Indonesia saja, tapi juga dunia. Terbukti, yang membicarakannya tak hanya di dalam negeri, tapi juga hingga ke luar negeri.

Ada seabrek media ternama dunia yang tak mau ketinggalan membincangkan sosok yang pernah berstatus pengajar di salah satu perguruan ternama tersebut. Sebut saja TheAustralian.com.au, tercatat sebagai salah satu situs yang turut mengabarkan perkembangan figur yang dinilai telah memuluskan salah satu kandidat merebut kursi kepemimpinan DKI Jakarta.

TheAustralian mengutip langsung pernyataan Tito Karnavian yang tak lain Kepala Kepolisian Republik Indonesia, di antaranya dalam berita bertanggal 8 November 2016. "We have very vital testimony from Buni Yani, the person who uploaded the video who stated he has misquoted," menjadi kutipan menonjol dari Kapolri tersebut, dan di-highlight media negeri jiran itu.

Straitstimes.com, media asal Singapore, juga getol mengangkat seputar kasus yang melibatkan Buni Yani. Di antaranya, dalam berita bertajuk Blasphemy case: Ahok may get probation instead of jail, yang tayang 21 April 2017, pukul 5.00 waktu Singapura, tak melupakan sosok Buni Yani. Sekaligus mereka juga membeberkan apa yang sudah dikerjakan sosok tersebut. 

Buni Yani is a former lecturer at a private university who allegedly, in bad faith, edited and uploaded a video showing Basuki allegedly making the appeal that was deemed insulting to Islam. 
Tak berhenti di situ, media asal Amerika Serikat pun turut melejitkan lagi kiprah Buni Yani yang memang tak lepas dari persoalan yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Newsweek, sebuah majalah dari AS yang juga menayangkan laporan versi online atas kasus Buni Yani, tak luput menyinggung sosoknya sebagai pemicu hebohnya kasus dugaan penistaan agama yang sempat menghebohkan tersebut. 

Terutama di berita yang tayang per 23 Februari 2017, Newsweek menayangkan reportase mendalam atas polemik yang menyeret Buni Yani setelah ia membuat Ahok ditekan massa Muslim garis keras.

Di berita bertitel Jakarta: Could Governor Election Change the Face of Indonesia?, media asal AS itu lebih menyorot Buni Yani sebagai seorang pengguna Facebook, tanpa menyebut profesinya yang pernah menjalani karier sebagai pengajar.


A Facebook user, Buni Yani, allegedly uploaded the speech, albeit with edits, which suggested Ahok was saying the Koran was misleading, rather than religious leaders. Yani now faces hate-speech charges, and if convicted, could face up to six years in prison.
But the video prompted thousands to take part in angry protests against Ahok, and a poll suggests that more than 45 percent of Indonesians thought what he said was blasphemous. (Newsweek.com)
Berita yang tayang di Newsweek yang juga menyorot kiprah Buni Yani dalam keriuhan Indonesia

Lalu apa yang dilakukan Buni Yani sendiri setelah terseret masalah hukum? Kesan kuat yang mencuat adalah ia ingin melakukan pembelaan diri, dan menyebut bahwa yang dilakukannya bukanlah sebuah kesalahan serius.

Bahkan dia menyalahkan para buzzer yang dianggap sebagai penyebab sehingga "hidupnya hancur".

Media dalam negeri, Kompas.com, menayangkan pembelaan Buni Yani atas tindakannya dan reaksi publik atasnya.

Per Jumat (28/4), Kompas.com menayangkan berita khusus yang berisikan pembelaan Buni Yani, sekaligus tudingannya bahwa masalah yang sedang menimpanya hanya karena kesalahan buzzer. Di berita berjudul Buni Yani Anggap Hidupnya Hancur gara-gara "Buzzer" Ahok, sosok di balik serentetan keriuhan menjelang Pilkada Jakarta tersebut tak menerima dirinya disalahkan.

"Buzzer ini sangat biadab. Memfitnah orang, menghancurkan hidup orang, tapi mereka tidak pernah puas," katanya, seperti dikutip dari Kompas.com.

Buni Yani saat sedang bersama pendukungnya - Gbr: Nibras Nada Nailufar/Tribun Jogja

Tak berhenti di situ, melalui akun Twitter @BuniYani, ia pun makin sering meluapkan kemarahan. Sebut saja cuitannya pada pada tanggal 26 April, dia juga melempar tudingannya kepada buzzer sebagai pemicu masalahnya. Wahai para buzzer, realistislah. Hashtag yg kalian bikin tdk lagi jadi trending topic. Kalian tak lagi digdaya. Berhentilah songong.

Cuitan itu saja, per Sabtu dini hari (29/4) mendapatkan retweet sebanyak 169 kali.

Ada kesan kuat yang ditonjolkan Buni Yani, alih-alih berusaha tetap mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada publik, ia cenderung memilih sikap ofensif. Terlepas ia juga memiliki banyak pendukung, dan bahkan ia mendapatkan julukan sebagai "pahlawan Islam" oleh kelompok pendukung tersebut, namun tak banyak pembelaan didapatkannya.

Jika menyimak cuitan itu saja, respons bernama cemooh dan mengarah ke bully pun jauh lebih menonjol dibandingkan yang membelanya.

Berusaha berempati atas apa dialaminya, memang, beban psikologis yang kini diterimanya jauh lebih besar terlepas di permukaan dia berusaha menampik dan ingin melupakan kasus tersebut. Tekanan atasnya memang sangat besar, dan rawan mengundang frustrasi mendalam.

Apalagi, dia pun--seperti dilansir Kompas.com--mengaku merasa makin merasa terintimidasi. Bahkan ia sempat mengeluarkan pengakuan, "Sering juga ada mobil yang berhenti di depan rumah saya yang membuat istri saya takut."

Tapi empati tentu saja bukanlah mengikuti mengakui sebuah kesalahan sebagai hal benar. Satu langkah paling penting dilakukan pria yang konon sedang menempuh S3 di Leiden tersebut, mengakui kesalahan sebagai kesalahan. Meminta maaf kepada publik setulus-tulusnya.

Terlepas memang ada banyak yang menaruh kemarahan atasnya, tampaknya publik masih dapat memaafkan sepanjang ia bisa menunjukkan sebuah iktikad baik. Bahkan, akan sangat elegan jika ia menemui Ahok dan mengikrarkan permintaan maaf mendalam. Jika perlu, itu direkam lagi dan diunggah ke publik.

Sikap ksatria ini, tidak saja akan membuatnya lebih memiliki kemungkinan agar dimaafkan publik yang terluka olehnya, tapi juga empati yang kini dibutuhkan untuk mengembalikan kesehatan psikologisnya akan lebih mudah didapatkan.

Sayang, sejauh ini ada kesan egoisme besar yang diperlihatkan olehnya. Misal saja saat ia tampil di Indonesia Lawyer Club, ia sempat mengutarakan permintaan maaf. Belakangan, pada 7 November 2016, ia justru membatalkan permintaan maafnya sendiri.

"Ya, ini kan budaya timur. Saya orang Sunda kan sedikit-sedikit minta maaf. Itu juga terkesan saya minta maaf, wah dipolitisir. Itu bukan mengakui kesalahan," katanya, seperti dikutip dari Tribunnews.com. 

Dari pernyataannya, satu sisi ia menyadari ciri khas budaya timur, namun di lain sisi dia pun meremehkan budaya tersebut. Andai saja ia memilih lebih merendah, tak terbuai dengan banyaknya pendukung yang selama ini terkesan membelanya, mungkin saja ia bisa menjadi "motor" untuk rekonsiliasi yang belakangan getol disuarakan Anies Baswedan, pemenang Pilkada DKI yang selama ini juga telah diuntungkan olehnya.*

Share:
Posting Komentar

Arsip Blog

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?