To Learn and Inspiring

Pengunjung

Saya dan Sahabat Tionghoa setelah Kekalahan Ahok

Takbir ala hari raya Islam berkumandang di beberapa masjid di Jakarta. Di media sosial, keriuhan atas kemenangan Anies Baswedan nyaris tak kenal reda. Di depan kantor, saya berbicara dengan seorang sahabat, seorang Tionghoa, yang terlihat berusaha tersenyum. "Ya, beginilah hasilnya," katanya, lirih.

Sahabat ini memang terlihat berusaha keras menunjukkan wajah biasa-biasa saja. Tapi matanya mengisyaratkan sebuah kesedihan. Justru, dialah yang mencoba menghibur saya, "Tidak apa-apa, Bro. Kita lihat saja bagaimana nanti yang terjadi, dan apa yang mungkin bisa dilakukan yang menang. Toh kita kan belum tahu--dan lebih baik tidak mengambil kesimpulan apa-apa," kata dia.

Ya, dia tahu, saya yang berasal dari etnis Aceh yang ada di DKI Jakarta, termasuk salah satu yang turut mati-matian membela Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Di sela-sela pekerjaan, saya kerap menjadikan media sosial pribadi untuk terbuka mengajak melihat secara fair, apa yang telah dan bisa dilakukan calon pemimpin. Jangan persoalkan agama dan tidak memasalahkan suku bangsa.

Sahabat Tionghoa ini juga yang acap menyaksikan bagaimana saya di-bully oleh kalangan sesuku dan seagama, dan dituduh munafik hingga kafir, karena memilih sikap membela Ahok-Djarot. Tampaknya, karena alasan itu juga, dia merasa saya lebih bersedih dibandingkan dirinya.

Dalam sekali obrolan, dia memang sempat berucap getir tentang bagaimana masalah diskriminasi masih merajai di negeri ini. "Kami tak memiliki keleluasaan bicara dan menunjukkan apa yang kami rasakan sebesar yang lo miliki yang terlahir sebagai masyarakat yang sudah masuk dalam kelas pribumi, Bro," katanya, dalam satu diskusi saat merebak isu berbau SARA di Pilkada Jakarta.


"Ya, syukurnya masih ada teman-teman Muslim dan pribumi seperti elo yang masih bersedia bicara apa adanya, tak melebih-lebihkan kalangan sendiri dibandingkan kalangan yang berbeda latar belakang dengan elo," katanya saat itu.

Hari ini, saat di berbagai stasiun TV pun bermunculan bukti-bukti dari hitung cepat, angin sedang bertiup ke mana, teman Tionghoa ini mengusap pundak saya. Tangannya mengesankan dia sedang membantu membuang keresahan yang sempat membalut perasaan saya, dan beban di pundak.

Tak ada kalimat-kalimat tidak menerima apa yang sudah terjadi. Ia tidak menolak. "Terima saja, Bro," kata teman Tionghoa ini kepada saya, berusaha membantu saya ikut lega.

Di sisi lain, saya juga melepaskan unek-unek kepadanya, bahwa ini bisa menjadi awal kian meraksasanya kekuatan fasis dan diskriminatif. Ini bisa menjadi pintu, kelak isu-isu SARA akan terus menjadi senjata, karena terbukti permainan isu itulah yang telah mengantarkan satu kubu menjadi pemenang di Pilkada kali ini.

Terharu. Alih-alih membenarkan kekhawatiran saya, sahabat Tionghoa ini memilih memberikan saran untuk tidak larut ke dalam pikiran buruk. Seraya mengusap pundak saya, dia justru menegaskan keyakinannya, "Kita tunggu saja. Siapa tahu pemimpin baru Jakarta ini kelak juga bisa melakukan hal baik. Sudahlah, bro."

Ya, ada kekecewaan yang saya rasakan. Bukan soal karena pilihan saya kalah, tapi karena merasa ada yang menang karena telah memainkan isu yang merusak nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan. Ada yang menang karena telah mengembuskan propaganda menyesatkan, sehingga banyak publik tak lagi melihat realitas karena tenggelam karena kemarahan oleh propaganda itu.

Lagi-lagi, sahabat Tionghoa ini mengajak saya membuang kerisauan. "Setidaknya lo sudah berusaha sebisa elo Bro, berjuang pada sesuatu yang elo yakini baik untuk semua orang. Soal menang kalah, bukan satu hal terlalu penting."* (Gbr: NetralitasCom)
Share:
Posting Komentar

Arsip Blog

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?