To Learn and Inspiring

Pengunjung

Saat Empat Adikku Menikah Lebih Dulu (Pengalaman Pribadi)

Sampai detik ini saya masih terheran-heran dengan kuatnya prinsip sebagian orang, seorang adik tak boleh menikah lebih dulu jika kakaknya belum menikah. Di Indonesia, tradisi ini terlihat masih dipegang dari Sabang sampai Merauke. Di sini, saya hanya ingin mengajak melihat sebuah sudut pandang berbeda, sedikit keluar dari kelaziman agar tak sampai menzalimi.

Fakta saya singgung itu memang begitu dekat dengan saya pribadi. Di masa lalu, saya sendiri pernah membatalkan rencana mengawini seorang gadis yang baik, cantik, dan  juga matang, hanya karena ketakutannya menabrak rambu-rambu. Ya, rambu-rambu yang melarangnya menyalip kakaknya yang belum menikah.

Bukan hanya itu, saya sendiri pun tersalip lebih dulu oleh empat adik saya--dua cewek dan dua cowok. Mereka menikah lebih dulu, dan tak ada larangan dari saya. Sama sekali tak pernah keluar dari mulut saya, "Jangan berani-berani menyalip yang lebih tua!"

Kalimat itu saya haramkan keluar dari mulut saya.

Sikap saya yang sedikit menabrak kebiasaan itu sempat dianggap kelewatan oleh sebagian orang, termasuk teman-teman dekat, hingga ada yang merasa takut jika saya akan menjadi bujang lapuk--seperti anggapan sebagian orang jika seorang kakak didahului adiknya ke pelaminan.

Aneh, memang, saat kita biasa-biasa saja atas realita dan keputusan kita sendiri, justru orang lain yang ketakutan. Tapi, fakta begitu tidak mengada-ada, melainkan betul-betul ada dan saya alami.

Satu per satu adik saya menikah, dan mereka pun memiliki anak-anak yang lucu-lucu, bahkan dua dari adik saya itu mendapatkan anak kembar. Alih-alih merasa iri atau sakit hati, saya justru merasa senang, mereka bahagia dengan anak-anak yang cantik dan tampan yang dimiliki.

Perasaan senang atas kebahagiaan adik sendiri, membantu mencegah masuknya perasaan iri atau sakit hati. Sebab jauh-jauh hari saya tanamkan ke pikiran sendiri, tak perlu sakit hati atas kelebihan siapa pun, termasuk adik sendiri.

Saat banyak teman-teman saya terkaget-kaget mendengar cerita bahwa saya telah disalip oleh empat orang adik, saya justru masih bisa cengengesan.

Ada dari mereka yang entah sengaja atau tidak, seperti ingin mendesak saya untuk juga merasa ketakutan seperti ketakutan yang mereka rasakan.

"Bagaimana nanti kalo elu tak bisa beranak lagi?"
"Bagaimana kalo produktivitas elu sudah hilang? Tak bisa nyari rejeki lagi? bla...bla..."

Respons saya, nyengir. Di benak saya, silakan Anda dengan ketakutan Anda, tapi saya tak mengizinkan ketakutan absurd itu menguasai pikiran saya. Sembari, ya, tetap berusaha menampilkan sikap nyengir setampan mungkin--ingat, nyengir setampan mungkin.

Alhasil, saya tetap berpetualang dengan petualangan tersendiri. Merasakan berbagai hal-hal pahit sendirian dengan senang hati, dan sesekali berdangdut di kamar mandi--tapi saya pastikan bukan lagu Iis Dahlia, sebab itu menyedihkan. Bukan juga lagunya Caca Handika, sebab itu hanya bikin para lajang makin trauma.

Ada beberapa hal pahit, atau bahkan memalukan terjadi di masa lajang. Tapi itu pun saya syukuri, karena kepahitan seperti ini tak harus saya alami bersama pasangan. Sebab, saya kelak menikah bukanlah untuk menyiksa anak orang, atau harus membuatnya turut merasakan kelaparan seperti sering saya rasakan di masa keperjakaan belum terenggut--tak lama setelah penghulu pulang.

Saya berpikir, belum adanya keyakinan saya untuk menikah cepat--meski sempat bermimpi menikah di usia 25 tahun--tak harus menghalangi adik-adik saya untuk menikah cepat. Jadi saat satu per satu dari mereka mengabarkan ingin menikah, saya persilakan dengan dukungan lengkap mirip-mirip kalimat Mario Teguh meskipun jarang menonton acara beliau di TV.

"Menikah itu baik, kalo elu yakin dengan pilihan bahwa itulah yang baik bagi lo, teruskan."

"Gue gak mau justru kalian melakukan berdosa karena tak menikah gara-gara menunggu gue."

"Tak apa-apa saya lebih telat menikah. Masak gara-gara saya yang telat, kalian pun harus ikut telat?"

Motivasi terkuat lagi, karena dua di antara adik saya itu adalah lajang yang baru mekar--bukan bunga baru mekar, tapi kumbang yang bersayap baru mekar--jangan sampai mereka merusak bunga-bunga di taman orang tanpa permisi yang punya taman. Sebab, itu terlalu berisiko jika mereka nanti diracun pemilik taman.

Jadilah, mereka menikah tanpa beban, dan justru tenang, karena kakaknya tak menghalangi sama sekali niat mereka. Berjalan lancar, hingga istri mereka pun melahirkan dengan lancar. Seraya, saya sebagai kakak pun selalu mendoakan rezeki mereka pun lancar.

Apakah kemudian dengan membiarkan empat orang adik mendahului saya menikah membuat jodoh saya jadi sulit, kesulitan punya anak, atau hal-hal lainnya yang acap ditakuti banyak orang? Tidak. Bahkan saya sempat memiliki beberapa calon jodoh, eh.


Ya, saya tetap dapat menikah, tetap menemukan jodoh, dan hanya berselang sekitar tiga bulan sejak menikah sudah mendapatkan laporan dari istri, "Saya hamil."

Alhamdulillah, ternyata saya masih punya kemampuan untuk menghamili, duh!

Artinya, tak ada yang perlu ditakutkan, jika ketakutan itu memang tidak beralasan.

Lantas bagaimana jika ada yang memang masih tetap berpegang dengan prinsip "Dilarang menyalip di tikungan?" Ya, itu kembali ke mereka. Keputusan mereka pun tak dapat diremehkan. Boleh jadi mereka memilih tidak menyalip saudaranya yang lebih tua karena pertimbangan sopan-santun, menjaga tradisi, dan lain-lain.

Tapi, di tengah situasi seperti itu, kembali pada kesadaran kita yang di posisi sebagai "yang lebih tua". Jangan sampai karena ego, merasa malu dilewati adik sendiri, merasa tersaingi, mengalahkan akal dan pikiran jernih.

Apa urusannya menghalangi yang lebih muda untuk menikah lebih dulu. Toh, niat mereka menikah lebih dulu, bukan menghamili lebih dulu. Akan sangat disayangkan, jika ada seorang kakak membiarkan adiknya menghamili atau dihamili lebih dulu baru merelakan mereka "menyalip".

Meski mereka lebih muda, adik-adik menurut saya tetap pantas dihormati apa pun yang menjadi keinginan mereka, terlebih itu untuk kebaikan mereka sendiri.

Jadi, bagi Anda yang pernah di posisi saya, mungkin bisa menggunakan sudut pandang ini agar tak menzalimi adik sendiri, meski sudut pandang ini tak lazim. Sedangkan, bagi yang di posisi sebagai adik, sikap Anda memilih tak menyalip tetap saja baik, tapi usahakan juga mengajak si kakak yang mungkin belum cukup kuat mengalahkan egonya, untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik--untuk Anda sendiri dan untuk si kakak.

Katakan saja, mungkin dengan membiarkan adiknya menikah lebih dulu agar tetap berjalan lancar justru akan membuat rezeki dan jodoh sang kakak pun menjadi lancar.  Jika tak mempan, ajak sang kakak belajar lagi teori-teori fisika, tentang hukum pantul, aksi reaksi, dan apa pun. Sehingga ia akan sadar sendiri, membantu memudahkan urusan orang lain akan membantu urusan sendiri pun lebih mudah. Jadi, selamat belajar ilmu fisika.* 
Share:
Posting Komentar

Arsip Blog

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?