dunia lain untuk bicara

13 April 2017

Menunggu Jakarta Diperlakukan Selayaknya Seorang Ibu


Teriakan kemarahan, umpatan, caci maki, dari satu kelompok ke kelompok lainnya, dari satu etnis ke etnis lainnya. Itu adalah bagian realita terburuk dalam perjalanan Pemilihan Kepala Daerah di Jakarta.

Ada kandidat yang menikmati pemandangan itu. Mungkin karena ia merasa diuntungkan, bahwa pemandangan itu akan membantu pihaknya lebih mudah menangguk suara tanpa perlu terusik dengan logis tidaknya langkah politiknya, manusiawi tidaknya gebrakan dilakukannya.

Kalaupun kemudian terdengar bahwa ia menentang aksi-aksi menjurus ke SARA, itu lebih terlihat sebagai langkah cuci tangan di depan media.

Apakah kemudian kandidat yang diuntungkan dengan kencangnya intimidasi berbau SARA betul-betul menyikapinya ke kelompok yang pendukung yang getol menjalankan aksi itu? Tidak. Di sana ia justru menyanjung mereka, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang bagus, dan ia masih dengan culasnya menyebut langkah itu sebagai upaya menjaga NKRI, dan berbagai sanjungan itu diucapkan dengan wajah semringah.

Kenapa begitu semringah, karena kandidat ini meyakini sekali, hanya lewat merekalah ia dapat merebut hati kelompok masyarakat yang meyakini bahwa tak ada lagi yang perlu dinalar, bahwa yang terpenting ia "berbaju" sama maka ia paling pantas dipilih.

Ia mendapatkan keuntungan dari sana karena merasa bahwa bagaimana reputasinya yang sebenarnya takkan diusik oleh kelompok ini, karena sudah mengenakan "baju" yang sama dengan mereka.

Apa nama yang pantas diberikan kepada kandidat dan langkah dilakukannya itu? Ini layak disebut langkah "serigala berbulu domba". Karena ia paham, hanya dengan meyakinkan dirinya juga berasal dari kalangan dombalah maka tak ada domba yang meneriakinya.

Bagaimana taringnya yang siap mencabik-cabik, mengunyah mereka, akan disembunyikan rapat-rapat. Terpenting, bagaimana bisa masuk ke kalangan mereka, diterima, dan para domba saling meyakinkan bahwa serigala tadi adalah bagian dari mereka. Jika sudah begitu, peluangnya menguasai kandang itu dan makanan untuknya sudah tersaji di depan mata yang cukup untuk bertahun-tahun takkan terusik.

Begitulah ia bermain.

Apa yang paling mahal yang menjadi taruhan di Pilkada kali ini adalah kemanusiaan. Atas nama mayoritas, yang minoritas dinilai bukanlah prioritas, dan atas nama yang berbaju sama maka yang berbeda bukanlah suatu yang sangat penting. Terpenting adalah kemenangan.

Saya pribadi sempat yakin, kelompok culas itu akan dapat dengan mudah memenangkan pertarungan di Pilkada DKI. Sebab senjata yang mereka gunakan, hingga strategi yang menghalalkan segala cara, memang memungkinkan mereka untuk dapat mengecoh dan di saat yang sama yang akan terkecoh tak menyadari mereka sedang dikecoh.

Penjahat itu bernama Anies Baswedan
Saya tidak membenci sosok ini secara pribadi. Tapi saya membenci strategi politik dimainkannya. 

Silakan telusuri apa saja yang menjadi gagasannya. Strategi yang paling banyak diperlihatkannya tak lebih dari bagaimana agar ia menang, sedangkan apa yang betul-betul kelak akan dilakukannya tak lebih sebagai polesan demi polesan dalam kata-kata.

Dari semua ormas akan mendapatkan kucuran uang, hingga menjanjikan KJP dapat diuangkan. Tak ketinggalan, ia mengecoh dengan bahasa DP 0%, hingga DP 0 rupiah, yang memang cukup menggoda.

Untuk membenarkan bahwa gagasan itu memang realistis, ia pun mengerahkan segenap kekuatan yang memiliki kemampuan mengecoh yang luar biasa.

Di sinilah Anies berbahaya. 

Ia sudah mempertaruhkan sesuatu yang terlalu mahal, persatuan yang selama ini merekat kemajemukan, tanpa berdosa telah ia gadaikan. Kebodohan yang memang masih mewarnai sebagian rakyat negeri ini, dinilai sebagai peluang. Kebodohan rakyat menjadi jembatan hanya untuk memuluskan perjalanannya membalaskan dendam politik--tersingkir dari kelompok yang pernah ia bela setelah dipecat dari menteri.

Pertaruhan itu memang terlihat sebagai cita-cita mulia bagi sebagian kalangan, dari yang ingin agar mayoritas harus selalu jadi priotitas, hingga para penjahat culas yang ingin agar langkah dan perjalanan mereka merampok uang negara tak terusik lagi.

Ya, apakah saya hanya sekadar menuduh? Tapi silakan perhatikan saja, siapa bergaul dengan siapa. Bagaimana ia membuka komunikasi politik, bagaimana langkahnya dalam merangkul kekuatan, hingga bagaimana strategi melakukan rayuan gombal yang nyaris tak terendus oleh pemujanya.

Apakah Anies sepenuhnya buruk?
Tidak. Ia tidaklah sepenuhnya buruk. Mungkin saja dia memang memiliki kebaikan yang hanya ia dan Tuhan saja yang tahu. Ia pun sangat sopan, meski ia tak segan-segan mencipratkan racun yang membahayakan nalar. 

Tapi, terlepas apa pun kebaikannya, dan bagaimana niat baiknya--jika ia punya itu--sebagai bagian masyarakat di kota ini, hanya dapat berharap agar kelak Anies berpolitik secara lebih dewasa.

Sebagai mantan menteri pendidikan, akan sangat elegan jika kelak bisa memainkan jurus politik yang lebih mendidik.

Kenapa saya berharap begitu, karena kesan kuat yang muncul, ia tidaklah berani secara jujur mengungkapkan apa saja hal pantas dan tak pantas menegaskan kepada pengikutnya untuk melihat bahwa ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar kekuasaan, dan itu adalah kemanusiaan.

Kemanusiaan berhubungan erat dengan keadilan. Keadilan itu pun tak melulu hanya segala yang berhubungan dengan kemauan memprioritaskan yang mayoritas, tapi juga bagaimana dapat mendudukkan mayoritas dan minoritas secara sejajar. Tak melulu bahwa karena satu kelompok berjumlah lebih besar, lantas perhatian dan pendekatan lebih melekat kepada mereka.

Kemanusiaan itu dekat dengan nurani. Tanpa nurani, maka seorang pemimpin hanya akan bergerak dari sudut pandang bagaimana memuaskan kelompok yang paling menjanjikan membawa keuntungan baginya. Tanpa nurani, maka seorang pemimpin takkan lebih mementingkan bahasa yang manis daripada rencana terbaik bukan rencana yang paling mampu membuat rakyat tergoda.

Jika boleh menghakimi, langkah politik Anies sepanjang perjalanan menuju Pilkada DKI jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Statusnya sebagai mantan menteri pendidikan, tapi dalam langkah politiknya justru ia tak terlihat mendidik.

Jika kesimpulan saya yang keliru. Silakan hakimi saya. Terpenting, terlepas Jakarta kerap divonis sebagai ibu kota yang lebih kejam dari ibu tiri, tapi kota ini masih punya harapan untuk dijalankan dengan nurani. Dengan catatan, jika nurani seorang calon pemimpin telah mati, ia bisa menghidupkannya lagi. Sedangkan jika sudah ada pemimpin yang sudah bekerja dengan nurani, tak pernah membiarkan nyala nuraninya meredup, melainkan dapat lebih bersinar.

Jika sudah begitu, besar harapan, kelak Jakarta tak lagi memperlihatkan wajah yang lebih kejam dari ibu tiri, tapi kota ini dapat menjadi ibu yang menatap anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Entah anak itu lebih besar atau paling kecil, anak-anak itu dapat dibesarkan dengan adil dan sepenuh kasih sayang. 

Ya, Jakarta butuh kekuatan selayaknya seorang ibu, yang dikuatkan dengan cinta seorang ayah. Jakarta tidak butuh ayah bernaluri menipu, memasang wajah manis di depan anak-anaknya, namun hanya memikirkan apa yang paling menyenangkan dirinya saja.*
Posting Komentar
Adbox