To Learn and Inspiring

Pengunjung

Menjadi Pemilih yang Adil di Pilkada Jakarta

Hanya tinggal menghitung hari rakyat di DKI Jakarta kembali akan memberikan pilihan mereka kepada mereka yang dinilai paling pantas memimpin. Di luar seberapa penting para kandidat yang akan dipilih, bagaimana sikap calon pemilih akan jauh lebih penting.

Entah yang terbaik atau yang terburuk nantinya yang akan terpilih, yang jelas takkan dapat lepas dari siapa yang memilih dan apa motifnya untuk memilih. Juga, bagaimana para pemilih melihat calon yang akan dipilih.

Sekadar memilih karena alasan sesuku atau bahkan seagama, dan menutup mata pada yang telah dikerjakan dan apa yang dapat dikerjakan, itu sendiri sudah menjadi sebuah sikap yang buruk. Sebab, terlepas semanis apa pun yang dijanjikan seorang kandidat, bisa berakibat kepahitan jika rekam jejak dan pola pikir hingga kinerja mereka tidak dilihat dengan jernih.

Calon pemimpin yang bisa menjembatani kebaikan untuk semua warga, tanpa tersekat-sekat oleh urusan suku atau agama, adalah satu ciri yang baik dan itu dibutuhkan oleh DKI Jakarta.

Kenapa? Karena DKI bukanlah kota untuk satu agama, untuk satu suku, atau satu golongan. Di sini ada kemajemukan. Maka siapa yang bisa menjembatani semua elemen itu tanpa membenturkan satu dengan yang lain, itulah yang paling pantas untuk dipilih.

Jika seorang calon pemimpin, dalam perjalanannya meraih simpati sudah membenturkan suku hingga agama, maka sejatinya ia sudah mengorbankan hal paling vital dan bahkan berisiko fatal.

Apalagi dari sebelum terpilih pun sudah memamerkan dirinya, bahwa dia adalah paling pantas karena mewakili kalangan mayoritas saja, meremehkan yang berbeda, cuma mampu mengajak berkhayal karena belum ada bukti riil atas apa yang dapat dikerjakannya, maka ini adalah kandidat yang layak disebut sangat buruk: sangat tak pantas untuk dipilih.

Apalagi jika karena merasa berasal dari kalangan mayoritas, merasa pantas menyepelekan yang minoritas, dan membiarkan teror hingga intimidasi karena merasa berasal dari kelompok "paling kuat", mendukungnya sama artinya mendukung ketidakadilan. 

Kenapa? Jika di masa kampanye, misalnya, sudah mencederai perasaan umat minoritas, bukan tak mungkin itu dilakukan hanya sebagai langkah untuk merebut perhatian dan simpati dari kalangan mayoritas, dan kelak bukan tak mungkin dengan kalimat tersantun dimilikinya ia justru menipu yang telah memilihnya.

Maka itu penting, tak terbuai dengan kata-kata, tak terbuai dengan lipstick, tak tergoda dengan kemampuan seorang calon menebar pesona. Tapi pemilih pun harus betul-betul jeli melihat mana calon pemimpin yang bisa adil dan menunjukkan kepedulian kepada masyarakat kecil terlepas ia berangkat dari suku atau agama apa saja.

Jangan menyandarkan diri pada ketokohan,terlepas tokoh apa pun itu. Sepanjang apa yang diumbar tokoh tersebut hanya sesuatu yang abstrak yang lebih bersifat khayalan dan mimpi muluk, dan itu dijejalkan seraya menutup mata atas kualitas seorang calon dianjurkannya, tetap saja lebih baik kembali kepada kejujuran diri sendiri melihat; benar tidak yang diumbar sang tokoh? Atau, jangan-jangan ia hanya sedang "menjual kecap" saja.

Sebab, jika seorang sopir yang bermulut santun, tapi tak menguasai jalan, dan kurang peka memahami masalah kendaraannya, dan tidak cukup paham ke mana yang menjadi tujuan, maka memercayakan sebuah kendaraan kepadanya sama saja dengan mengizinkannya membawa pemilihnya ke jurang. Risikonya tak hanya hanya sebuah kendaraan bisa hancur, tapi penumpang di dalamnya pun bisa menjadi korban.

Jadi, pemilih yang adil itu adalah mereka yang menolak dibutakan penampilan dan ditulikan oleh kata-kata semanis apa pun. Pemilih yang mampu melihat dengan jernih dan mendengar dengan baik, akan lebih berani untuk memilih yang baik terserah kandidat tersebut berasal dari manapun; dengan latar belakang suku atau agama apa pun.

Sebab bukan rahasia lagi, berbicara fakta, sekadar menjadikan alasan seagama sebagai ukuran memilih, sudah cukup sering terjadi pemimpin yang beragama sama justru mencurangi dan bahkan menzalimi yang seagama.

Lihatlah daerah yang pernah memilih sekadar karena alasan seagama namun yang terjadi kemudian mereka justru hanya mampu membawa manfaatkan pada kelompok kecil saja; keluarga yang dekat dengannya atau kelompok yang terdekat dengannya.

Apa yang pernah terjadi Banten atau bahkan di Sumatra Utara, cukup menjadi bukti, bahwa kegagalan pemilih meraba dan membaca dengan jernih siapa calon terbaik, membuat pemilih tersebut justru membantu membuka jalan kepada perampok dan pencuri uang rakyat; uang yang datang dari pajak yang dibayar rakyat dengan keringat.

Percayalah, dalam politik, memang sangat banyak pemburu kekuasaan yang sejatinya adalah serigala namun siap memangsa setelah mampu merebut hati dengan senyum dibuat-buat dan mulut dimanis-maniskan.

Jadi, jika pemilih tak dapat adil dalam memilih, jangan bermimpi dapat menemukan pemimpin yang adil. Jika pemilih merelakan dirinya tertipu dengan penampilan dan kalimat manis sarat gombalan, maka penipuan itu akan terus terjadi dan makin leluasa berlanjut.

Ya, jika sebelum berkuasa seseorang sudah dapat menipu rakyat, bagaimana lagi jika ia sudah berkuasa? Tentu saja kesempatannya melanjutkan penipuan kian terbuka saja.

Jadi, seorang pemilih yang adil adalah pemilih yang tak membiarkan dirinya ditipu. Mereka yang tak ingin ditipu inilah yang berpeluang besar untuk tidak tertipu, dan tak sampai memilih penipu.

Memilih mereka yang belum pernah menunjukkan bukti apa yang sudah dikerjakan, sama artinya berjudi. Sedangkan berjudi hampir selalu lebih banyak menjanjikan kerugian daripada keuntungan.

Pemilih yang adil akan meletakkan sesuatu di posisi bebas dari dikte, dari hal yang samar-samar, atau dari pengaruh keramaian. Pemilih yang adil akan memilih masuk ke tempat penuh ketenangan, ke dalam nuraninya, dan tanpa kebisingan akan melihat siapakah yang berpotensi menipunya sebagai rakyat? Maka ia takkan memilihnya.

Kemudian, dalam ketenangan batinnya dan hati kecil, siapakah yang betul-betul meyakinkan dapat bekerja untuk rakyat, yang tak menabur janji terlalu manis, tapi telah menujukkan kinerja meyakinkan? Itulah yang pantas dipilih.

Sedangkan jika membiarkan diri dengan hal-hal yang berbau samar, tidak jelas, jangan heran jika nasib Jakarta di tahun-tahun mendatang akan lebih suram.

Jika ada calon pemimpin rajin membenturkan, membiarkan fitnah sebagai senjata kemenangannya, dan kita memilihnya karena alasan seagama semata saja tanpa melihat bagaimana dia bekerja, sama artinya telah memilih menjadi pemilih yang tak adil, dan jangan berharap yang terpilih nanti adalah pemimpin yang adil.

Pemimpin baik itu lahir dari mereka yang baik. Pemimpin yang adil lahir dari masyarakat yang adil. Apakah Pilkada DKI akan mampu memenangkan pemimpin yang baik dan adil? Akan menjadi bukti seberapa adil dan baik pola pikir para pemilih di sini.

Pemilih yang adil takkan dapat diintimidasi dengan sumpah yang diucapkan dengan golok di tangan. Pemilih yang adil takkan mau diancam dirinya akan dizalimi hingga ia mati karena direcoki takkan disalatkan. Pemilih yang adil akan memahami mana calon pemimpin yang culas dengan yang tidak, dan ia akan memenangkan pemimpin yang memiliki iktikad baik sekalipun berbeda "baju" dengannya.

Kalaupun ingin memilih berdasarkan agama, maka bukan apa yang menjadi agamanya, tapi apa yang dipesankan oleh agama. 

Semua agama menganjurkan memilih pemimpin yang adil dan yang dapat membawa kebaikan kepada rakyat, selain juga bisa menjamin keselamatan kepada semua kalangan, dan tidak mencederai amanah diembankan kepadanya. Jika nilai yang dipesankan agama itu melekat pada satu calon pemimpin, terserah ia beragama apa pun, maka ialah yang pantas dipilih.

Kenapa? Karena seorang pemimpin yang tidak memperdagangkan agama, tapi mau mengambil nilai baik dari agama, jauh lebih pantas untuk dipercaya. Sebab, ia tak ingin merendahkan agama hanya sebagai senjata kemenangan, ia takkan menjadikan agama sebagai taruhan, melainkan lebih memilih mengambil nilai mulia dari agama; memanusiakan manusia, adil kepada manusia, dan dapat dipercaya saat ia diberikan tanggung jawab besar.

Tanggung jawab besar hanya dapat dijalankan pemimpin berjiwa besar dan memiliki keberanian besar. Sedangkan calon pemimpin yang terlalu cepat berkepala besar karena merasa dari kalangan berjumlah besar, bermulut terlalu besar, takkan dapat melakuka  pekerjaan-pekerjaan besar. Sebab, kepala besar dan mulut besar, sudah menjadi beban yang menghalangi seorang calon pemimpin untuk melakukan pekerjaan besar.

Terakhir, terpenting mampukah kita melihat dengan jernih, mana pemimpin bermulut besar dengan pemimpin yang telah terbukti memiliki gagasan besar dan melakukan pekerjaan besar? Mampu, jika hati kecil, pikiran, dan nurani kita memiliki kejujuran besar.


Share:
Posting Komentar

Arsip Blog

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?