To Learn and Inspiring

Pengunjung

Membaca Pesan dari Seribu Bunga untuk Basuki Purnama

Ahok mendapatkan tanda cinta rakyat kepadanya lewat bunga - Gbr: Jessi Karina/KOMPAS.com
Hari Rabu, saat kalender sudah menunjuk ke angka 26 April 2017, satu hal berbeda terpampang di Jakarta. Ribuan bunga memenuhi balai kota, membeludak hingga mengarah ke Monumen Nasional, saking tak dapat lagi tertampung di halaman tempat gubernur di ibu kota sehari-hari bekerja. Ada apa di balik ini?

Sejatinya, pertanyaan itu tidaklah terlalu penting. Tapi, menjadi penting lantaran begitu banyak juga yang masih mempertanyakan alasan di balik bertaburannya bunga-bunga tersebut hingga ke jalanan seputaran balai kota yang memang berdekatan dengan Monas tersebut.

Bunga itu sendiri penting. Ia mewakili keindahan, aroma yang harum, hingga pengaruh kepada siapa saja yang melihat atau menghirup wanginya. Dari ungkapan cinta hingga upacara kematian, kerap kali tak dapat dilepaskan dengan bunga.

Tapi bunga yang belakangan ini mewarnai balai kota dan ditujukan kepada Basuki Tjahaja Purnama mewakili dua hal; cinta sekaligus terima kasih.


Cinta jelas bukan sesuatu yang hanya pantas dirasakan oleh mereka yang tertarik kepada lawan jenis. Melainkan cinta juga menjadi sebuah bentuk perasaan paling mendalam dari yang dapat dirasakan manusia, yang sering mewakili sesuatu yang positif; entah perasaan anak kepada orangtuanya dan sebaliknya, atau bahkan perasaan pemimpin kepada rakyatnya dan sebaliknya.

Terkait Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama, ia telah menerima cinta dalam bentuk kedua; perasaan rakyat kepada dirinya. Di saat ia diterjang oleh berbagai macam fitnah dan tuduhan, cinta rakyat yang dipimpinnya menjadi pengobat paling penting bagi dia.

Silakan membuka sejarah, ada berapa banyak pemimpin yang menapaki pintu keluar dari istana kekuasaannya dengan taburan bunga? Yang sering terjadi, dan hampir selalu, adalah mereka dikalungi bunga menjelang menaiki tahta kekuasaan, namun disambut rutukan bahkan hingga mereka mati.

Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia, memang tercatat sebagai seorang figur pemimpin yang sangat dicintai rakyatnya. Namun, ia sendiri tak mendapatkan kesempatan untuk melihat cinta itu dengan leluasa di akhir kekuasaannya, karena musuh politiknya telah membuat cinta rakyat dengan pemimpinnya terpisah tembok tebal.

Dalam kasus Ahok, ia juga menjadi korban lawan politiknya yang telah menjegalnya dengan segala cara, namun kecintaan yang luar biasa dari rakyat telah mengobati luka dari pertarungan yang baru saja dituntaskannya. Sebab, penggantinya yang diusung mereka belum tentu akan mendapatkan cinta sebesar yang didapatkan Ahok, kelak di akhir kekuasaannya.

Setidaknya, fenomena bahasa cinta yang diungkapkan lewat bunga kali ini sekaligus menjadi pesan bagi penggantinya nanti; pemimpin dihargai bukan semata karena seberapa mampu menabur bahasa yang manis, melainkan seberapa mampu meninggalkan kesan manis kepada rakyat lewat pekerjaannya.

Sebab jelas, sekadar berbahasa indah, cukup hanya dengan membuka mulut, sedangkan untuk bekerja dan meninggalkan hasil yang indah membutuhkan tenaga, pikiran, dan terpenting lagi harus membuka hati dengan cinta yang juga besar. Sebab, hanya ketika pemimpin dapat menunjukkan cinta lewat pekerjaannya, maka ia mendapatkan balasan cinta dari rakyatnya.*

Share:
Posting Komentar

Arsip Blog

Artikel Apa yang Anda Ingin Diperbanyak di Situs Ini?